Langsung ke konten utama

Memahami Komitmen dan Konsekuensi

Perang dingin seorang artis dengan kekasih mantan suaminya begitu menggelitik logika saya. Perceraiannya telah lama terjadi dan dia memiliki seorang anak. Artis ini berkata hubunganya dengan anak dan mantan suaminya baik-baik saja. Anehnya ketika ditanya adakah peluang untuk rujuk, dia tegas menjawab tidak mau. Bagaimana sebuah pernikahan diakhiri jika suami dam istri baik-baik saja? Orang bisa merespon dengan kasarnya "Trus ngapain cerai kalau kamu ngaku baik-baik saja dengan anak dan suamimu?".

Mamah Dedeh tegas mengatakan di tausiyahnya kemarin pagi kalau Allah sangat benci dengan perceraian meskipun halal. Kondisi rumah tangga yang tidak pernah sepi oleh ujian sudah sewajarnya dipertahankan. Kecuali jika perangai pasangan kita sudah tidak bisa ditolerir lagi dan tidak ada diskusi yang bisa dilakukan. Kita benar harus memikirkan bagaimana resiko yang akan kita tanggung pasca perceraian sekecil apapun dan sesiap apapun kita.

As we know, pernikahan adalah komitmen dua orang untuk hidup bersama. Bahkan yang lebih ekstrem pernikahan dua keluarga, dua budaya, hingga dua negara. Konsekuensi dari pernikahan bermacam-macam mulai dari adaptasi karakter pasangan, pekerjaan, kehidupan sosial, parenting dan sebagainya. Ujian sehari-harinya akan sangat melelahkan karena itu akan memakan waktu seumur hidup kita. Pentingnya memahami komitmen dalam pernikahan sudah harus dipahami mereka yang memutuskan untuk menikah. Debat, perbedaan selera makanan, prioritas dalam hidup, hingga pertengkaran yang kadang diwarnai KDRT adalah konsekuensi logis dari pernikahan. Perubahan pasti terjadi usai menikah. Baik dialami istri maupun suami atau keduanya. Ada istri yang memutuskan berhenti bekerja, pindah tempat tinggal diluar kota bahkan luar negeri karena ikut suami, dan pekerjaan yang bisa saja berganti disuatu saat. Status baru secara otomatis melahirkan peran dan tanggungjawab baru. Hal tersebut begitu terasa setelah kehadiran anak dalam rumah tangga. Siapapun yang akan menikah dan menikah mau tidak mau harus memikirkannya.

Semua komitmen dalam hidup melahirkan suatu konsekuensi termasuk pernikahan. Sayangnya kita tidak bisa memilih konsekuensi yang muncul apabila kita menikah. Siap atau tidak siap, kita hanya harus menghadapinya. Percerain menjadi salah satu konsekuensi yang tidak pernah diharapkan. Saya yakin mereka yang bercerai telah melalui berbagai diskusi dan mediasi yang panjang. Yang perlu saya tekankan disini adalah bagaimana untuk menyadari perubahan status dari istri ke mantan istri. Sederhananya, ketika memutuskan untuk bercerai sadarilah bahwa urusanmu dengannya berakhir. Apapun itu. Apabila kita sebagai ibu dari seorang anak, pikirkanlah baik-baik sebelum bercerai soal biaya hidup anak, pendidikan dan masa depan. Karena sekalipun dibenarkan dalam agama untuk meminta nafkah anak dari mantan suami, rentan sekali timbul fitnah. Fitnah yang bagaimana? Respon keluarga mantan suami yang tidak tertebak atau pasangan mantan suami/istri yang memiliki perasaan untuk dijaga. Bukankah kita disarankan untuk menjaga perasaan pasangan kita daripada mantan pasangan?

Hidup selalu penuh resiko. Apakah kita siap menghadapi resiko dari sebuah pernikahan? Kita seringkali memaksa takdir segera terjadi "Aku ingin menikah, buruan nikahin aku". Namun kita seringkali lupa bahwa ada hal-hal yang akan kita hadapi setelah menikah. Kita akan diributkan soal tarif listrik, cicilan rumah, biaya sekolah anak, dan menunda kesenangan pribadi seperti travelling. Apakah kita siap menghadapi resiko perceraian? Kita pun seringkali tidak sabar, "Saya sudah tidak tahan, keputusan saya sudah bulat untuk cerai". Lalu kita kolaps setelah perceraian terjadi.

Hei perempuan, jika ingin menikah maka bersiaplah untuk menghadapi kemungkinan seperti berkurangnya waktu hange out dengan teman-teman, lelahnya bekerja seharian ditambah pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah habis, suami yang harus dilayani, kebutuhan sehari-hari, iuran-iuran RT serta sumbangan masjid. Yang paling buruk dari itu semua adalah perceraian yang berakibat bagi pasangan dan anak. Siap menikah? Luruskan niat, mintalah kekuatan agar benar-benar siap dengan dinamika rumah tangga.

Hei perempuan, jika ingin bercerai maka bersiaplah untuk menghadapi kemungkinan seperti kembali bekerja demi menghidupi anak, menyandang gelar janda dengan stigma yang berkembang di masyarakat, tidak bebas bertemu dengan anak, krisis kepercayaan diri dan disorientasi dalam perceraian yang tidak diinginkan tapi harus terjadi, dan yang paling penting adalah tidak tergantung pada mantan suami soal nafkah anak. Apakah yakin tetap bercerai? Jika satu-satunya jalan, mudah-mudahan ada jalan dan petunjuk untuk hidup yang lebih baik.

Dari kisah artis yang sudah saya sebutkan sebelumnya saya masih menganggap aneh soal "Saya Ibunya, gak ada yang bisa melarang saya bertemu anak saya". Kalau boleh memberi saran, saya akan berkata "Jangan bercerai jika tidak pernah merasa siap untuk jarang bertemu dengan anak. Jangan bercerai jika masih baik-baik saja dengan mantan pasangan". Kalau kepentingan anak kalah dengan ego kita sebagai orang dewasa, maka kita belum siap menjadi orang tua. Kita merasa tidak cocok dengan pasangan, lalu bercerai kemudian terjadilah drama-drama hak asuh anak. Bahkan perceraian baik-baik pun tetap menimbulkan trauma tersendiri bagi anak dalam memaknai kehidupan. Sekalipun ada masanya pernikahan mengalami masa-masa gelap, pikirkanlah bahwa ada tanggungjawab dari Tuhan berupa anak yang bisa jadi menyelamatkan pernikahan dari resiko perceraian. Libatkan Tuhan dan bijaklah.

*Catatan ini ditulis oleh perempuan yang belum menikah dan belum punya anak. Wawasan, pengalaman, dan pengetahuan yang ada tentu sangat terbatas. Namun tidak menyurutkan niat saya untuk menyuarakan argumen pribadi saya. Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...