Langsung ke konten utama

Lomba Lari

Semua peserta telah siap digaris start dan menunggu tanda peluit untuk mulai berlari. Penonton memberikan semangat melalui teriakan, tepuk tangan dan musik-musik penggembira. Petugas melihat tanda waktu di tangan dan meniupkan peluitnya. Wussssssh. Semua pelari menapaki satu demi satu langkah mereka. Ada yang santai sambil menghitung ritme. Ada yang maksimal. Ada yang berjaya di lini depan. Ada yang masih di belakang mengejar ketertinggalan.

Waktu terus berlalu dan jarak lintasan yang harus diselesaikan semakin berkurang. Peserta lari menunjukkan performa terbaik selama beraksi di lintasan. Lelah? Tentu. Jarak tempuh maish tersisa 100 meter lagi. Dalam perlombaan lari, kita tidak peduli siapa yang sampai finish di urutan ke 6 atau ke 18. Yang paling utama adalah yang pertama dan yang terakhir. Namun kita jarang merenungkan bahwa semua peserta akan melewati garis finish. Sekalipun peserta yang terakhir sampai. Kecuali jika ada yang cedera atau merajuk hingga memutuskan berhenti akan lain cerita.

Semua peserta perlombaan lari menyelesaikan jarak lintasan mereka. Selelah apapun fisik mereka dengan matahari yang terik menyengat kulit. Semua pelari akan sampai di garis finish. Semua orang tahu hal itu. Adakah orang yang berpikir bahwa pelari terakhir merupakan oranf yang hina dan pantas diolok-olok? Saya pikir tidak. Adakah orang yang berpikir untuk mengolok-olok sang juara? Saya pikir tidak.

Dalam kehidupan, kita disuguhkan dengan kenyataan bahwa semua orang tengah berlomba meraih sesuatu. Gelar, jabatan, kekayaan bahkan pernikahan. Faktanya semua orang berusaha untuk hal tersebut. Argumen yang menyesatkan adalah orang yang masih susah atau miskin dipandang hina. Orang yang masih bekerja sebagai bawahan tidak dianggap telah berusaha sekeras tenaga. Ada pula yang memandang bahwa orang single harus segera menikah. Jika kenyataannya agak mengecewakan, tapi kita sadar bahwa kita hidup diantara orang-orang yang beranggapan kita harus begini setelah ini. Kita hidup diantara orang yang memandang bahwa kalau kita gagal terus, selamanya kita akan mengalami kesulitan.

Saya dan teman-teman yang masih single sering dihujani dengan sapaan 'Mblo'. Biasanya mereka menyapa lengkap, 'Mblo, kapan mau nikah 2018 udah 11 bulan lagi lho?'. Seolah pernikahan adalah perlombaan lari dimana semua orang harus jadi juaranya. Bagaimana bisa? Seandainya ada seseorang yang belum menikah hingga usia 40 tahun, itu sesuatu yang kasuistik. Pun tidak bisa kita menghakimi mereka dengan pertanyaan menyakitkan dan menyudutkan.

Setiap orang punya prioritas persoalan dalam hidup. Karir, keluarga, sosial, atau apapun itu. Seperti perlombaan lari yang kesemuanya mencapai finish. Tidak peduli apakah kita menjadi pelari pertama atau terakhir, kita akan melewatinya. Sebuah garis yang mengantarkan kita pada kehidupan yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kita menuju garis yang sama, entah mencapainya dalam waktu bersamaan atau kau duluan lantas kami kemudian. Tolong jangan pandang hina kami yang datang belakangan. Lihatlah, kami sama kerasnya berjuang sepertimu. Kami tidak memandang remeh kalian yang sampai duluan. Justru menghargai jerih payah kalian yang lebih besar dari kami. Dari kalian kami belajar. Banyak hal. Kesabaran, kegigihan, semangat, menikmati perjalanan dan membagi kebahagiaan.

Jika kau sampai garis finish lebih dulu, tolong sambut kami yang datang kemudian untuk merayakan setiap kemenangan yang kita perjuangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...