Langsung ke konten utama

Di Kota Bersejarah nan Megah

Sejak dibeli Sabtu, 4 Juni tiket kapal gagal hangus. Lambelu yang gagah mengantarkanku pada pulau yang menyerupai huruf K besar. Selasa siang, saya diantar Arin, Alfin dan Ernawati (*Cupang) ke Port of L. Say Maumere. Ada sebersit haru, sedih, senang dan perasaan tidak percaya. Mereka yang baik hati mengantarkan saya jauh-jauh meski rute yang dilewati lumayan menantang. Saya sampai berkata 'Kalian cepat pulang, nanti aku bisa sedih kalau kalian masih disini'. Drama-drama terus berlanjut. Waktu yang semakin sore mengharuskan teman-teman saya pulang ke Maurole.

Di masa penantian tersebut saya berkeliling sambil memotret, memakan bekal saya di pinggir dermaga, dan menghubungi beberapa orang. Kenekatan itu belum menimbulkan efeknya. Senja turun menandakan waktu berbuka puasa. Penumpang memenuhi peron pelabuhan dengan ditemani kopi. Pukul 6 lewat, penumpang berbondong-bondong mendekati dermaga. Kapal yang entah seperti apa belum menampakkan ujung moncongnya. 45 menit kemudian, bayangan di kaca memantulkan kilatan cahaya. Apa itu kapalnya? Penumpang lain tetap berduyun mendekati dermaga. Saya memastikan kapal tengah bersandar. Selama di Jawa sudah 3 kali saya naik kapal dengan rute yang berbeda. Ketika menyeberang ke Bali, menyeberangi laut Jawa ke Karimun Jawa, dan selat Sunda menuju Sumatera. Kapal yang pernah saya naiki besarnya sedang saja. Kali ini kapal yang akan membawa saya berlayar sungguh besar. Memang tidak sebesar kapal pesiar tetapi saya merasa senang melihatnya.

Dengan berebut naik tangga, akhirnya saya masuk kapal. Mengikuti arahan petugas kelas ekonomi. Berebut lagi mendapatkan tempat tidur. Setelah mencari dan mencari, saya menemukan posisi yang baik. Disebelah saya ada perempuan seumuran dan yang masih kuliah. Bermodalkan tampang lusuh dan lugu, saya berhasil meminta anak kuliahan tersebut mencarikan tempat tinggal. 

Pelabuhan Makassar yang besar dan megah menyambut saya. Keramaiannya sungguh membangunkan saya dari heningnya Ende. Ini kota terbesar di Indonesia timur. Peti kemas bertumpuk-tumpuk di sepanjang pelabuhan. Kendaraan berplat DD mendominasi jalan raya. Inilah kampung halaman wapres RI. Kotanya belum banyak dipenuhi gedung pencakar langit. Beberapa skyacrapper merupakan hotel dan kawasan komersil, bukan kantor pemerintahan setempat.

Saya sampai di jantungnya cotto, konro dan es pisang ijo. Waw., wisata kuliner dimulai.

Pencarian tempat tinggal yang serba cepat memaksa saya membayar tarif seperti di Jakarta. Kenalan anak kuliah yang membantu saya menemukan tempat tinggal, tidak dapat memberikan tumpangan untuk sementara. Alhamdulillah, tempat yang saya dapatkan berada dalam lingkungan yang baik. Orangnya pun baik-baik.

*Ditulis beberapa hari setelah sampai Makassar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...