Langsung ke konten utama

Seperti Katak dalam Tempurung

Dalam sebuah obrolan santai di kantor.. 🏢

Seorang perempuan usia 30an bercerita tentang pengalaman mengajarnya sebelum menekuni dunia accounting. Ia sempat mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar selama beberapa waktu. Pengalaman mengajarnya sehari-hari membuatnya berpikir panjang dan keras untuk keluar dari dunia pendidikan. Pergaulan yang (*menurutnya) terbatas dengan murid dan wali murid seolah mengurungnya dalam pergaulan yang sempit. Ia tidak dapat bergaul dengan orang dari beragam status sosial, karakter dan latar belakang. Bagaimana ia bisa memiliki pergaulan yang luas jika hanya mengajar di bimbel atau les privat. Memikirkan kebutuhan untuk bersosialisasi, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja dibagian accounting sebuah perusahaan.

Semakin bertambah usia seseorang, kebutuhannya bertambah tetapi esensinya menjadi lebih sederhana dan realistis. Pernikahan, keluarga, pekerjaan, tempat tinggal adalah hal-hal yang sudah tidak perlu dipusingkan diusia kepala 3. Kita tidak lagi berkompromi apakah saya bisa membeli rumah? Apakah saya bisa menikah dalam waktu dekat? Apakah saya bisa bekerja di kantor ini sampai usia saya diatas 60? Perlahan, keinginan dalam hidup yang digagas diusia 20an menemukan jalan realisasinya sendiri. Hal absurd masa muda memasuki waktu kadaluarsanya. Diusia 30an, seseorang sudah tidak banyak protes soal kriteria pekerjaan atau pasangan. Jika bisa menjalaninya kenapa tidak dijalani? Sebuah artikel yang membahas pernikahan menyebutkan bahwa "tidak peduli apakah sekarang saya dan dia begitu berbeda dalam hal gaji, karakter, pemikiran dsb, selama ada komitmen untuk hidup berdua maka apa yang disebut similarity effect akan menemukan jalannya sendiri. Hal ini (*similarity effect) adakalanya tidak didapat diawal pernikahan. Kadangkala setelah puluhan tahun menikah, barulah mencapai similarity effect. Jadi memaksakan keadaan untuk stabil saat memulai bahtera rumah tangga adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak realistis".

Setiap orang pastilah memiliki motivasi eksternal yang berbeda satu dengan yang lain. Orangtua, pasangan, menjadi significant others yang membuat kita bertahan dalam sebuah pekerjaan. Kita membutuhkan mereka seperti mereka membutuhkan kita. Perempuan yang menganggap bahwa mengajar membatasinya dalam pergaulan mungkin tidak selamanya benar. Banyak diantara teman perempuan saya yang mengajar di SD, SMP, SMA tetap bisa berhubungan dengan dunia luar. Bahkan lebih luas pergaulan mereka ketimbang saya yang dulunya aktivis BEM. Mereka memiliki teman dari berbagai kalangan dan latarbelakang. Mereka memiliki orang-orang yang diperjuangkan dalam hidup dan mereka tidak membutuhkan semua orang untuk membuat mereka bahagia. Saya tidak menyalahkan teman saya, sama sekali tidak. Hanya saja saya memiliki pemikiran yang berbeda darinya.

Lalu, apakah yang membuat kita seolah seperti katak dalam tempurung? Bukan pekerjaan. Pekerjaan tidak pernah mengurung kita. Pikiranlah yang membatasi kita. Apabila pekerjaan menghalangi pergaulan kita, tengoklah ada berapa teman kita yang mengajar lalu menikah dengan tentara, polisi, pengusaha, dokter. Tengoklah berapa banyak kenalan kita yang kemudian pindah ke Aceh, Sulawesi, Maluku hingga luar negeri demi mengikuti pasangan mereka. Seorang ibu rumah tangga pun bisa bergaul dengan banyak kalangan andaikan ia mau mengeksplor kemampuan diri. Alternatif pilihannya adalah mengikuti komunitas hobi (*memasak, merajut, membuat barang kerajinan), bergabung d LSM, menjadi relawan atau aktif dikegiatan PKK. Apakah itu bukan pergaulan yang lebih luas dan tidak berkelas? Toh mereka bukan sembarangan orang yang tidak berprestasi, melakukan hal buruk dan merugikan orang lain. Kita punya pilihan selama kita mau membuka mata.

Kemudian saya melihat diri sendiri dan merenungi satu demi satu pilihan hidup saya. Semuanya memiliki resiko yang bervariasi. Begitupun ketika saya melihat teman-teman yang tetap tangguh dengan pilihan mereka. Ketika diri kita terbuka dengan hubungan antar personal, rasanya kita tidak memerlukan semua orang agar kita merasa bahagia. Berteman dengan siapapun akan membantu kita menemukan orang yang tepat. Dari semua teman yang ada, kita bisa memilih mana-mana yang mengajak kita kepada kebaikan dan manfaat.

Sekali lagi,
Kita tidak perlu bergaul dengan semua orang dan kalangan untuk membuat kita eksis dan bahagia. Tuntutan seperti itu justru mengekang kita untuk tidak puas/kurang bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang karena kita selalu mencari dan mencari. Padahal kebahagiaan itu ada dalam diri kita dan disekeliling kita.

Be well 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...