Langsung ke konten utama

Lagi-Lagi Soal Energi

Sore itu cukup terik di waktu musim penghujan ujung tahun. Baru sampai di rumah kakak, saya dikirimi foto yang nuansanya natural oleh atasan. Saya memaksakan diri untuk bertanya 'Yakin Pak yang ini mau dicetak?'. Untuk ukuran bawahan yang belum berpengalaman, saya bisa dibilang berani. Beberapa kali kesempatan saya menanyakan hal-hal pribadi seputar keyakinan, sesekali mengajak bermain kokologi atau menimpali 'kalau lapar makan Pak' dengan ekspresi datar ketika mendengar beliau mengeluh lapar.

Foto yang dengan seksama saya amati menggambarkan koordinasi antara atasan dan bawahan lantas mengingatkan saya pada sebuah percakapan. Pada hakikatnya energi seorang pemimpin menular ke semua orang. Mulai dari orang yang mengerjakan hal paling sederhana seperti office boy hingga ahli pajak, konsultan hukum dan pucuk pimpinan. Semua terkena imbas dari kesemangatan pemimpin tanpa terkecuali. Begitupun saya. Ketika pemimpin saya berapi-api, gerakan saya menjadi lebih berani dan optimis. Apa yang sekiranya sulit dan mustahil kemudian dikuatkan dengan kalimat 'Benar kan? Apa saya bilang, Allah pasti bantu orang-orang yang punya niat baik'. Lalu lahirlah harapan yang sehat dalam diri semua orang.

Kata ahli fisika, energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan tapi dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain. Yang saya yakini bahwa energi pemimpin bisa menular merupakan suatu kenyataan. Semangat adalah energi pemimpin. Lalu berpindah ke bawahan menjadi sebuah kerja keras, rasa yakin dalam diri kalau kita bisa menghasilkan sesuatu yang berharga. Dengan itu semua, pemimpin dan bawahan akan saling mendukung satu sama lain.

Kembali melihat ke dalam foto. Betapa takzim Bapak berusia 50an mendengarkan arahan dari pemimpinnya. Isinya tidak melulu soal hal strategis. Malah lebih sering hal teknis lapangan yang membutuhkan pengalaman dan perhitungan. Ketika kepatuhan menjadi nafas dari bawahan dan rasa tanggungjawab menjadi dasar pemimpin bergerak, apa yang akan terjadi kemudian?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...