Langsung ke konten utama

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala.

Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun konsepnya panggung dengan menggunakan bilik bambu sebagai dindingnya. Teman saya mencuci beberapa perabot yang akan digunakan untuk memasak. Dia berkelakar "Nih, Kak Jil lihatin ya. Pantat panci yang gosong begini bisa aku jadiin kinclong seperti baru lagi". Saya refleks tertawa mendengar pernyataannya. Fakta yang saya alami selama mencuci pantat panci adalah sangat sulit untuk membersihkan noda gosong akibat penggunaan kayu bakar pada tungku. Pasti membutuhkan waktu dan sabun atau sabut khusus perontok noda hitam tersebut. Itu pun belum tentu bersih dalam sekali dua kali gosok. Sembari menjaga api tunggu dan menggosok panci, kamu berbincang macam-macam hal dengan renyah.

Lima menit, sepuluh menit. Dia tidak tahan. "Mbak, kok iki gak iso kinclong yo? Biasane gampang eg". Dia masih dilanda cemas karena panci sulit dibersihkan meski sudah digosok berkali-kali menggunakan abu, sabun dan sabut kelapa. "Makanya jangan sombong. Niatnya jelek sih". Mukanya sedikit membenarkan ucapan saya yang agak meledek. Saya meraih panci tersebut dan mengambil alih misi mengkinclongkan panci.

Dari pengalaman tersebut, niat menjadi kunci utama dari setiap amal perbuatan. Dalam hadist, semua hal tergantung pada niat orang yang mengerjakannya. Orang yang niatnya mencari ilmu di kampus, akan mendapatkannya ketika lulus nanti. Orang yang niatnya mencari pengalaman, akan mendapatkan pengalaman. Dari kejadian teman saya, mungkin niatnya terdistorsi dengan keinginan untuk memperlihatkan sesuatu yang sulit untuk dilakukan kebanyakan orang. Dia mengaku sudah sering menggosok panci dan berhasil membuatnya kinclong (*tapi tidak seperti baru beli di pasar ya). Tak disangka, kali ini panci yang digosoknya sedikit bandel dan butuh perjuangan ekstra. Apesnya dia terlanjur omong besar didepan saya sebelumnya. Melihat wajahnya yang kecewa saya tidak tega untuk berkomentar banyak. Saya yakin dia tidak sejelek itu niatnya. Hanya ingin memperlihatkan keahlian yang dimiliki pada tamu yang datang berkunjung agar terkesan.

Setiap mengingat kejadian itu saya masih tersenyum. Bukan soal niat tetapi melihat wajah teman saya yang lucu ketika manyun gosokan pancinya yang belum berhasil. Meskipun demikian, Ibu guru senior mengapresiasi kerja kami pagi itu. Disela waktu mengajar beliau banyak bercerita tentang budaya lokal, keluarganya, dan kejadian-kejadian di sekolah selama beliau mengajar. Kami pun diundang untuk berkunjung ke rumahnya yang ada di kota. Jangan tanyakan hasil gosokan panci saya. Setidaknya saya harus belajar untuk tidak banyak omong besar.

Just do it, kata teman sesama aktivis saya dulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...