Langsung ke konten utama

Kuda dan Rumah Panggung

Inilah Jeneponto, salah satu kabupaten Sulawesi Selatan. Induk semang saya di Makassar mewanti-wanti untuk makan sup daging kuda. Yihaaaa, makanan apa itu? Agak kikuk juga pertama kali mendengar sup daging kuda. Biasanya kuda dipakai untuk transportasi, hobi, mahar atau mas kawin, dan peternakan. Ternyata ada di daerah Sulawesi yang memakan kuda sebagai kebiasaan lokal. Mengesankan (bukan mengenaskan lho ya).

Untuk dapat menjangkau daerah ini kita tidak perlu susah payah mengingat rute atau peta. Hanya jalan lurus saja. Jika ada pertigaan atau perempatan ambillah jalan lurus. Kebetulan saya berkesempatan membawa sepeda motor teman saya. Memang benar. Jalannya lurus mendatar. Aman untuk pengendara amatir atau yang tidak terbiasa berkendara jauh. Kita akan disuguhi pemandangan kebun semangka, persawahan, pasar dan sesekali penjual buah-buahan dipinggir jalan. Jika ingin berhenti sejenak dan shalat, ada tersedia banyak masjid di sepanjang jalan yang dilalui. Pun dengan gerai alfamart/indomart dan SPBU.

Saya diberitahu teman saya bahwa di Jeneponto mayoritas rumahnya berupa rumah panggung. Ia menceritakan betapa susahnya jika hendak ke kamar kecil pada tengah malam. Dalam benak saya sudah muncul model rumah panggung seperti apa yang ada disana. Imajinasi dan realita nyatanya berbeda lumayan jauh. Teman saya memiliki rumah panggung tetapi tidak digunakan sehari-hari. Fungsinya lebih pada ruang penyimpanan perkakas rumah tangga dan sembako. Keluarganya memiliki 'rumah batu' atau rumah tembok yang umum dimiliki orang modern. Masyarakat berkeyakinna bahwa kearifan lokal nenek moyang harus dilestarikan. Meskipun mereka memiliki rumah permanen, mereka tetap membangun rumah panggung. Sesederhana apapun bentuknya. Dari rumah panggung yang saya lihat di sepanjang jalan, ada beberapa yang sudah berarsitektur modern. Kayu bagian depan rumah diukir dengan sangat cantik bahkan ada yang megah. Beberapa menggunakan kaca jendela yang beraneka rupa, memiliki halaman yang cukup luas dan berpagar semen. Kekayaan lokal yang begitu kaya dari masyarakat Jeneponto.

Kemana mata memandang, ada rumah panggung. Dari yang sederhana hingga yang megah. Tidak sedikit yang memiliki armada roda empat dan desain rumah yang wah. Disisi lain, kehidupan sosial masyarakat dikatakan mampu karena banyak yang sudah ke tanah suci dan memiliki mobil. Rata-rata masyarakatnya bekerja sebagai pengusaha. Generasi mudanya sudah dikenalkan usaha dan pekerjaan sejak usia remaja hingga menjelang dewasa. Tidak heran jika pendidikan di kampung teman saya tidak begitu menggembirakan. Mereka bekerja dengan baik dan mampu membuat rumah panggung yang bagus. Namun sebagian anak-anak tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi sekalipun mampu. Hal inilah yang disesalkan teman saya dari kampungnya.

Dari Makassar yang eksotis dengan Losari dan kehidupan metropolitannya, Jeneponto menghadirkan pemandangan pantai-rumah panggung-kuda-tambak garam. Luar biasa. Suasana perkampungan yang khas dan dialek Makassar yang kental.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...