Langsung ke konten utama

Memasuki Kota yang Baru

Langit masih gelap kala itu. Dengan sayup-sayup adzan diujung pengeras suara menandakan shubuh sudah tiba. Masjid agung terlihat ramai pengunjung dengan mayoritas datang dari luar kota. Satu per satu orang masuk kebarisan shaf, mengikuti imam yang sudah lebih dulu bertakbir. Semuanya asing, serba baru.

Berbicara tentang perpindahan, hal yang tidak bisa dikompromi adalah segala sesuatunya lahir dari keputusan diri sendiri. Setiap orang yang memutuskan untuk datang kesini tidak perlu lagi berkomentar tentang minimnya fasilitas, cuaca yang lebih terik, atau makanan yang rasanya amat jauh dari kecapan sehari-hari di tanah asal. Kita tidak pernah bisa memilih konsekuensi dari pilihan yang sudah kita buat. Tidak mungkin meminta enak-enaknya saja atau menghilangkan salah satu konsekuensi yang tidak kita inginkan. 

Kita tidak pernah tahu cerita yang akan terjadi esok jika tidak pernah memulai hari ini. Apakah akan sama atau justru menampilkan banyak hal baru yang tidak terduga. Siapa yang hendak bertaruh nasib? Siapa yang hendak mencoba? Apakah kita memiliki hal-hal yang rentan hilang ketika hidup benar-benar menjatuhkan ke titik nadir? Semua orang ternyata bertaruh apapun demi menjalani hidup yang seperti adanya hidup. Ini bukan waktunya bermanis-manis membuat rencana agar bisa bertahan. Toh tidak akan ada yang menahanmu disini kecuali diri sendiri dan tagihan demi tagihan yang harus dibayar. 

Langit pernah hujan, seringkali terik diatas kepala. Terbangun oleh adzan shubuh yang nyaring cukup membantu ritme hidup yang baru. Hari yang melelahkan dimulai dengan satu surah yang menenangkan. Sungguh tangguh orang di luar sana yang rela bangun pagi, bepergian ke luar kota setiap hari demi nafkah yang mungkin harus dipaksa cukup setiap bulannya. Tidak ada yang bersantai di tempat yang jauh dari rumah yang nyaman. Dimana letak bahagia? Bukan dari senyum setiap hari yang mengembang. Apalagi dari lezatnya makanan yang dilahap setiap hari. Mata yang terbuka, lalu seharian berjuang selalu menerima bahwa hidup tidak mudah tetapi masih bisa dijalani dengan tabah. Mereka pergi dan pulang dengan harapan yang penuh dan hati yang teguh.

Burung-burung hinggap diantara besi yang menyembul keluar dari sisa bangunan yang belum selesai. Bebas dengan tujuan yang jelas. Mereka hidup di tengah kota yang orang bilang serba terbatas. Maka, akupun bisa bertahan seperti burung-burung yang hinggap diantara besi-besi dan makan dengan hati yang tenang. Tanpa khawatir akan kelaparan atau kehabisan energi untuk berjuang. Semua orang bisa bahagia dan hidup selayaknya. Tentu pilihan demi pilihan akan tersedia selama tidak menutup pintu rapat-rapat. 

Perpindahan memang melelahkan, bahkan membuat cemas. Semuanya serba abu-abu dan kamu tidak tahu harus merasa seperti apa. Berhenti bertanya apakah menyenangkan, apakah semuanya baik-baik saja? Kamu bingung, kamu berekspektasi semuanya dibawah kendalimu. Tapi hidup tidak sesederhana itu diatur tanganmu yang sangat mungil. Lalu apa yang bisa dilakukan selayaknya manusia selain berusaha untuk tetap ada? Eksistensi membutuhkan pengorbanan yang tidak murah dan kamu tidak pernah memilih untuk mundur dari arena. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...

It's time to REUNI

Gengs, pernah gak dateng ke acara reuni ternyata suasananya gak serenyah yang dibayangkan? Ngobrolnya cuma dua orang tiga orang, fokus ke smartphone masing² atau diisi dengan obrolan yang gak penting² banget buat dibahas. Ajang silaturahmi yang diharapkan keberkahannya justru menjadi momok bagi sebagian orang. Apa aja sih yang bisa kita siapkan buat dateng ke reuni selain budget dan bawa diri? Let's check the most important things to make our REUNI feel awesome.. 1. Memulai dengan yang ringan. Lama gak ketemu teman lama, bukan lantas kita bisa langsung menodong teman kita dengan pertanyaan berat. Mulailah dengan menanyakan perjalanannya sampai ke lokasi reuni, bertanya kabarnya, wajah yang lebih segar atau menanyakan kehadiran teman yang lain. Sajian pembuka yang ringan bisa membuat teman kita merasa disambut dan menciptakan suasana hangat bersahabat. 2. Hindari isu sensitif. Pertanyaan klasik seperti "kamu belum punya anak? Rencananya kapan?", "kerja dimana kamu...