Langsung ke konten utama

So hot, Maumere

Wilayah administrasi Ende memiliki batas paling timur yaitu Kecamatan Kotabaru. Beberapa bulan yang lalu wilayah tersebut diterjang banjir bandang yang masih tersisa kerusakannya sampai hari ini. Dibeberapa titik terdapat sampah banjir berupa batang kayu yang hanyut terbawa air. Jarak dari Ende ke Maumere 147 kilometer dengan melalui perbukitan, gunung dan dataran pantai. Setelah memulai 82 kilometer dari Ende kemarin, saya masih memiliki 65 kilometer lagi.

Matahari sudah sumringah sejak pagi. Kami meninggalkan Maurole pukul 7.30. Kilometer pertama aman jaya dengan sedikit berhadapan dengan jalab retak dan debu. Kelokan perbukitan bervariasi ketinggiannya membuat kami harus ekstra hati-hati. Kelokan menanjak, turunan tajam, belokan ekstrem, dan semak rindang mewarnai rute ke Maumere. Kotabaru memiliki area pantai yang terkena abrasi cukup parah hingga menggerus aspal jalanan. Meskipun tembok penahan abrasi masih kokoh, beberapa sudah berlubang dan rusak. Bahkan jalan aspal tersebut amblas tidak beraturan.

Usai melewati abrasi pantai, kami sedikit lega dengan kondisi jalan yang lebih baik. Bukit-bukit yang kami tinggalkan menyisakan pemandangan menakjubkan dibelakang. Udara tidak sepanas Maurole. Pun tidak sesejuk Bajawa. Namun kelokan hijau menyegarkan pandangan.

Kami memilih berhenti di bukit salib. Menanjaki bukit kecil tersebut untuk menikmati lanskap pantai dari ketinggian minimalis. Bertemu dengan pasangan muda yang mengunjungi bukit salib, kami memuncak bersama.

Yeeeeeay, tidak berapa lama kami sudah memasuki area kota Maumere. Ide untuk mampir di rekan guru teman saya masih ada. Kebetulan beliau tinggal di Maumere. Kami menyengajakan mampir setelah mengingat jalan masuk ke alamatnya. Berhasil! Kami menemukan rumah rekan guru yang dimaksud. Karena ada kebutuhan yang harus dicari, kami meminta ijin pergi keluar.

Maumere lebih ramai dari Ende dan Bajawa. Tata kotanya sudah baik dan teratur. Pohon-pohon di jalan protokol lumayan banyak. Fasilitas umum yang ada tergolong lengkap. Akhirnya kami menemukan Gramedia. Sedikit mahal dari harga di Jawa memang. Tapi cukup berhasil mengobati kerinduan akan glamouritas kampung halaman.

Ini Maumere. Pelabuhan pertama yang akan memindahkan saya ke Celebes. Semoga Makassar bersahabat dan memberikan kesempatan berkarya lebih banyak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...