Langsung ke konten utama

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri.

Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya.

Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk soto kuda.

Seperti adat masyarakat Sulawesi Selatan lainnya, rumah yang saya singgahi berupa rumah panggung sederhana. Memiliki tangga dibagian depan sebagai gerbang masuk dan tangga belakang untuk keperluan dapur dan kamar mandi. Ada beberapa pot bunga yang tergantung di teras. Bunga dengan daun berwarna-warni itu sangat cantik menjuntai di teras. Belum lagi tongkonan yang berdiri megah ditengah sebagai sentralnya. Rumah ini berdiri kokoh bersama 2 rumah lainnya dengan 1 tongkonan. Rumah lain ada disisi lain bukit. Kita bisa membayangkan betapa sunyinya situasi di sekitar rumah. Menjelang maghrib suara binatang mulai memenuhi telinga. Gelap menyelimuti semua sisi. Lampu-lampu didalam rumah dinyalakan. Apa suhu sudah menurun? Saya rasa belum.

Buka puasa berlangsung hidmat. Menikmati sayuran khas Tana Toraja dan ayam goreng bersama-sama. Kami sebagai tamu datang bertujuh dan tuan rumah 3 orang. Ada 10 orang dirumah, ramai bukan?

Meski berada di wilayah sepi dan agak jauh dari jalur kabupaten, jaringan internet masih bagus. Sinyal provider bisa digunakan dengan baik. Listrik pun menyala 24 jam. Air tersedia di bak penampungan. Sepertinya air disini lebih baik daripada di Enrekang dengan melihat tanah yang basah dan subur disekeliling rumah. Saya merasa nyaman berada disini dengan udara sejuk dan situasi yang tenang.

Sebagian masyarakat Toraja adalah penganut Kristen, sebagian lain Muslim. Upacara yang dihelat di Rembon mayoritas diikuti oleh keluarga nasrani. Keluarga muslim yang hadir lebih sedikit jumlahnya.

Upacara kematian di Tana Toraja terbilang mahal. Selain tidak terjadi setiap saat, keluarga harus menyediakan perlengkapan seperti binatang sembelihan, pemesanan tempat keluarga yang datang, akomodasi ke tempat upacara dan sebagainya. Waktu persiapannya bisa memakan waktu bertahun-tahun. Teman saya menaksir biaya untuk upacara kematian mencapai ratusan juta bahkan sampai milyaran. Coba bayangkan untuk menyimpan jenazah mereka harus memasukkannya kedalam peti dan diletakkan di tongkonan. Berapa biaya untuk membuat 1 tongkonan? Tergantung megah atau tidaknya bentuk dari tongkonan tersebut. Semakin megah, semakin besar biayanya.

Upacara kematian disertai dengan pemotongan kerbau dan babi ditengah lapangan. Ada pula kerbau yang disiapkan untuk pertarungan di arena terbuka. Kerbau yang keluar arena dinyatakan kalah. Ada lebih dari 10 kerbau besar dan kuat yang turut meramaikan acara. Arena yang tadinya sepi dipadati oleh masyarakat yang ingin menonton. Penonton yang mengenakan pakaian serba hitam dengan ornamen tenun toraja ramai bersorak. Mereka memenuhi pinggiran arena, diatas bukit-bukit dan pematang sawah. Kerbau pun dapat berlari ke arah mana saja. Itulah yang membuat heboh dan tegang penonton. Setelah mendapatkan pemenang, satu per satu penonton pulang. Ada yang membawa kaki babi dengan dipanggul berdua. Ada yang memasukkannya ke dalam karung.

Cerita menarik lainnya pasti begitu banyak. Setiap sudut Toraja memberikan cerita yang mengesankan. Ada ketenangan, ada kemegahan dan ada kebanggaan. Itulah Tana Toraja. Semoga ada kesempatan berjumpa kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...