Langsung ke konten utama

Surat untuk tahun ke 30

Jilvia Indyarti:
Untuk Diriku ketika Menapaki 30 tahun

Perempuan selalu mengkhawatirkan keriput dan usia 30an. Ini benar-benar poin yang cukup menggelisahkan nan merepotkan tapi tidak bagi perusahaan kosmetik. Keriput menjadi tantangan bagi pengembang untuk menghasilkan produk-produk anti-aging yang mutakhir. Disaat perempuan-perempuan muda menapaki usia matang mereka, perusahaan kosmetik menari diatas profit dan bersyukur atas keriput yang membuat kalang kabut kaum hawa.

Apakah semenyeramkan itu? Nyatanya tidak seburuk yang dibayangkan.

Usia 30an merupakan masa dimana perempuan mencapai titik puncak dari kecantikannya. Selain matang secara emosi, perempuan telah menemukan jalan hidupnya dengan memperoleh pekerjaan yang tetap, berkeluarga, dan melakukan aktivitas yang menantang sebelum angka 30. Atas fase hidup yang kompleks tersebut wajarlah jika perempuan yang telah matang secara fisik dan mental menunjukkan inner beauty-nya. Berbagai macam ujian dalam pekerjaan telah diperoleh dengan penuh perjuangan. Perempuan harus benar-benar berusaha untuk mencapai angka 30 dengan baik. Tentu setiap orang akan berbeda pengalamannya dengan yang lain. Pilihan hidup mengambil peran dalam hal ini.

Saya menulis ini ketika 26 tahun dan semakin panik dengan usia. Pekerjaan yang jatuh bangun menambah kegelisahan tersebut. Apalagi dengan status single yang masih bertahan hingga detik ini. Satu-satunya hal paling ajaib adalah keinginan untuk mengambil pendidikan. Bukan pilihan yang mudah memang. Penuh resiko yang berlangsung sampai seumur hidup. Benar-benar rumit.

Ada 4 tahun untuk merangkai cerita agar hidup lebih bermakna. Jujur saja, sekarang saya tidak punya ide realistis. Hanya optimis bahwa kesempatan selalu ada untuk mereka yang berusaha. Saya rindu kerja keras dan mati-matian. Bahkan sampai tidak tidur demi sebuah keinginan. Menjelang 30 yang saya tidak bisa prediksi akan datang dalam suasana yang seperti apa. Ada denyut optimis yang terus memberikan nyawa. Saya harus mencari segala macam usaha dan cara terbaik untuk memenuhi semua impian.

Mendadak saya tidak takut dengan kerutan. Artikel kesehatan dalam media online pernah membahas kerutan. Salah satu penyebab kerutan adalah tarikan otot di wajah akibat tertawa. Senyum tidak membuat otot wajah mengendur drastis. Berita baiknya adalah kerutan yang muncul boleh jadi karena kita selalu tertawa. Selain karena pertambahan usia dan perkembangan fisiologis. Saya merasa terhibur dengan pikiran tersebut. Ada baiknya tertawa selagi ada hal menggelikan dan lucu bagi kita. Itulah usaha untuk menjaga hidup agar tetap 'hore'.

Jika saya memasuki usia 30 semoga banyak hal telah diraih. Pasangan, anak, karir, orang tua  dan kehidupan pribadi yang sehat adalah harapan yang realistis. Demi semua itu saya harus mengerahkan seluruh daya dan upaya.

Selamat datang 30, semoga Allah ridha dan menggenapi semua ikhtiyar dengan takdir terbaik. Aamiin

With Love,
Jilvia Indyarti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...