Langsung ke konten utama

Reuni

Di kampung halaman JK saya bertemu dengan teman SMA, satu kelas. Kami pun dulu satu organisasi di kepramukaan. Saya sebagai ketua putri, sedangkan teman saya bendahara putra. Keakraban kami sama seperti yang lain. Kebetulan rumahnya jauh dari sekolah. Ketika jelang latihan pramuka kami terbiasa nongkrong di ruangan bersama. Makan siang, ngobrol dan melakukan aktivitas lainnya bersama membuat kami mengenal satu sama lain. Saya pikir dia agak pemalu kala itu. 2009 kami lulus. Praktis setiap anak akan memutuskan hendak kemana. Saya bersama puluhan teman mengambil tes masuk d Semarang.

Selama lebih dari 7 tahun kami menjalani hidup masing-masing. Saya sibuk dengan tugas kuliah dan organisasi. Dia entah kemana. Timbul tenggelam tapi lebih banyak menghilang. Kontak pun jarang. Apalagi untuk sekadar nongkrong dan ngopi-ngopi. Bahkan reuni yang dihelat pengurus kelas hanya menghadirkan pemain lama dan semakin sepi. Dia tidak pernah hadir.

Pada pertengahan 2015 saya ke Flores. Target saya di Indonesia timur adalah mengunjungi Makassar. Siapa yang tidak tahu kota besar Sultan Hasanudin? Inilah bandar pelabuhan terbesar di timur dengan kapal besar yang mampu mengarungi samudera. Dengan modal keberanian, saya mendarat disini sepekan yang lalu.

Siapa sangka, dia tiba-tiba aktif di sosial media dan menemukan saya. Kami akhirnya mengobrol dan merencanakan reuni. Sejak 2010, bahkan 2009 usai kelulusan kami hampir tidak bertemu. Beberapa kali kontak sosial media.  Kemudian hilang lagi. Selalu begitu.

Sepertiga ramadhan pertama, dia tidak jauh berbeda. Sekurus itu. Sediam itu. Bahkan cara berpikir dan sikapnya tidak jauh berbeda dengan yang dulu. Bagaimana dengan saya? Kami pun banyak bercerita tentang pekerjaan, keluarga, cinta, dan pengalaman selama bertahun-tahun. Dia hampir menyesal tidak mengikuti saran orang tua untuk kuliah. Namun, dia pikir sudah terlalu jauh untuk kembali belajar.

Dia berkata akan mudik awal Juli. Beruntungnya setiap Idul Fitri dia mendapat tiket gratis kembali ke Jawa. Andai uang saya cukup sudah terbelilah tiket ke rumah.

Dia 25 sekarang. Seperti lelaki dewasa pada umumnya. Bulan depan saya sudah 26. Diantara teman-teman kami beberapa sudah menikah. Bahkan memiliki anak yang lucu dan menggemaskan. Diusia kami yang sudah tidak muda lagi, bekerja pun belum seserius teman lain. Kami membicarakan peluang beberapa puluh tahun mendatang. Memikirkan akan menetap dimana dan bagaimana. Tapi seolah perenungan yang tak membuahkan jawaban. Kami pun kembali bertanya pada diri masing-masing dan diam.

Ketika saya hendak pulang, dia masih keheranan dengan kehadiran saya di kota perantauannya.

"Kok bisa sih Pie? Kamu sendiri kesini. Emang gak takut? Heran aku. Cewek lagi. Lebih herannya lagi diijinin sama orang tua kamu". Saya hanya tersenyum menanggapi deret pertanyaannya. Kemudian dia menambahkan, "Kalau ada apa-apa gimana? Kan cuma aku yang disini. Nanti khawatir juga kalau kamu kenapa-kenapa". Saya sempat terdiam untuk beberapa saat. Kemudian kembali tersenyum. Entahlah, apakah saya harus sedih atau senang dengan kekhawatirannya. Ada satu haru yang kemudian menelusup dan akhirnya saya mendadak sedih.

Dia berkata lagi "Jangan pergi-pergi sendiri lagi lain kali". Kali ini nadanya benar-benar khawatir. Saya pun terpaksa mengiyakan dan sok menasehatinya. Setelah 'say hello' gagal berkali-kali, dia beranjak juga dari tempat saya berdiri. This is the time to go home Jil.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...