Langsung ke konten utama

Geliat Kota Pelabuhan (*Masa Lampau)

Hari ini saya mengunjungi Museum Kebaharian untuk pertama kalinya. Terletak di kawasan Penjaringan Jakarta Utara, museum ini benar-benar berada disepanjang aliran sungai Ciliwung. Jika menggunakan Transjakarta atau Comuter Line kita dapat berhenti di Halte/Stasiun Kota. Baru kemudian bisa menggunakan armada online agar lebih efisien. Lazimnya museum yang terletak di kawasan teluk, nuansa kapal dan aktivitas pergudangan begitu kental disekitaran sini.

Gedung utama terletak terpisah dari menara syahbandar tempat saya turun. Setelah bertanya kepada petugas, saya cukup berjalan kaki dari menara tersebut. Ada kesedihan yang tiba-tiba mencuat dalam hati begitu memasuki lobby gedung. Bangunan eropa yang dibangun 1700an ini sudah di rehab sedemikian modern sehingga tetap mentereng disebelah Ciliwung. Namun sepiiiiii. Pengunjung yang ada saat itu entah ada atau tidak. Saya mengisi buku tamu dan nampaknya hari itu pengunjungnya sedikit. Mungkin karena weekdays dan tengah hari yang panas dan menyengat. Petugas bersliweran santai sambil menikmati istirahat siang.

Saya memulai rute pertama dari spot terdekat ticket box. Ruangan yang mungkin berukuran serupa aula tersebut memajang replika kapal dari seantero negeri. Dari Indonesia bagian barat hingga timur memiliki armada laut yang terlihat kokoh. Batavia yang menjadi primadona pelabuhan teramai di Indonesia pada masanya mendominasi koleksi ruangan tersebut. Makassar atau nama lamanya Ujung Pandang menjadi kota pelabuhan tersibuk, termegah dan teramai di Indonesia bagian timur bahkan sampai sekarang. Koleksi kapal dari Makassar cukup beragam dan terdapat informasi yang cukup menambah wawasan. Di ruangan lain masih di lantai 1, kita disuguhi informasi maket kota pelabuhan dan perkembangannya dari waktu ke waktu. Seharusnya suasana museum yang minim pengunjung bisa menambah kekhusyukan kunjungan. Namun ini sungguh-sungguh sepi. Ketika saya berjalan keluar ruangan kedua, ada sepasang turis mancanegara asyik berswafoto diantara perahu-perahu yang lebih modern.

Kebakaran yang terjadi sebulan lalu masih terlihat di sudut komplek museum. Puing hitam yang tidak dapat ditutupi dan masih dalam tahap renovasi bisa dilihat dari lantai 1. Waktu itu sirine damkar nyaring terdengar dan saya sedang berada di Pademangan. Cukup dekat dan merasakan beberapa mobil damkar sibuk mengejar waktu. Banyak traveller dan penikmat museum menyayangkan insiden kebakaran tersebut dan berharap pengelola dapat merenovasi gedung yang terbakar.

Di lantai 2 kita dimanjakan dengan diorama tokoh dunia yang sempat menorehkan kisah di Batavia. Sebut saja Fatahillah, Ibnu Batutah, Fa Hien, Hitoshi Imamura, Vasco d Gama dan Lancester yang tidak asing ditelinga kita. Andai waktunya cukup, satu per satu biografi singkat dari beberapa tokoh tersebut mau saya baca. Apa daya, waktu yang terbatas membuat saya harus menikmati diorama tersebut sekilas lalu. Disebelah ruang diorama kita dapat menikmati koleksi perpustakaan Museum Kebaharian. Genrenya tidak melulu soal kapal dan laut. Kita dapat menemukan majalah, peta perang jaman dahulu, ensiklopedi, dan album kegiatan yang diadakan pengelola museum. Saya merasakan desain ala Jepang didalam perpustakaan meskipun hanya ornamen sekat kayu yang dibuat kotak-kotak dan keseluruhan furniture memang dari kayu yang menambah kesan natural.

Gedung tengah museum digunakan sebagai aula dan kantin. Lalu jika kita melewatinya masih ada gedung yang menampilkan koleksi lain museum. Disini kita bisa melihat biota laut yang diawetkan dan beberapa gerabah dalam lemari kaca. Tidak banyak memang tapi cukup memenuhi ruangan dan lemari kaca.

Dari lokal utama museum saya beranjak ke menara syahbandar untuk naik dan melihat sekeliling teluk. Nuansanya begitu chineese dengan cat merah dan hijau mendominasi tangga dan jendela. Naik ke menara yang tidak terlalu tinggi ternyata membutuhkan energi yang cukup banyak. Selain cuaca yang cerah lewat jam makan siang dan sejam lebih berkeliling museum membuat saya kehabisan energi. Sampai di puncak menara angin langsung menyirnakan letih saya. Bising kendaraan berat, pemandangan teluk Jakarta, dan lelah memgaburkan kondisi saya yang seorang diri diatas menara. Sejauh ini saya menikmati perjalanan ke Museum Kebaharian. Pengelola menyambut tamu dengan baik, dilayani dengan ramah dan sempat menghadiahi saya peta wisata Jakarta.

Terimakasih 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...