Langsung ke konten utama

Selftalk dan Me Time

Buku bersampul cokelat manis itu menarik perhatian saya. Di sebuah rak buku keponakan yang sudah bertahun-tahun saya letakkan disitu. Dibeli Desember 2009 silam, saya sudah lupa isinya apa. Bab terakhir dari buku tersebut berjudul "Pulang". Sejenak saya intip dan baca biografi penulisnya kemudian saya letakkan kembali.

Sampul buku itu menarik perhatian saya lagi setelah maghrib. Ada gambar seorang lelaki tua mengayuh sepeda dengan keranjang dibelakangnya. Ingatan saya langsung terbuka ke masa SMP dan SMA dimana setiap hari saya naik sepeda ke sekolah. Berangkat sekitar jam 6 pagi membuat saya bisa menghindari kemacetan dan udara panas. Cuaca yang sejuk dan segar begitu menyenangkan. Ditambah dengan pemandangan sawah dan orang yang beraktivitas di pagi hari membuat momen berangkat sekolah menjadi sibuk. Bila saya pulang sore selalu ada semilir angin yang menghilangkan penat. Ada orang-orang yang pulang kerja atau pulang membawa aneka macam hasil berkebun disawah. Sesekali matahari menggantung di ujung barat jika saya pulang terlalu sore. Meskipun berkeringat sesampainya di sekolah atau di rumah, ternyata bersepeda juga mengurangi kepenatan. Selama 30-45 menit durasi perjalanan dari rumah ke sekolah, saya bisa berbicara dengan diri saya sendiri. Selftalk (*berbicara kepada diri sendiri) mengenai pelajaran yang menyenangkan, guru-guru yang kurang kompeten (*eh), rencana hidup ke depan, masalah dengan teman, dan apapun yang sedang dihadapi.

Anak muda jaman now menyebutnya 'me time'. Dimana kita menikmati waktu yang ada seorang diri. Hanya sendiri. Me time bisa berupa aktivitas seperti membaca, olahraga, merawat diri, melakukan perjalanan, atau pergi ke suatu tempat. Mungkin karena terbiasa berangkat dan pulang sekolah sendiri, sampai sekarang agak canggung jika bepergian dengan teman. Saya bisa menulis di dalam bus, diatas kapal, atau di kereta jika bepergian sendiri. Kalau bepergian dengan teman, biasanya sharing soal hidup dan kehidupan sambil curhat. Meskipun sama menyenangkannya jika bepergian dengan teman, saya lebih sering me time dalam perjalanan seorang diri.

Selftalk dan me time menjadi kebutuhan yang (*saya pikir) harus dipenuhi. Selftalk membuat kita mampu mengurai setiap persoalan dengan lebih baik. Kita memikirkan baik buruk sikap yang akan diambil. Dengan demikian, kita tidak tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu dan sudah sesuai dengan keadaan kita. Me time membuat kita rehat sejenak dari hiruk pikuk hubungan interpersonal. Kadang jiwa kita pun bisa lelah setiap hari menghadapi beraneka rupa karakter orang di sekitar. Kita menikmati aktivitas untuk diri kita sendiri dimana kita sudah seharian disibukkan dengan pekerjaan yang menguras energi dan orang-orang yang nano nano.

Sampul cokelat itu mengingatkan saya yang sudah lama tidak naik sepeda. Hampir 10 tahun yang lalu sejak lulus SMA saya sudah tidak naik sepeda. Saya lupa rasanya berkeringat, ngos-ngosan, memompa ban yang kempes atau mendorongnya ketika menaiki tanjakan yang agak tinggi. Selftalk dan me time diganti dengan perjalanan di bus yang menghabiskan waktu berjam-jam.

Apakah hari ini lebih menyenangkan? Tentunya semua hal ada masanya. Semakin beranjak usia, semakin mengerti betapa hidup adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti salmon yang diceritakan Raditya Dika. Mereka berpindah untuk bertahan hidup. Dari bersepeda lalu naik bus, itu juga perpindahan dalam rangka bertahan hidup.

Akan kemana hidup membawa saya? Biar Tuhan tunjukkan jalannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...