Langsung ke konten utama

Nurani di TransJakarta

Kemarin 22 Desember di TransJakarta,

Seorang Ibu masuk kedalam bus yang sudah penuh. Kebetulan saya duduk di belakang dan campur aduk antara bapak ibu tua muda. Ada yang beruntung dapat hot seat. Ada yang kuat untuk berdiri sambil memandangi kemacetan diluar bus. Ditengah modernitas ibukota yang semakin dewasa, mbak-mbak disebelah saya berdiri memberikan kursinya untuk seorang ibu. Selang beberapa menit kemudian masuklah ibu berumur hampir 50 dan saya melakukan hal serupa.

Banyak ketidakdewasaan dalam kehidupan dikota besar. Junkfood, overwork, hedonisme, dan individualis menyapa setiap hari di setiap ruang. Dengan masa bodoh orang yang ketus akan berkata "Gue kerja banting tulang  dari pagi sampe malem dan dapet duit, suka suka gue duitnya bakal gue apain". Kerasnya tuntutan hidup dan semua serba diukur dengan "Berapa Bang?", membuat masyarakat super realistis. Ada harga yang harus dibayar untuk setiap keinginan. Jika anak Anda ingin es krim, tak perlu susah payah. Banyak penjual yang berkeliling ke komplek perumahan. Warung atau kios pun menyediakan es krim dengan harga yang terjangkau.

Kemarin, sang Ibu yang saya tawari kursi buru-buru mengambil barang bawaan saya. Katanya 'Biar sini saya pegangi kantongnya'. What a relieve. Entahlah, saya merasa trenyuh. Kadangkala suasana dalam bis yang saling diam membuat saya menikmatinya. Semua orang sibuk dengan gadget pribadi. Adakalanya mereka sibuk menikmati kelelahan, tertidur. Mau tidak mau saya dibiasakan untuk tidak mengusik orang lain yang tidak berhubungan dengan saya. Sekalipun pada dasarnya saya juga tidak suka mengusik kehidupan orang lain. Tinggal diibukota tidak melunturkan harapan saya bahwa masih banyak kepedulian disini. Benarlah faktanya jika kehidupan tak melulu berkisah tentang kerasnya ujian atau giatnya usaha dan persaingan yang ketat tidak kenal ampun. Mereka yang memenuhi bus, kereta, angkot atau menggunakan moda transportasi online masih manusia berhati yang ramah jika disapa dan ditanya baik-baik. Mereka yang memasang muka datar dibalik pintu kaca dan hectic dengan list whatsapp di smartphone masih manusia biasa yang bisa jadi memiliki kepedulian yang lebih besar dibandingkan kita.

Ibu-ibu yang baik hati dan mbak-mbak yang langsung berdiri memberikan kursinya adalah bukti nyata tak terbantahkan bahwa ada hati yang tetap tumbuh meski berhadapan dengan masalah yang terus datang. Keduanya adalah perempuan yang memilih menyelamatkan kaumnya dalam artian yang sangat sederhana. Saya yakin berdiri didalam bus ditengah kemacetan Jakarta merupakan situasi yang tidak diinginkan semua orang. Penumpang pasti berharap mendapatkan tempat duduk. Namun banyak orang memilih untuk mendengarkan nurani mereka ketimbang bergulat dengan keegoisan diri.

Inilah masyarakat yang tumbuh ke fase yang lebih dewasa. Mematuhi aturan lalu lintas, saling membantu orang yang kesulitan, menghargai hak-hak pribadi, dan bersikap ramah dengan orang lain merupakan budaya baik. Harapannya budaya yang semakin matang dan dewasa ini menjalar ke seluruh kota hingga desa-desa. Lalu semua orang merasa nyaman karena ada perasaan didukung komunitasnya dengan budaya yang tumbuh dewasa.

Mudah-mudahan Jakarta bahagia, manusianya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...