Langsung ke konten utama

7 jam menuju Enrekang

Kijang berwarna metal meluncur dari ibukota Propinsi Sulawesi selatan dengan kecepatan tinggi. Supir yang sudah berpengalaman pulang pergi Enrekang-Makassar tahu betul letak gang, gedung dan tata letak kota meskipun dalam tengah malam gelap. Mobil yang sempit itu diisi dengan formasi 3-4-3. Bagian depan diisi dengan 3 orang, bagian tengah 4 orang dan bagian belakang 3 orang. Praktis kami hanya bisa duduk sebisanya yang beresiko kesemutan dan pegal-pegal seluruh badan.

Kontur tanah yang stabil menjadikan rute etape pertama mulus dan tanpa tanjakan. Lurus dan lurus. Saya merasa berada di jalan tol Cipularang. Selalu menyalip mobil kontainer, truk dan yang sejenis didepan. Lagu populer 2008 hingga sekarang yang diputar justru membuat saya tidak bisa tidur. Hembusan angin dr kaca samping dan pemandangan diluar yang gelap sukses membuat 'baper'. Rumah panggung dengan berbagai model berderet sepanjang perjalanan. Oke. Antara baper, pegel dan angin malam saya memilih menutup mata. Siapa tahu bisa tertidur beberapa saat.

Enrekang merupakan jalur menuju daerah Tana Toraja. Setelah memasuki wilayanya, kita akan disuguhi dengan pemandangan hijau yang subur. Samping kanan dan kiri terasa basah khas dataran tinggi. Sisa hujan semalam menambah kesan basah dan dingin dibanyak sudut. Jalannya berkelok-kelok. Beberapa titik mengalami aspal lepas sehingga supir harus mengerem untuk menghindari goncangan keras. Meski berada pada dataran tinggi dengan orientasi penghidupan dari berkebun, rute menanjaknya masih aman untuk dilalui. SPBU dapat ditemukan dibanyak titik. Masjid pun banyak berdiri megah disana sini.

Waktu menunjukkan 5.30 waktu Indonesia timur. Udara terasa lebih dingin. Barisan bukit dan tebing membentang dengan kokoh. Ternyata tebing disini tidak kalah cantik dengan tebing di Flores. Sama-sama spektakuler dan anggun. Supir membawa kami lebih dalam memasuki gang-gang. Menurunkan dan menaikkan penumpang dikawasan pemukiman. Setelah melewati tebing mempesona, kami diturunkan disebuah tempat. Oke. Kami sampai ditempat tujuan.

Benar saja. Rumah teman saya memang panggung. Antik sekali. Kayu-kayu, cat, ornamen dan perabot didalamnya menyadarkan saya satu hal, Alhamdulillah Sulawesi luar biasa dan kaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...