Langsung ke konten utama

Believe Me, Time is Healing

Orang bijak berkata, "biarlah waktu yang menyembuhkan lukamu". Tidak peduli kamu akan butuh waktu setahun bahkan seumur hidup. Biarkan waktu memberimu cukup pemahaman atas semua luka yang ada. Kamu kuat tetapi kekuatanmu bukan untuk meratapi luka, yang lebih sering diperparah oleh tangan sendiri.

Hari ini, seterik apapun matahari tidak akan membuatmu bersemangat. Paling hanya mengernyitkan dahi dan menutup mata dengan telapak tangan. Semenarik apapun keadaan diluar sana, bagimu lebih menarik berselonjor diruang pribadimu. Tanpa melakukan apa-apa. Tanpa memikirkan apa-apa. Rasanya berat sekali melampaui 12 jam di siang hari.  Selebihnya, kamu berlindung dibalik kenangan dan harapan. Benar-benar menyedihkan.

Satu hari terlampau, seminggu berganti bulan. Apakah lukamu sudah terobati? Aku tidak tahu. Kamu tidak mau tahu. Ketika aku bertanya, apakah masih sakit? Nafasmu mendadak tidak beraturan. Wajahmu tanpa sinar. Maka aku pun tahu. Hati itu masih berantakan.

Aku punya luka yang belum sembuh benar. Pada suatu waktu sempat meyakini, hidupku tidak punya harapan lagi. Minggu berganti bulan. Setiap bulan yang berhasil kulewati begitu kosong tanpa aura. Aku hidup asal bernafas. Sudah banyak bulan yang kulewati tanpa gairah. Sedangkan hati masih reaktif terhadap kenangan. Aku bisa tiba-tiba marah pada keadaan. Nafas yang naik turun dan airmata yang tak juga menetes. Begitu melelahkan. Sekalipun demikian, hal itu berulang lebih dari 5 kali.

Aku memohon kepada Tuhan agar bisa ikhlas menerima keadaan. Dia memberiku waktu untuk berusaha-jatuh-bangkit-pesimis-jatuh-bangkit-jatuh begitu berulang kali. Aku bosan. Hatiku tidak mau beranjak. Tuhan rindu dengan diriku yang terus meminta apapun pada Nya. Dia membolak-balikkan hati. Aku sering terdiam dan terduduk tanpa mengucapkan permintaan.

Suatu malam yang tak berhujan mengirimiku satu kesadaran. Dari sebuah gambar yang muncul di recent update aku terdiam. Kesedihan langsung menyelimutiku. Airmataku tumpah dan perasaanku begitu sedih. Gambar itu hanya beberapa balon yang difoto kemudian diberi tulisan. Satu kata. Satu kata itu cukup menusuk hati sampai berlubang. Kemudian aku menangis karena sedih yang teramat sangat. Semenit dua menit aku menikmati airmata dan perasaan yang berkecamuk.

Sebuah artikel tentang kekuatan menangis tiba-tiba muncul di ingatan. Bahwa dengan menangis kita melepaskan hormon atau zat pemicu stres. Setelah menangis kita akan merasa lega dan beban seolah luruh sedikit demi sedikit. Aku menangis dan menjadi lebih baik. Kuteruskan membuang airmata sampai kelelahan.

Satu kata itu, hanya satu kata. Aku beruntung telah disadarkan oleh Tuhan dengan cara yang manis.

PERGILAH..

Membuatku remuk tak berbentuk. Membuat nyaliku seolah menciut dan aku merasa tak memiliki apapun untuk dibanggakan.

PERGILAH.. 

Membuat airmataku yang tak bisa tumpah karena kemarahan meluap begitu saja.

Dia menyukaiku tapi tidak memilihku. Dia terkesan olehku tapi tak pernah berhasil membuatku terkesan. Dia mencintaiku tapi tak berani untuk membawaku bersamanya. Dia tidak memilihku tapi peduli terhadapku.

Aku remuk kemudian tersadar. Dia menyimpanku dalam sebuah kotak dimana dia menghargaiku dan menyayangiku sewajarnya. Meski kotak itu entah ada dimana. Aku bersyukur. Untuk apapun itu.

Ketika luka itu baru saja ditorehkan aku percaya, suatu hari aku akan paham cara kerja Nya. Jika aku baik-baik saja sebelum dia datang. Maka aku akan baik-baik saja ketika dia memilih pergi. Mungkin aku tidak tahu bagian hati mana yang terluka parah tapi aku yakin luka itu akan sembuh dengan pemahaman yang kuperoleh dari waktu.

Lukamu, biarkanlah sembuh dg sendirinya. Karena tubuh tahu cara menyembuhkannya. Begitupun hati dan jiwamu. Keduanya memiliki cara kerja yang tak pernah terbayangkan.

Seperti Tuhan yang diam-diam menyunggingkan senyuman karena aku telah mendapatkan sebuah pemahaman. Tuhan pun tersenyum padamu untuk mengajakmu berjalan bersama Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...