Langsung ke konten utama

Prinsip dan Prioritas

Suatu sore ada seorang ibu yang mengantarkan undangan pernikahan ke rumah. Karena masih satu komplek, tanpa basa basi beliau menyodorkannya kemudian bergegas pergi dengan setumpuk undangan lain. Bentuk undangannya ternyata sangat sederhana.

Dulu saya dan teman-teman sering berseloroh "Besok aku bikin undangan kaya undangan rapat di balai desa. Modal potokopi doang, sebar". Sontak kami pun tertawa karena seterbatas apapun kemampuan ekonomi masyrakat kami, undangan paling tidak menggunakan kertas yang agak tebal. Entah itu undangan paling murah di percetakan atau undangan yang mirip undangan pesta ulang tahun anak-anak. Undangan seperti ini dijual di toko-toko ATK. Bentuk fisiknya seperti undangan biasa. Hanya saja ada bagian yang harus kita isi nama pengantin, waktu resepsi, nama keluarga dan alamat yang dituju. Kalau undangan yang ditulis ada 200 buah, otomatis kita menulis sebanyak itu. Harganya lebih murah dibandingkan dengan undangan yang harus memesan di percetakan. Warna, ukuran, motif/gambar yang ada bisa pilih sesuka hati (*dengan catatan ada di stok). Satu-satunya kelemahannya adalah butuh kekuatan ekstra untuk menulis sejumlah keperluan pengantin. Sayangnya, kemajuan dunia percetakan menggerus model undangan tersebut.

Kembali ke fokus pembicaraan.

Undangan ini seperti undangan pada umumnya. Ukurannya normal bagi sebuah undangan dan disampul plastik. Hanya saja, undangan ini di fotokopi. Ya. Difotokopi dengan kertas F4 warna kuning kemudian dimasukan ke dalam plastik transparan. Tertegun. Dalam hati terbersit pertanyaan "Apa karena masih 1 komplek?". Sekali lagi, di kampung saya lebih berat tuntutannya. Andai saya ingin mengadakan pesta pernikahan, minimal saya menggunakan undangan yang dijual di toko atau memesan undangan paling murah dipercetakan. Selain itu, urusan sajian bisa diatur ala kadarnya dengan menu yang biasa disantap orang kampung. Maka pinjam meminjam beras, tepung, gula dan sebagainya sudah biasa terjadi. Setelah pesta usai, penyelenggara mengembalikan semua pinjaman dari amplop yang diterima.

Orang ini, sungguh percaya diri di tengah kehidupan kota pinggiran yang keras. Ia mampu menampilkan dirinya tanpa merasa malu akan dikucilkan. Pun ia menghargai tetangga dengan tetap mengundang ala kadarnya. Dewasa ini sangat jarang orang yang menunjukkan eksistensinya tanpa ribut dengan penilaian orang. Dibalik semua itu, ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Misalnya karena jarak yang dekat, budget terbatas, keinginan pribadi dan sebagainya. Saya sendiri melihatnya sebagai sebuah kejujuran untuk menunjukkan diri tanpa berlebihan dalam bersolek.

Kita senantiasa ingin tampil baik didepan semua orang. Dalam segala hal meliputi cara berpakaian, aksesoris, tutur kata, gaya hidup, dan lingkungan sosial.

Standar yang berlebihan bukan sekadar tuntutan pribadi melainkan harapan berlebihan dari semua orang. Keduanya membuat kita selalu berusaha untuk tampil sempurna dan sesuai dengan harapan orang-orang. Kondisi tersebut membuat kita menambah alokasi anggaran demi menunjang penampilan. Pakaian, kosmetik, aksesoris dan kendaraan yang layak publish dibanggakan. Bukan hanya dalam hal personal tapi juga dalam hal hunian dan perabot yang dipaksa akselerasi demi harga diri.

Realita yang ada di sekitar kita menunjukkan tidak semua orang berpenghasilan cukup. Beberapa orang memiliki trik dengan mengurangi pengeluaran dibidang lain. Yang lain rela menerapkan sistem kredit untuk barang tertentu.

Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk tidak menuruti pencitraan yang berlebihan?

Kita bisa memilih jadi diri sendiri yang apa adanya atau menjadi orang lain yang tidak pernah selesai mewujudkan harapan semua orang. Kita ingin membahagiakan semua orang tetapi yang bisa kita lakukan adalah melakukan usaha terbaik. Menjadi diri sendiri memang memiliki tantangan yang tidak mudah. Namun menjadi sosok ideal yang diharapkan juga bukan solusi jitu. Just be yourself. Ditengah kehidupan bermasyarakat yang keras kita hanya diharuskan memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki. Tentu akan sangat merepotkan jika terus menerus menuruti harapan orang lain. Pun terkesan tidak menghargai jika kita memberikan sesuatu yang asal. Maka dari itu, prinsip hidup memiliki peran untuk mendasari tindakan kita. Prinsip tersebut seperti membantu tetangga yang membutuhkan, membagi makanan yang kita masak, atau membiarkan anak-anak bermain bersama. Selayaknya kita tidak latah untuk berperilaku dan berpenampilan seperti trend kekinian. Selain menghindari diri dari sifat latah alias ikut-ikutan, kita tentu memiliki prioritas dalam hidup. Diantara prioritas tersebut antara lain membeli rumah/memperbaiki bagian yang rusak, menyiapkan dana pendidikan anak, umrah/haji, investasi kesehatan, kendaraan dan kebutuhan sehari-hari. Sebab kalau kita selalu ikut-ikutan trend kekinian, bukan tidak mungkin kitalah yang menjadi korban. Misalnya kebutuhan untuk membeli perabot yang dibutuhkan keluarga justru tertunda gara-gara membeli barang yang tidak begitu mendesak.

Bijak dalam menjadi diri sendiri tidak membuat kita buruk. Dengan menjadi diri sendiri yang memiliki prinsip dan prioritas kita tidak terbebani dengan pandangan orang lain. Mereka tidak akan ambil pusing dengan sikap kita jika komunikasi yang sehat kita tumbuhkan. Orang yang berprinsip sudah tahu apa yang diinginkan dalam hidup baik jangka panjang maupun jangka pendek. Sehingga tidak perlu memasang telinga dan mata 24 terhadap sangkaan orang sekitar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...