Langsung ke konten utama

Aku Turut Bahagia (*Seharusnya)


Pertemanan layaknya perjalanan dengan kereta atau bus. Kita naik pada tempat yang sama tetapi kita memiliki tujuan akhir yang mungkin berbeda satu dengan yang lain. Aku bisa berhenti di stasiun pertama dan kau bisa berhenti di stasiun berikutnya atau bahkan stasiun terakhir. Kita sangat bisa berhenti di stasiun yang sama.
Jika dirunut sejak awal perjumpaan hingga melenggang hitungan tahun ketiga, keempat dan seterusnya istilah pertemanan kadang berubah menjadi persaudaraan. Tidak semua teman layak mendapatkan posisi sehebat itu. Hanya mereka yang telah ditakdirkan dan tetap bertahan yang benar-benar pantas mendapatkannya. Mereka adalah teman yang selalu kau datangi untuk mencurahkan beban hidup. Seringkali mereka membersamai peristiwa bermakna yang kau lewati. Sekadar menertawai tingkah menyedihkanmu atau bermuka macam-macam di depan lensa kameramu. Mereka sungguhan langka. Kamu membencinya sekaligus mencintainya. Apakah itu namanya?
Hampir sepanjang waktu mereka bersamamu. Hingga tiba saat dimana ia menemukan sosok super spesial dalam hidupnya. Pasangan hidup. Sebutlah kalian sudah satu rumah bertahun-tahun. Kalian melakukan tindakan konyol dan gila bersama. Kemudian ada satu hari dimana ia bersikap lain dari biasanya. Dia begitu dewasa melangkah untuk mengambil peran baru, seorang suami.
Apa yang kamu rasakan saat itu? Senang atau sedihkah? Bagaimana rasanya? Kau seolah bahagia dan sedih secara bersamaan. Ia telah menemukan seseorang yang akan mendukungnya dalam keadaan apapun. Kau bahagia untuk hal itu. Namun di sisi lain, ada hati yang leleh seketika dan tidak berbentuk. Apakah kau benar-benar bahagia? Mengapa rasanya aneh sekali? Sepertinya sakit. Persis sedih. Merasa kehilangan sosok yang selama ini ada untuk berbagi apapun. Ia teman yang baik. Segala macam nasehat telah ia berikan untukmu yang bandelnya maksimal. Kau hanya tidak tahu akan bersama siapa setelah ini. Itu yang kau sedihkan.
Kau bahagia melihatnya telah menggenapkan dien. Sungguh, kau akan melakukan hal serupa. Menikah dan menemukan pasangan yang terbaik. Ah, rasanya aneh sekali. Kau mungkin tidak akan menyapanya seriang dulu karena ada istrinya yang baik. Durasi makan dan hange out kalian akan menyesuaikan jadwal kalian agar bisa turut bergabung. Jika kau merasa kesal dengan sesuatu, kau tidak dapat lagi tiba-tiba duduk di depan meja kerjanya. Saat tengah malam yang gelap, kau tidak bisa memberinya kejutan ulang tahun. Kalian tahu bahwa kenyataannya sudah berbeda. Kalian harus tahu diri untuk menjaga sikap kepada keluarga kecilnya.
Demi apapun, ini menyedihkan. Kau terlihat menyedihkan. Kalian telah terbiasa memanggilnya dengan panggilan kesayangan. Kalian pikir sudah tidak sepantasnya kegilaan ini diteruskan. Ya. Ada batas antara kegilaan kalian dengan rumah tangga. Itulah mengapa kalian ingin turut segera menggenapkan dien. Memang sempurna. Menurut kalian rumah tangga merupakan benteng terkuat bagi kalian. Disanalah kalian mendapatkan pahala berlimpah. Disana pula kalian terus berhijrah meski tiada kawan yang segila dia dan mereka.
Pemahaman kalian telah sampai pada menghargai peran yang ia ambil sekarang. Kalian akui, bahwa perasaan kehilangan itu memang ada. Entah karena alasan apa. Rasa kehilangan tetap ada di dalam hati. Kalian bahagia dan sedih secara bersamaan. Ini konyol bukan? Percayalah ia adalah teman baik kalian. Hijrahnya adalah penyemangat kalian untuk terus memperbaiki diri. Kalian akan lebih semangat belajar dan belajar. Hingga Allah mendatangkan lelaki yang sungguh baik dan menjadikannya jodoh kalian. 

Ende, 27 Desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...