Langsung ke konten utama

Melihat Mereka yang Tidak Melihat

Ada dua orang perempuan membawa tongkat di halte. Yang satu tengah menelpon, yang lainnya berdiri diam sambil menikmati suasana halte yang agak ramai. Saya pikir mereka tidak bisa melihat tetapi ragu karena mereka tetap bisa beraktivitas layaknya orang normal. Berdiri diantara calon penumpang yang berlalu lalang naik turun bus. Mereka terlihat biasa dengan tingkah laku tidak menonjol.

Sebuah bus mendekati halte. Salah satu perempuan tersebut diantarkan oleh petugas agar dapat naik bus tujuannya dengan aman. Selang menunggu beberapa menit bus saya datang dan penumpang memenuhi bus. Setiap harinya memang rute yang saya lewati selalu ramai penumpang. Di halte pertama hingga 2 halte terakhir tidak pernah sepi. Barulah setelah pintu ditutup perempuan buta yang satu lagi diantarkan petugas agar dapat priority seat.

Hidup di tengah keterbatasan fisik sangat tidak mudah. Kerasnya ibukota sekeras orang-orang yang tinggal di bawah langitnya. Namun di ibukota ada standar hidup yang fair. Kesadaran untuk melakukan hal yang benar lebih tinggi daripada kota kecil. Persaingan demi persaingan terjadi setiap saat di sudut manapun. Masuk kerja rela berangkat sebelum matahari terbit demi on time, tekanan kerja dari atasan dan perusahaan yang membuat karyawan berorientasi hasil dan proses sekaligus hingga kepedulian untuk berderma yang cukup tinggi bagi korban bencana alam. Diibukota, hak difabel diberikan dengan baik. Mereka bisa beraktivitas tanpa takut didiskriminasi. Dengan peraturan yang ada pun mereka mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.

Semakin dewasa sebuah masyrakat dalam hidup berdampingan, mereka semakin sadar hak dan kewajiban masing-masing. Dua perempuan tersebut mengabarkan kepada kita bahwa hak difabel di ibukota bukan omong kosong. Selalu ada tempat bagi mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...