Langsung ke konten utama

THE TROUBLE IS YOU NOT THEM

Dalam menyikapi dinamika hidup kita seringkali menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan. Sebuah wawancara yang dilakukan atasan saya cukup menyadarkan bahwa betapa seringkali kita menyalahkan orang lain dna Tuhan setiap harinya.

Siang itu cuaca cerah. Seorang laki-laki berumur 17an masuk ruangan. Interview tersebut jelas karena ruangan yang tidak terlalu luas. Atasan saya mempersilahkannya duduk. Babibu. Banyak pertanyaan yang diajukan kepada pelamar muda di ruangan dingin kami. Sampailah pada sebuah pertanyaan..

Atasan : Rambut kamu disemir?
Pelamar : Enggak Pak.
Atasan : Kok merah begitu?
Pelamar : Enggak Pak. Ini kena matahari. Saya bantu orang tua di kebun. Kena panas jadi begini.
Atasan : Ah, yang bener. (*naluri pengacara atasan saya masih terbawa meskipun bertahun-tahun meninggalkan dunia lawyer). Ibu Jilvi lihat ini merah kan? (*atasan saya butuh opini dukungan)
Saya : Murid saya di Flores yang tiap hari kena panas matahari dan mandi di pantai gak semerah itu warnanya. Merahnya lebih gelap.
Atasan : Nah kaaan. Kamu jujur sama saya. Ini diwarnai gak?
Pelamar : (*terpojok dan bingung) Saya warnai beberapa hari yang lalu.
Mendengar pengakuan yang dilontarkan pelamar tersebut atasan saya merespon dengan sedikit pencerahan.
Atasan : Rambut kamu warnai sendiri malah nyalahin matahari. Kalau rambut merah, gosong, kering kena matahari gak secerah itu merahnya. Lagian, masa kamu bantu orang tua setiap hari. Memangnya nanam padi setiap hari pergi ke sawah? Kan ada waktunya nunggu untuk panen, sebar benih. Ini malah nyalahin matahari. Kalau kamu nyalahin matahari, berarti kamu nyalahin Tuhan dong? Gak takut dosa kamu?
Pelamar tersebut tertunduk dan mendengarkan respon atasan saya. Entah sadar atau merasa aneh dinasihati soal menyalahkan Tuhan.

Berbagai peristiwa dalam hidup tidak pernah lepas dari campur tangan Allah. Rejeki semut dan mikroba semata-mata kehendak dan kuasa Nya. Matahari terbit dari timur, menyengat di tengah hari atau hujan turun disertai petir dan menyebabkan banjir. Semua itu kekuasaan Allah. Lantas kita berkata, "Yah, hujan. Gak bisa hange out deh. Mana udah janjian lagi" atau "Duuuh, panasnya siang ini. Mau keluar tapi nyengat banget mataharinya". Kita sering mengeluh ini itu mengenai hujan, panas padahal Allah tengah membagikan rejeki dengan itu semua. Panas yang menyengat membuat pakaian bisa kering, produksi garam dan ikan asin lebih maksimal. Jika kita mengutuk nikmat yang dijatahkan Allah untuk orang lain, bagaimana Dia akan memberikan kita nikmat?

Dalam pekerjaan, kita menyalahkan teman karena tidak dapat melampaui target. Tanpa mau tahu kesulitan yang dialami teman kita. Jangan-jangan komunikasi kita yang kurang efektif. Atau kita yang tidak peduli dengan hambatan mereka dan hanya memikirkan kinerja sendiri.

Andaikan berkenan sedikit saja mengakui pola pikir kita yang membuat situasi memburuk, keadaan akan lebih mudah. Rambut merah yang dicat, target kerja yang gagal dicapai, dan cuaca yang tidak bersahabat adalah keadaan tidak menyenangkan. Ditambah dengan emosi kita dsn pola pikir yang tidak sehat akan merugikan diri kita dan orang lain.

Mengapa menyalahkan matahari jika kita bisa mengenakan topi/penutup kepala?
Mengapa menyalahkan hujan jika kita bisa menyiapkan payung atau naik bus dan kereta ke kantor?
Mengapa menyalahkan rekan kantor jika kita bisa membuat komitmen kerja yang baru?

Bisakah kita berhenti menyalahkan orang kain apalagi Tuhan? Karena bisa jadi diri kitalah penyebab dari situasi tidak menyenangkan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...