Langsung ke konten utama

SETIAP KEBERSAMAAN ADA MASANYA

Halo Shofiana Ulfa, terimakasih ya sudah mengajak ke deretan pantai-pantai indah yang ada di Flores. Apa kabar?

Sekarang harimu jauh lebih sibuk daripada setahun yang lalu bukan? Tanpa sempat meregangkan badan setelah terbangun, otak langsung menuju kampus berlabel D di Sekaran. Sementara badan masih menempel di atas ranjang kecil yang akan menjadi bagian dari sejarah hidupmu. Penat? Lelah? Semua teman-temanmu merasakannya. Tapi herannya kamu masih sempat membaca pesan di Whatsapp dan menumpahkan rasa penuh aroma kepadaku. Terimakasih ya, sudah percaya dan terbuka untuk berbagi cerita.

Dulu, konteks pengalaman adalah KITA. Sekarang, kita sudah disekat dengan jarak ratusan kilometer dan menghasilkan diksi AKU atau KAMU. Pengalamanku hari ini dan pengalamanmu hari ini. Meskipun memilih jalan yang sungguh berbeda, kita tidak protes atas kenyataan AKU dan KAMU. Mungkin karena persoalan teknis lebih mewabah seperti RPP, presentasi, jemuran yang harus diangkat, bacaan yang masih ribuan lembar atau perasaan jenuh pada diri masing-masing. Kamu tidak memaksa diri untuk mengatakan 'Ayooo meet up kapan-kapan'. Aku juga tidak merengek seperti 'Huaaaaa, kapan bisa nyangsang di asrama yang kutinggalkan sebelum berada disana?'. Semoga aku tidak pernah mengatakan hal absurd semacam itu ya Shof. Hehe.

Kita tidak saling iri atas hidup yang lain. Bahagia dan sedih itu wajar, manusiawi. Kesulitan yang ada didepan mata tidak menunggu kita untuk bersantai ria. Maka mengeluh, kesal, merasa lelah dan tertekan dicurahkan sebagaimana orang pada umumnya. Terimakasih sudah mendengarkan dan membersamai. Obrolan sederhana seputar lagu barat terbaru adalah hiburan yang menyenangkan.

Aku tidak bisa menjanjikan kebersamaan di lain kesempatan walau hanya satu jam. Selalu ada keinginan untuk berjumpa dan bertukar rasa tapi tidak semendesak itu untuk diwujudkan. Aku rindu walau mendengar kamu mendengus kesal. Sesekali memuji, sesekali menimpali dengan sarkas. Sakit hati? Hmmm, mungkin iya. Percayalah tidak sepenting itu menimbang-nimbang apakah aku sakit hati atau tidak. Faktanya kita memilih melakukan beberapa perjalanan bersama. Aku bahagia. Kamu? Semoga demikian.

Pada akhirnya, kita saling menyapa dari kejauhan. Mungkin berkurang sangat drastis pada suatu hari nanti. Entah kita lebih memilih kehidupan sendiri dan menghadapi kehidupan dengan orang-orang baru. Entah kita sadar bahwa rute perjalanan memang tidak menunjukkan arah yang sama. Aku tidak apa-apa. Maksudnya, setiap orang mengalaminya. Bertemu, berteman, berpisah, kadang bertemu, berpisah lagi, berpisah terus dan begitu seterusnya. Ada pula yang tidak pernah menyapa sama sekali di kemudian hari. Bagaimana menurutmu?

Semoga ada kesempatan baik untuk kita saling menatap nyata. Saling mengenalkan hidup yang baru dengan berbagi rasa yang lebih baru. Aku harap kamu baik-baik saja sekarang dan di waktu yang akan datang.

Terimakasih banyak atas kebersamaan dan pertemanan selama ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...