Langsung ke konten utama

Postingan

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...
Postingan terbaru

Memasuki Kota yang Baru

Langit masih gelap kala itu. Dengan sayup-sayup adzan diujung pengeras suara menandakan shubuh sudah tiba. Masjid agung terlihat ramai pengunjung dengan mayoritas datang dari luar kota. Satu per satu orang masuk kebarisan shaf, mengikuti imam yang sudah lebih dulu bertakbir. Semuanya asing, serba baru. Berbicara tentang perpindahan, hal yang tidak bisa dikompromi adalah segala sesuatunya lahir dari keputusan diri sendiri. Setiap orang yang memutuskan untuk datang kesini tidak perlu lagi berkomentar tentang minimnya fasilitas, cuaca yang lebih terik, atau makanan yang rasanya amat jauh dari kecapan sehari-hari di tanah asal. Kita tidak pernah bisa memilih konsekuensi dari pilihan yang sudah kita buat. Tidak mungkin meminta enak-enaknya saja atau menghilangkan salah satu konsekuensi yang tidak kita inginkan.  Kita tidak pernah tahu cerita yang akan terjadi esok jika tidak pernah memulai hari ini. Apakah akan sama atau justru menampilkan banyak hal baru yang tidak terduga. Siapa yang ...

Sebuah Catatan Tentang Depresi

Jika depresi punya wajah, dia akan menampakkan sisi gelap dan terang. Seperti langit yang segera hujan dan yang tergambar adalah mendung yang menyelimut diatas kepala. Jila depresi punya wajah, kita seringkali melihat gelap dan dingin. Otak kita seolah sudah terprogram, hujan akan turun beberapa saat lagi. Kita diprogram untuk bersiap-siap menggunakan payung atau jas hujan. Sedikit sekali yang berencana menyambut tetesnya tanpa alat perlindungan diri. Jika depresi punya wajah, kita seakan menutupinya dengan logika aib. Dimana harus ditutup, harus disembunyikan dan segala sesuatu yang bermakna buruk. Hidup yang berat. Jika depresi bisa disembunyikan, semua orang akan terlihat senyumannya. Tanpa peduli mereka nyaris tak bernyawa dan hidup sekadar hidup. Kita bersama mereka tapi mereka tidak bersama kita. Muncullah duniaku, duniamu. Tidak terhubung satu sama lain. Secara emosi.

Random [sebuah puisi]

Detak jantung masih saja tidak beraturan meski sudah merapal doa paling dianjurkan. Dengan menyingkirkan lapar dan keringat pikirku akan membantu tetapi sama saja. Kekhawatiran yang berlebihan beradu kuat dengan kekecewaan. Lalu terbitlah situasi plin plan yang menggemaskan. Tuhan memberi petunjuk melalui youtube dengan relaksasi sebelum tidur, ceramah ulama yang suaranya lembut, program talkshow inspiratif hingga film bertemakan cinta dan remaja. Hasilnya? NIHIL Menyadari bebalnya diri seolah rasanya mau menyerah dam berhenti, tiba-tiba kamu lewat persis didepanku tanpa mau tahu. Sedetik dua detik terasa menyenangkan. Kemudian teriakan orang-orang mengembalikan kesadaran akan kekhawatiran, kekecewaan dan sedikit penyesalan. 🍁

Kebaikan. Kebaikan. Lagi lagi kebaikan

Akhir pekan yang cukup padat membuat saya pulang agak terlambat. Kolega di kantor yang tersisa hanya 2 orang ekspatriat yang tinggal di asrama. Mereka pulang setelah semua orang beranjak dari kursi dan langit sudah gelap. Saya shalat maghrib di kantor karena adzan sudah berkumandang 15 menit yang lalu. Kendaraan yang padat merayap di hari Jumat malam adalah situasi biasa. Ditambah lokasi kantor yang berdekatan dengan pintu tol membuat jalanan selalu ramai. Saya harus mengetok angkot karena supirnya tidak melihat saya memberhentikannya. Di kantong ada uang 5000 dan 2 koin 500. Jumlahnya cukup untuk sampai rumah. Teringat handphone yang baru saya beli 2 minggu sebelumnya dan kurang beberapa aksesoris, saya melaju sampai counter. Awalnya jengkel juga dengan pemilik counter yang tidak mengabari soal kekurangan aksesoris. Setelah bertanya penjaga counter, pemiliknya ramah menyapa. Saya tidak jadi untuk marah atau komplain. Kadang perlakuan kita mempengaruhi reaksi orang lain ya. Bersikap ...

HARGAI FASEMU

Di sebuah perjalanan pulang kerja dalam sebuah angkot. Seorang laki-laki muda 20tahunan melintas. Mengenakan celana selutut dan kemeja dengan ransel di punggung. Didalam angkot saya bersama dengan beberapa anak SMA yang mengenakan seragam. Kebetulan angkot yang saya tumpangi melewati pintu tol. Berhamburan pekerja-pekerja pabrik dari sebuah bus antar jemput karyawan. Saya mengingat bagaimana dulu ketika kuliah. Begitu bangganya dengan status mahasiswa meski minim prestasi. Kuliah, pergi ke perpustakaan, mengikuti seminar/pelatihan, bahkan turun ke jalan sama sekali bukan hal yang ajaib. Lelahpun terbayar dengan banyaknya teman dan sesekali curhatan bebas entah beretika atau hanya melepaskan keruwetan pikiran. Tapi saya merasa keren dengan semua itu. Merasa beruntung dengan banyaknya kemudahan hidup. Semua hal yang terjadi bukan tanpa campur tangan Tuhan. Saya keren, apalagi Tuhan saya yang membuat saya keren. Pasti jauh jauh jauh lebih keren dari semua bayangan saya. Melihat orang-or...