Langsung ke konten utama

Traveller dan "Daerah Abu-Abu"

Sore ini, diajari percaya kepada orang lain dan sabar menghadapi sesuatu. Seorang laki-laki yang mungkin umurnya tidak beda jauh dengan saya hendak menuju satu tempat. Dia bertanya kepada kondektur bus tentang tempat tujuan. Terlihat agak cemas karena ekspektasi rutenya tidak seperti bayangannya, tangannya aktif memegang smartphone dan menghubungi seseorang. Sepertinya baru pertama kali melewati rute ini dan berasal dari tempat yang jauh. Dalam percakapan telponnya diperkirakan dia berasal dari Jawa Tengah bagian selatan.

Kondektur bus sempat membercandai si laki-laki. Meskipun demikian, nampaknya dia justru semakin panik. Sebagai penumpang paling cantik, saya menyimak dengan seksama. Ingin tertawa tapi merasa tidak etis. Tujuannya saya tahu persis sudah tidak jauh. Suasana kian dramatis ketika matahari mulai turun dan kondektur belum memberikan kode. Karena Tuhan Maha Penyayang, tibalah di kawasan yang dimaksud. Kondektur berteriak semangat dan si laki-laki segera bersiap turun. Matahari semakin rendah di tepi barat. Sementara tujuan saya masih lumayan jauh.

Well, saya masih bisa berkata 'Hello, ini masih di Jawa lho ya Mas  Yang kendaraan umumnya bejibun dan orangnya beraktivitas dimana-mana'. Kita sering merasa takut, cemas, dan khawatir terhadap segala sesuatu yang tidak kita ketahui. Arah, nasib, kesempatan bahkan perasaan yang masih abu-abu memberikan alasan terbaik untuk membuat kita cemas. Apakah akan segera sampai? Apakah ada kesempatan untuk berusaha lagi? Apakah perasaan ini dibalas? Dan deretan apakah-apakah lain yang kian menggelisahkan. Kemudian tidak ada hal yang dapat kita lakukan selain terus melaju dan bersabar. Pertanyaan 'apakah' yang mencuat akan terjawab misalnya dengan 'kamu sudah sampai', 'selamat Pak, anda dipromosikan', atau 'mungkin kita belum berjodoh'. Sebahagia atau sesedih apapun jawaban yang kita dapatkan toh sudah menghilangkan ketakutan kekanak-kanakan yang akut. Kita bersyukur, bahwa kecemasan singkat itu menjadi cerita konyol dimasa depan.

Semakin sering kita takut, seyogyanya semakin membuat kita belajar untuk tetap tenang dalam hidup. Setiap peristiwa bisa dikisahkan dan setiap kisah mengandung hikmah. Hari ini mungkin kita merasa kesal tapi esok atau besok kita akan menertawakan ketakutan tersebut. Ketika menggelandang ke Celebes, saya sejujurnya takut. Bepergian seorang diri ke tempat yang sama sekali belum pernah dikunjungi benar-benar mengerikan. Kamu tidak tahu angkutan umum, kamu tidak kenal siapapun, dan kamu tidak bersama siapapun. Yang bisa kamu lakukan adalah bertahan hidup dengan berani bertanya dan berusaha. Saya bertanya, merepotkan banyak orang dan saling bertukar cerita dengan orang sana. Ada yang memandang takjub. Ada pula yang sampai khawatir berlebihan dengan menasehati ini itu. Faktanya, mereka sangat ramah kepada pendatang atau pelancong. Sebagai pelancong saya merasa di terima dengan baik di kota terbesar di kawasan Indonesia bagian timur tersebut.

Bukan hanya sampai Makattah (*sebutan lama untuk Ujungpandang/Makassar), tetapi diijinkan sampai Tana Toraja dan menghirup sejenak udara sejuknya. Disana saya memperoleh keluarga baru yang baik hati menerima saya selama 2 minggu. Pengalaman ketiadaan air seperti di NTT, mandi di kali yang benar-benar gila atau menaiki bukit berbatu yang terjal dengan nekat. Semuanya sangat diluar ekspektasi dan tetap menyenangkan. Kuncinya kita harus berani untuk berpetualang yang serba tidak pasti. Kita juga harus berani mendapatkan hal-hal yang jauh dibawah ekspektasi. Akhirnya kita mendapatkan pengalaman baru dengan bertemu orang baru. Semangat kembali terisi dan kita siap menjalani rutinitas.

Semoga menginspirasi untuk pergi lagi :)🙂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...