Langsung ke konten utama

Menjaga

Siang ini teman saya mengirimi pesan apakah saya bersedia ikut kondangan teman lain yang akan menikah. Pertanyaan relfeks yang saya ajukan yaitu, "Nginep enggak?". Teman saya berkata rencananya berangkat malam hari dan sampai lokasi pagi. Muncul asumsi dalam benak saya soal bepergian dengan teman laki-laki (*sekalipun tidak hanya berdua). Beberapa waktu sebelumnya saya bertemu dengan teman dan dia sepakat jika hanya berdua lebih baik tunda saja. Kamipun bertemu walaupun beranggotakan 3 orang.

Semakin kita dewasa, ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan sesuka hati kita dan tanpa menimbulkan resiko. Fitnah timbul karena asumsi beraneka ragam atas suatu sikap. Bepergian dengan seorang teman lelaki atau beramai-ramai pergi dengan banyak teman laki-laki pun beresiko munculnya fitnah. Kesadaran ini terbangun setelah melihat banyak pergaulan "semau gue" dan masukan dari teman-teman. Banyak hal terjadi karena asumsi dan asumsi. Pergaulan adalah salah satu yang begitu rentan akan fitnah.

Bertukar pendapat dengan teman yang akan menikah, mereka yang mendapat hidayah ketika hubungan cintanya kandas, atau mendengarkan tausiyah memberikan masukan berarti bagi saya bahwa perempuan harus menjaga dirinya sendiri. Ikhtiyar untuk menjaga diri saya rasakan sejak beberapa tahun terakhir. Pemahaman agama saya memang belum apa-apa tetapi bertemu dengan lelaki bukan muhrim tanpa kepentingan mendesak begitu rentan fitnah. Di usia yang hampir 28, menjaga diri adalah kewajiban saya ditambah lagi dengan status single. Betapa pikiran orang lain tidak bisa dikendalikan akan tetapi kita bisa mengendalikan pikiran kita. Pemahaman bahwa 'saya menghormati laki-laki pilihan saya sendiri dengan cara menjaga pergaulan dari sekarang' selalu saya tanamkan.

Sikap dan pandangan saya tidak melulu mendapatkan dukungan. Ada seorang teman yang nyinyir 'Gimana mau nikah kalau pergaulanmu sempit. Main aja gak mau'. Memang ada benarnya juga apa yang diutarakan oleh teman saya. Logikanya kalau pergaulan kita terbatas, peluang untuk mendapatkan pasangan pun menjadi lebih kecil. Dengan catatan pergaulan yang kita lakukan tujuannya mencari pasangan. Sebentar sebentar. Ada yang menggelitik disini. Jalan jodoh sungguh kuasa Allah dalam mengaturnya. Ada yang berkenalan lalu memutuskan untuk menikah. Ada yang menikah dengan teman lama sejak sekolah. Ada yang bertahun-tahun pacaran akhirnya menikah. So many stories to tell how people falling love and decide to marry with that people. Kalau saya jarang main dan itu dianggap sebagai pintu penghalang saya mendapatkan pasangan adalah sesuatu yang konyol. Jodoh bisa datang dari mana pun dan kapan pun. Kamu sedang berpanas-panasan dijalan kemudian ada yang mau melamarmu kerumah, itu cerita yang mungkin terjadi. Apabila Allah berkehendak, kun fayakun. Jadi jodoh tidak datang melalui satu pintu saja. Bisa saja jodoh saya adalah orang yang sudah saya kenal dan hanya sekali dua kali bertemu. Pun bisa terjadi saya berkenalan dengan laki-laki dan memutuskan untuk menikah segera. Kuasa Allah berlaku untuk semua mahluk, lebih-lebih terhadap hamba Nya.

Di lain sisi, ada pula teman-teman yang support dengan pandangan saya. Sebagai perempuan kita harus menjaga izzah bagi yang belum menikah dan yang sudah menikah. Tentukan batas pergaulan dengan lawan jenis misalnya dalam berkomunikasi via sosmed. Memilih bepergian dengan teman perempuan juga menjadi alternatif yang bisa diistiqomahkan. Ketika kita tahu batas dan berikhtiyar menjaganya, Allah akan menunjukkan jalan yang baik untuk dilewati. Karena siapa lagi yang menjaga diri kita selain diri kita sendiri? Orang lain tidak 24 jam bersama kita. Orang tua, teman, saudara, bahkan pasangan kita. Kita lebih sering takut tidak punya teman daripada takut terhadap fitnah pergaulan. Saya sering menjumpai orang yang merasa tidak enak kepada temannya akhirnya meninggalkan shalat, bepergian sesuka hati, atau melakukan hal yang mubah.

Saya merasa beruntung memiliki teman-teman yang berkenan sharing pandangan mereka. Meskipun adakalanya tidak ada kesamaan tetapi mereka masih menghargai pandangan saya. Selalu ada doa baik dari teman-teman baik selama ini. Alhamdulillah. Mudah-mudahan pertanda baik dari Allah yang Maha Baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...