Langsung ke konten utama

Keep Silent

Cuaca lumayan terik diangka 11.20 am dengan banyaknya calon penumpang di halte TransJakarta. Lebih dari 5 bus yang bertuliskan "TIDAK MELAYANI PNP" melaju tanpa berhenti. Sempat berpikir bus yang saya tunggu tidak beroperasi hari itu. Namun saya yakin ada bus yang beroperasi ke lokasi yang saya tuju.

Seorang ibu menjinjing tas berdiri dibelakang saya. Ia sempat menanyakan bus yang ditunggu dengan sedikit kesal. Berusaha menyalurkan kekesalannya dengan komentar yang tidak perlu kepada calon penumpang lain. Ia mengeluhkan bus yang tidak secepat yang diharapkan. Padahal belum menunggu lebih dari 5 menit. Beberapa penumpang lain yang datang hampir bersamaan dengan saya bahkan sudah menunggu lebih dari 10 menit. Mereka cemas menunggu tetapi mampu menahan diri untuk tidak protes dan mengeluh. Seorang pria membunuh kebosanan dengan bermain smartphone. Mbak-mbak dengan tas cangklong celingukan melihat setiap bus yang terlihat dari kejauhan. Yang lain terus melihat jam tangan, menghela nafas atau cemberut seperti saya. Saya cemas dan mereka cemas dalam penantian mereka. Mereka tahu bahwa tetap tenang adalah satu-satunya hal paling logis yang bisa dilakukan. Maka mereka lebih baik diam dan tidak banyak mengeluh yang membuat orang disekitar suntuk.

Saya sepakat dengan dosen yang mengatakan bahwa mengeluh adalah tindakan paling tidak efektif. Hal itu sama sekali tidak membantu apa-apa karena memang tidak menyelesaikan pokok permasalahan yang ada. Seseorang yang mengeluh justru memperparah situasi dan menularkan emosi negatif bagi orang disekitarnya. Kalau mau menanyakan satu per satu orang yang tengah menunggu bus, barangkali ada yang terancam dipecat karena terlambat masuk kantor. Namun mereka memilih untuk tenang dan diam menikmati sebuah penantian. Tidak perlu melontarkan kalimat yang cenderung memaki atau memprotes. Sungguh tidak perlu dan memang tidak membantu apa-apa.

Bus yang datang terlambat merupakan contoh keadaan yang tidak diharapkan. Banyak orang yang menuntut situasi harus begini dan begitu persis seperti harapannya. Kalau menunggu 10 menit saja kita sudah protes dan mengeluh, bagaimana dengan persoalan yang lebih besar? Bagaimana ketika kita dihadapkan pada situasi yang lebih menyita waktu, lebih melelahkan, lebih menguras energi dan memerlukan pengorbanan yang lebih besar? Ini baru perkara menunggu bus yang tidak sampai hitungan jam. Tidak perlu kita mahir program komputer, jago menembak atau berpengalaman menghadapi peperangan. Kita hanya harus berdiri, tenang dan berpikir positif.

Ibu-ibu tersebut mendapatkan bus lebih cepat dari saya. Beberapa menit kemudian bus saya datang dengan penumpang yang sudah banyak. Akhirnya saya duduk diundakan bangku paling belakang bersama Mas-mas berkemeja digulung dan celana selutut. Menyadari bahwa saya duduk diatas mesin yang hangat, saya hanya bisa menggumam "OKE, INI JAUH LEBIH BAIK DARIPADA BERDIRI DENGAN NOT FLAT SHOES"  👠👠

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...