Langsung ke konten utama

IKHLAS ITU SEPERTI POOP

Saya pernah bertanya kepada seorang teman mengenai keikhlasan. Menurutnya ikhlas itu seperti poop (*buang air besar), keluar ya sudah. Kita tidak membahasnya lagi. Tidak membicarakannya lagi. Selesai. Dalam versi relijiusnya, "Ikhlas itu seperti surat Al Ikhlas. Tidak ada kata-kata ikhlas didalamnya". Untuk mewujudkan niat ikhlas kita hanya perlu menjalaninya, tanpa batasan dan postingan di media manapun. Ya, seperti poop. Keluar dan selesai. Sesederhana itu teorinya. Aplikasinya? Bismillahirahmanirahim..

Mengalami kegagalan dalam hubungan cinta membuat kita kecewa. Kita yakin bisa melewatinta meskipun membutuhkan waktu yang tidak sehari dua hari. Bahkan ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Actually, i can't make sure that i can ikhlas dan legowo. I just let it go. Mungkin bukan gagalnya, melainkan perlakuannya yang menusuk jantung. Kalau ada yang bertanya "Apakah kamu ikhlas?" Kita tentu kesulitan menjawabnya. Karena ego, emosi masih bersliweran didalam hati.

Lagi-lagi. Ikhlas karena adanya campur tangan Tuhan jauh lebih ajaib rasanya. Dalam sebuah artikel yang saya baca secara online, "Kebaikan adalah apa yang membuat hati tentram dan keburukan membawa kegelisahan". Saat kehilangan, saya memutuskan untuk shalat. Ada aura tenang ketika sujud. Ada ketenangan ketika meluapkan emosi dalam doa. Tidak ada lagi tuntutan ini itu. Tidak ada lagi doa yang memaksa segala sesuatunya terjadi sesuai kehendak kita. Meskipun belum mendapatkan jawaban, hati ini jauh lebih tentram. Padahal sebelumnya uring-uringam dan gelisah. Sampai hari ini, saya masih berdoa dengan harapan yang sama tetapi mantapnya hati akan janji Nya menjadikan batin lebih tenang dan lapang. Apakah saya mengikhlaskan (*melepaskan) doa saya? Tidak. Saya tidak lagi meminta ini itu yang beraneka macam. Cukuplah keridhaan Allah jadi harapan. Saya yakin Allah mendengar dan melihat saya berdoa. Ada satu optimisme dalam diri bahwa Dia sedang memudahkan jalan didepan saya. Allah membukakan jalan yang lebih baik.

Lalu doa-doa kembali terucap, "Ya Allah dekatkanlah kepada kami apa-apa yang mendatangkan keridhaan Mu, keberkahan Mu dan rahmat Mu. Jauhkanlah kami dari orang-orang yang merugi dan meragukan kuasa Mu.." 🙏

9 Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...