Langsung ke konten utama

Lampu Hidup

Bagi mereka yang memahami esensi dari keberadaan Alquran, ia seperti lampu yang ada dirumah kita. Terangnya dalam gelap memandu kita agar tidak terantuk dan jatuh. Dengannya kita bisa membaca, bercengkrama dengan keluarga, atau melakukan berbagai aktivitas pada malam hari. Ada yang pernah berkata 'Kalau kamu sedang ada masalah, bukalah Alquran. Yakinilah. Maka kamu akan temukan jawaban atas permasalahanmu'. Aplikasi Alquran harian yang saya miliki di handphone ternyata banyak yang pas dengan kondisi keseharian saya. Tentang berbuat baik kepada sesama, balasan atas amal perbuatan kita kelak di akhirat, atau janji Allah kepada mereka yang ingkar.

Keberadaan Alquran sebagai lampu hidup bukanlah sekadar memilikinya dirumah dan memajangkan di lemari kaca. Melainkan membacanya, merenungi setiap ancaman dan teguran didalamnya, lalu menghidupkannya dalam tingkah laku sehari-hari. Lihatlah bagaimana akhlak rasulullah digambarkan sebagai Alquran. Semuanya tercantum dalam Alquran. Apabila tidak sesuai dengan ketentuan Allah, nabi diberikan teguran. 

Hanya dengan memiliki sebuah lampu, perasaan kita akan jauh lebih tentram. Entah lampu itu akan kita nyalakan atau tidak. Entah kita benar-benar menggunakannya atau hanya memilikinya. Namun kita selangkah didepan daripada mereka yang tanpa bekal dan persiapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...