Langsung ke konten utama

Reminder Notes

Saya adalah pecandu internet terutama berita terkini baik di portal berita online maupun sosmed. Setiap hari saya mengecek timeline, beranda dan notifikasi dari portal berita online. Rasanya sehari tidak connected seperti ada yang hilang dan tidak lengkap. Dulu saat di daerah 3T pun saya selalu terhubung dengan teman-teman yang ada di Jawa. Saya masih bisa posting foto dan cerita diakun sosmed hingga menulis blog.

Saat kondisi psikolois saya yang sedang tidak stabil, itu membuat saya lebih sensitif. Akibatnya sering berasumsi negatif terhadap postingan yang menye-menye. Meskipun following instagram saya sedikit, postingan akun tersebut bisa disebut netral. Beberapa akun berisi foto menakjubkan yang memanjakan mata saya. Yang lain lebih banyak bertemakan resep masakan, kue, agama, dan psikologi.

Hari ini saya iseng membuka tausiyah seorang ustadz bergelar Lc. Materinya tentang keteguhan dalam berdoa. Semua orang sering membicarakannya bahkan isu seperti cinta yang belum juga datang, kegalauan diakhir 20an atau kepantasan diri seseorang tumpah ruah diberanda. Saya sendiri sering jengah melihatnya. Bukan karena merasa diceramahi/dikomporin, melainkan karena merasa ada banyak hal yang bisa dibahas selain itu.

Back to the point..

Sang ustadz membicarakan bagaimana menjemput jodoh melalui doa. Ya caranya sederhana melalui doa. Minta kepada Allah. Dia yang punya hati si dia. Bukan mendekati orangnya. Katanya yakin dulu. Minta agar dilembutkan hatinya. Pasti akan diberikan jawaban. Disertai instrumen yang melankolis dan suara ustadz yang lembut, saya tersentuh. Materi ini sudah saya dengar berkali-kali dan sama sekali tidak berdampak secara psikogis. Biasanya saya pun jarang melihat video tausiyah tentang jodoh. Namun tadi sore saya tiba-tiba ingin mendengarkan. Mendadak ingin tahu, apa yang disampaikan ustadz tersebut.

Suara ustadz yang begitu bertenaga dengan iringan instrumen membuat saya terharu. Lebih tepatnya sadar. Saya belum berdoa dengan keyakinan 100%. Tenaga saya masih 80%. Sampai saya bertanya dalam hati, "Apakah saya benar-benar meminta? Apakah saya sudah mengerahkan seluruh daya dan upaya? Apakah saya yakin bahwa Allah akan membantu saya meluluhkan hatinya? Ustadz tadi mengingatkan saya untuk kembali memanjatkan doa, memanjangkan sujud dan yang paling penting yakin bahwa Allah pasti sudah merencanakan yang terbaik.

Saya merasa bersyukur berada ditengah orang-orang baik yang senantiasa mengingatkan pada kebaikan. Mereka terus menerus menyebarkan hal positif ditengah kepedulian yang semakin tipis. Di dunia yang riuh oleh hiruk pikuk glamouritas, suara kebenaran semakin hilang. Sedangkan kita tidak tahu apakah yang kita yakini sekarang sudah benar atau belum.

Reminder notes, benar-benar mengingatkan sekalipun hal yang kecil dan sederhana. Untuk kembali pada yang hakiki dan kembali kedalam diri. Terimakasih ustadz, mudah-mudahan senantiasa sehat dan dilimpahi keberkahan dalam hidup. Aamiin allahuma aamiin

🙇

3 Januari 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...