Langsung ke konten utama

Kebaikan. Kebaikan. Lagi lagi kebaikan

Akhir pekan yang cukup padat membuat saya pulang agak terlambat. Kolega di kantor yang tersisa hanya 2 orang ekspatriat yang tinggal di asrama. Mereka pulang setelah semua orang beranjak dari kursi dan langit sudah gelap. Saya shalat maghrib di kantor karena adzan sudah berkumandang 15 menit yang lalu.

Kendaraan yang padat merayap di hari Jumat malam adalah situasi biasa. Ditambah lokasi kantor yang berdekatan dengan pintu tol membuat jalanan selalu ramai. Saya harus mengetok angkot karena supirnya tidak melihat saya memberhentikannya. Di kantong ada uang 5000 dan 2 koin 500. Jumlahnya cukup untuk sampai rumah. Teringat handphone yang baru saya beli 2 minggu sebelumnya dan kurang beberapa aksesoris, saya melaju sampai counter.

Awalnya jengkel juga dengan pemilik counter yang tidak mengabari soal kekurangan aksesoris. Setelah bertanya penjaga counter, pemiliknya ramah menyapa. Saya tidak jadi untuk marah atau komplain. Kadang perlakuan kita mempengaruhi reaksi orang lain ya. Bersikap baiklah terlebih dahulu dan lihat betul situasinya sekarang. Mungkin kejengkelan kita hanya karena ketidaktahuan semata. Entah cuma trik penjualan atau memang si pemilik berbaik hati memberi bonus. Dia memberikan tongsis gratis untuk saya. Sebenarnya dipikir-pikir saya seharusnya dapat bonus yang lebih dari sekadar tongsis lho. Memory card mungkin akan sebanding dengan harga handphone saya. But please, ini contoh pelanggan yang kurang bersyukur. Berhubung pemiliknya lumayan ramah, saya terpaksa berbincang lebih lama sambil menunggu handphone dihandle penjaga counter.

Di tempat saya tinggal, ada begitu banyak pondok pesantren yang berkembang. Lokasi tepatnya sebagian besar memasuki perkampungan yang harus diakses dengan naik ojek. Saya pulang naik angkot yang berisikan ibu-ibu, santri, anak muda usia 20an dan bapak pulang yang baru pulang kerja. Sayangnya uang saya tidak ada kembalian. Supir angkot mana mungkin menukar keluar, dia bertanya pada penumpang lain apakah memiliki uang receh. Tak ada satu pun yang memilikinya. Ada seorang santri yang berinisiatif membayarkannya. Katakanlah saya harus membayar 3000rupiah, dia berbaik hati menawarkan diri untuk membayarnya. Tidak saling kenal, bahkan tidak saling menyapa. Situasinya mengalir begitu saja. Saya yang agak bingung merasa tertolong. Pertolongan sederhana yang benar-benar membantu. Saya punya uang yang lebih besar dari 3000 tapi uang saya tidak berguna saat itu. Aneh ya? 🤔 Sesuatu yang membuat otak berpikir keras, bagaimana bisa? Namun saya sangat bersyukur karena masih ada orang yang bersedia membantu sekalipun tidak kenal.

Mengingati ini saya pernah mengalami kejadian serupa dengan posisi sebaliknya. Dalam perjalanan ke kantor tinggallah saya dengan seorang perempuan di angkot. Uangnya 100 ribu yang mana supir angkot tidak memiliki kembalian karena baru berangkat dari rumah. Dialog keduanya singkat tapi tidak menyelesaikan persoalan. Akhirnya saya memberikan 10 ribu kepada supir angkot. Habis perkara. Saya turun sebelum perempuan tadi turun dan dia belum menyadarinya. Semua perbuatan kita ternyata kembali lagi kepada kita. Mungkin tidak persis sama tapi mengajarkan kebaikan yang sama-sama berharga.

Saya sampai di rumah sekitar pukul 8 dan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Kakak saya sedang keluar untuk belajanja bulanan. Belum juga mandi, makan, dan beberes kakak saya pulang membawa mie goreng. Dia mengatakan mie gorengnya tidak seenak malam sebelumnya. Mie yang direbus terasa belum matang sempurna. Sekalipun menyesalkan mie yang jauh dari ekspektasi, kami menghabiskannya juga beramai-ramai. Hehe. Sudah kenyang, saya masih sempat mandi dan menyapa teman di whats app sebelum beranjak tidur di hampir tengah malam.

Satu hari yang melelahkan dan berakhir dengan mengesankan. Tuhan Maha Pemurah. Lalu saya menyadari bahwa kebaikan yang Tuhan berikan tidak hanya sekali dua kali diberikan. Melainkan berkali-kali sampai kita meleleh dibuatnya. Sampai kita keheranan, kok bisa? Sampai kita berpikir bahwa hanya kekuasaan Maha Luas yang bisa melakukannya. Tugas kita? Taat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...

It's time to REUNI

Gengs, pernah gak dateng ke acara reuni ternyata suasananya gak serenyah yang dibayangkan? Ngobrolnya cuma dua orang tiga orang, fokus ke smartphone masing² atau diisi dengan obrolan yang gak penting² banget buat dibahas. Ajang silaturahmi yang diharapkan keberkahannya justru menjadi momok bagi sebagian orang. Apa aja sih yang bisa kita siapkan buat dateng ke reuni selain budget dan bawa diri? Let's check the most important things to make our REUNI feel awesome.. 1. Memulai dengan yang ringan. Lama gak ketemu teman lama, bukan lantas kita bisa langsung menodong teman kita dengan pertanyaan berat. Mulailah dengan menanyakan perjalanannya sampai ke lokasi reuni, bertanya kabarnya, wajah yang lebih segar atau menanyakan kehadiran teman yang lain. Sajian pembuka yang ringan bisa membuat teman kita merasa disambut dan menciptakan suasana hangat bersahabat. 2. Hindari isu sensitif. Pertanyaan klasik seperti "kamu belum punya anak? Rencananya kapan?", "kerja dimana kamu...