Langsung ke konten utama

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya".

Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa lalu apapun bentuknya. Tentu tidak begitu mulus dan tiba-tiba menikah. PR yang cukup berat adalah mengatasi trauma. Ya, menghilangkannya sekaligus tidak mungkin. Sekadar mengurangi kadarnya atau re-framing terhadap eksistensinya adalah coping terbaik. Sebelum saya memutuskan untuk menikah dengan seseorang, ada baiknya saya sudah berdamai dengan masa lalu yang tidak mengenakkan. 

Beban pekerjaan tidak begitu berat. Meeting, project, dan daily routine yang melelahkan mengantarkan saya pada burn out. Seolah performa menurun dengan begitu drastis, sebuah pertanyaan menggelitik dalam diri, "Are you OK enough to work?", Merantau setelah usia 18tahun benar-benar merubah sosok saya yang dulunya periang. Perlahan-lahan masuk rumah dan tidak berinteraksi dengan dunia yang penuh persaingan. Hidup hanya untuk hidup. Mimpi yang begitu tinggi pun tidak berani diucapkan. It's tiring to living alone, far from home and keep private life. Beberapa teman baik masih sering mengirimi pesan atau sekadar mengomentari status medsos. Seperti ada yang tidak beres atau saya sedang marah terhadap keadaan yang begini lagi dan begini lagi. Akhirnya memutuskan untuk mencari bantuan profesional di RS yang cukup terkenal di Semarang. 

Orang bilang biaya terapi atau sesi konseling tidak murah dan banyak saran untuk menggunakan BPJS yang terkoneksi dengan RS terdekat. Sempat sakit dan menggunakan BPJS, sepertinya rute terjangkau tidak bisa digunakan apalagi di kota sekecil ini. Akhirnya memberanikan diri mendaftarkan diri ke RS yang memiliki psikiater dengan komentar positif di kolom pencarian. 

It's quite expensive but wort it. Setelah 4bulan sesi konseling akhirnya saya tidak melanjutkan karena sudah jauh lebih baik dari awal sesi. Yang disayangkan, obat yang mahal itu tidak sampai habis bahkan menyisakan separuh lebih. Padahal itu jelas-jelas menghabiskan satu juta lebih sedikit. Bagi saya uang 1juta merupakan jumlah cukup banyak dan harus menyisihkan dari gaji yang tidak banyak.

*



  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...

It's time to REUNI

Gengs, pernah gak dateng ke acara reuni ternyata suasananya gak serenyah yang dibayangkan? Ngobrolnya cuma dua orang tiga orang, fokus ke smartphone masing² atau diisi dengan obrolan yang gak penting² banget buat dibahas. Ajang silaturahmi yang diharapkan keberkahannya justru menjadi momok bagi sebagian orang. Apa aja sih yang bisa kita siapkan buat dateng ke reuni selain budget dan bawa diri? Let's check the most important things to make our REUNI feel awesome.. 1. Memulai dengan yang ringan. Lama gak ketemu teman lama, bukan lantas kita bisa langsung menodong teman kita dengan pertanyaan berat. Mulailah dengan menanyakan perjalanannya sampai ke lokasi reuni, bertanya kabarnya, wajah yang lebih segar atau menanyakan kehadiran teman yang lain. Sajian pembuka yang ringan bisa membuat teman kita merasa disambut dan menciptakan suasana hangat bersahabat. 2. Hindari isu sensitif. Pertanyaan klasik seperti "kamu belum punya anak? Rencananya kapan?", "kerja dimana kamu...