Langsung ke konten utama

Maurole!!!

Musim libur telah tiba. Jelang ramadhan 1437 H beserta berakhirnya tahun ajaran 2015/2016 merupakan bonus plus-plus. Prakiraan libur dan agenda sekolah telah jauh hari direncanakan. Akhir semester ini saya memutuskan untuk libur full. Satu bulan yang penuh pahala saya harap bisa maksimalkan dengan aktivitas bermakna di suatu tempat baru.

Tempat baru itu adalah Makassar. Ya, kota terbesar di Indonesia timur dengan sapaan lama 'Ujung Pandang'. Saya belum pernah mengunjunginya. Pun membayangkannya selalu gagal karena setiap kota selalu berkembang disana-sininya. Usai mempertimbangkan banyak hal, akhirnya saya berangkat ke kantor Pelni. Saya bertanya pada orang-orang yang sedang menunggu kantor buka. Yang pada akhirnya, saya berhasil mendapatkan tiket Lambelu seharga Rp. 173.000 plus biaya admin menjadi 177.000 dan Rp. 1000 yang direlakan karena tidak ada kembalian. Di dalam tiket tertera bahwa saya mendapatkan jadwal pelayaran pada 7 Juni 2016 lusa.

Bermodalkan niat kuat dan restu orang tua serta pakdhe-budhe, saya bergegas menuju pantai utara Flores. Saya harus menyusuri tebing curam untuk mendapatkan kapal yang dimaksud.

Lepas tengah hari yang panas, sepeda motor kesayangan saya pacu dengan laju sedang. Meninggalkan Ende yang membentang di pantai selatan Flores kemudian menyusuri kelok-kelok lembah menuju pantai utara.

Rutenya melewati Ende—Detusoko—Wewaria—Maurole. Percayalah, hanya Detusoko yang menawarkan udara sejuk dan menyegarkan sepanjang jalan. Jika kita lepas dari Detusoko, udara perlahan mengering dan berdebu. Kelilipan wajar. Haus lumrah. Ini Flores Bung. Wewaria lebih hangat dari Detusoko. Kebetulan hari sedang cerah (*panas) karena lewat tengah hari. Silau matahari membuat lelah. Kondisi jalanan yang diperbaiki pada beberapa ruas melambatkan laju kendaraan.

Wajah mendadak sumringah ketika melihat tulisan MAUROLE. Kecamatan ini ternyata cukup memanjang sehingga membuat saya belum juga sampai di daerah tujuan. Oh God. Mata merah akibat kelilipan kembali memerah dengan semburan debu dari otto kayu (*truk yang dibuat komersil dengan ditambahkan papan kayu untuk duduk penumpang). Saya berteriak dalam hati "Mana kotanyaaaaa? Kenapa belum sampai juga?".

Sampai saya melihat dari kejauhan kelokan pantai pasir putih, harapan mencuat. Disusul dengan armada batubara di pantai untuk PLTU. Ahaaa!! Saya sebentar lagi sampai.

Butuh 8 menit lagi untuk sampai ke kosan Arin. Malunya di 'ciye ciye' anak muda didekat pertigaan kos Arin. Selidik punya selidik, mereka adalah murid Arin. Ckckckck.

Karena hari sudah sore, Arin membawa saya ke pantai. Amboooooi. Pantai sare! (pantai indah). Surutnya permukaan air laut sampai membuat tanjung-tanjung mini di pantai. It's great. Allah Maha Indah dengan ciptaan Nya.

Ini Maurole, seluruh sudut pantainya adalah anugerah.

* Ditulis ketika lampu sudah mati. Arin sudah pulas tidur. Terimakasih Arin yang bersedia memberikan bantuan menginap dan merawat Rio selama saya pergi. Ika yang sudah menemani di Pelni dan membagi kue sarapan paginya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...