Langsung ke konten utama

Just Call Her PELAKOR

Akhir-akhir ini banyak bermunculan kasus orang ketiga atau yang lebih update disebut pelakor. Ada kehebohan seorang pelakor dihujani uang oleh istri lelaki di medsos, ada pula postingan agak menyentak "gak papa kok demen sama suami orang", hingga cerita seorang teman sendiri yang dituduh sebagai orang ketiga.

Fyuh. Saya harus menghela nafas sekejap.

Perselingkuhan, seks bebas atau zina sudah ada sejak jaman dahulu. Yang membuat miris adalah perempuan yang selalu menanggung resiko paling banyak. Dalam seks bebas selalu ada resiko hamil diluar nikah dan yang rugi pasti perempuan. Apa sisi ruginya? Nama baik, status sosial, dosa, persepsi masyarakat, resiko selama kehamilan dan pasca melahirkan hingga merawat anak. Selalu ada resiko dibalik kasus hamil diluar nikah. Sekalipun ya, laki-laki mau bertanggungjawab menikahi dan menafkahinya. Apalagi jika sudah menyangkut rumah tangga orang lain. Duuh, semakin rumit.

Sempat membahas ini di kantor lama dengan teman-teman yang mayoritas sudah berkeluarga. Mereka terang-terangan menyalahkan perempuan yang menggodai laki-laki. Namun ada seorang teman yang menyeletuk "Jangan selalu nyalahin perempuannya dong. Salahin juga laki-lakinya yang mau". Pecahlah obrolan yang lebih heboh dengan argumen ala emak-emak. Kalau ditanya saya mendukung yang mana, jujur ini persoalan yang butuh kehati-hatian dalam menjawab.

Moral dan masyarakat selalu berkaitan satu sama lain. Perkembangan moral dipengaruhi perkembangan masyarakat itu sendiri. Begitupun sebaliknya. Dijaman now yang serba terbuka dan mudah diakses, transfer informasi semakin tidak terkendali. Betapa mudahnya mengakses informasi gempa yang terjadi 1 menit yang lalu. Sekarang amat mudah mencari informasi harga tas dari situs belanja online tanpa harus muter-muter ke gerai offline. Ditengah kemudahan tersebut asupan masyarakat semakin beragam. Masyarakat menerima segala macam informasi dan belajar untuk mengelolanya. Informasi yang masuk pun bisa benar/salah dan bisa baik/buruk. Kemampuan masyarakat dalam mengolah arus informasi yang diterimanya menjadi cikal bakal moral etika yang akan dilempar ke pusaran pergaulan. Inilah yang benar-benar harus disikapi dengan bijaksana.

Cerita tentang orang ketiga/pelakor dengan segala drama yang membungkusnya merupakan penyakit lama yang menguji kedewasaan kita. Apakah perkembangan jaman yang begitu pesat disertai dengan pemahaman moral etika yang lebih baik dari generasi sebelumnya? Apakah kemajuan dunia pendidikan, pola pengasuhan, budaya akademik institusi pendidikan, dan ideologi global yang moderat serta humanis sudah membekali kita dengan kemampuan menyikapi fenomena sosial dengan lebih bijak?

Selang beberapa hari obrolan mengenai pelakor, seorang teman memancing pembicaraan. "Kemaren kok pas gue bahas responnya begitu ye?" Spontan teman sebelah saya menjawab, "Elu kaya gak tahu dia aja sih mbak. Dia kan emang gitu kalau ama lelaki. Agak genit-genit gimana gitu". Saya mendengarkan dengan seksama apa yang mereka bincangkan. Ini menjadi bahan perenungan sendiri untuk saya. Pergaulan saya dengan laki-laki bisa dibilang mudah dan cepat akrab. Saya bisa bergaul dengan mereka yang berbeda usia, pengalaman, latar belakang budaya agama pendidikan dsb. Menyadari hal ini saya semakin sadar bahwa menjaga diri saya sendiri adalah sebuah kewajiban. Daripada terjebak dalam pergaulan dengan lawan jenis yang tidak sehat dan penuh resiko.

Jadi, dalam kasus pelakor siapa yang layak dikambinghitamkan? Saya pikir ini terlalu mengadili seseorang. Kita juga bukan hakim moral etika yang berhak mengetuk palu. Tidak ada hakin untuk itu. Sebagai perempuan, menyadari kehormatan diri sendiri sangat penting. Kita harus mengetahui batasan pergaulan. Soal kapan kita bisa bertemu dengan lawan jenis, kapan bisa chatting, dan bagaimana kita memperlakukan mereka. Sebagai laki-laki tentu menjaga pandangan sangat dianjurkan. Ada banyak perempuan berwajah cantik dan berhati baik diluar sana. Adakalanya lebih cantik dari istri si laki-laki. Tetapi jika laki-laki mampu menjaga pandangannya dan perempuan tetap dalam batasnya, insya Allah tidak ada kasus orang ketiga/pelakor disekitar kita. Karena mungkin ada benarnya juga sebuah kalimat yang mengatakan "Kucing dikasih ikan mana ada yang nolak".

Mudah-mudahan kita terjauhkan dari pengaruh buruk perkembangan jaman. Cyaaat cyat. Fokus kerja aja, fokus nyari rejeki.. 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...