Langsung ke konten utama

Have a Song on Your Lips [ sesi I ]

Ini sebuah film lama dari Jepang dengan genre remaja. Seperti kebanyakan film Jepang dan Korea yang sarat rasa dan makna, film ini padat berisi. Menyoroti dari sisi manapun akan menemukan pelajaran yang berharga.

Saya menemukan beberapa makna dalam Have a Song on Your Lips. Ada tiga tokoh yang saya soroti dan memiliki kisahnya masing-masing. Yang pertama tentang Kashiwagi sensi, guru pengganti untuk klub paduan suara. Yang kedua, kehidupan Kuwahara sang anggota baru klub paduan suara. Yang terakhir, kisah Nazuna sang pemimpin klub paduan suara tersebut. Orang-orang didalamnya memiliki kisah yang berbeda satu sama lain dan tidak bersentuhan. Melihat film ini seperti melihat 3 film yang berbeda karena ketiganya diceritakan dengan kisah mereka. Tulisan pertama akan melongok rupa Kashiwagi sensei yang menjadi guru pengganti di sebuah sekolah kecil. 

Kashiwagi sensei sedang dalam proses merelakan kekasih yang telah pergi karena kecelakaan. Kejadian traumatis ini membuat Kashiwagi berhenti memainkan piano. Kehilangan kekasih yang didambakan membuat sang perempuan 'stuck' dan menerima tawaran temannya untuk mengajar. Guru cantik tersebut mengambil peran sebagai pelatih klub paduan suara di sebuah pulau kecil. Ia memasukkan anggota laki-laki ke dalam klub dan mengajarkan banyak hal tentang menyanyi, lagu dan ditunjang latihan fisik. Sayangnya, ia tetap enggan memainkan piano dihadapan anggota klub yang kebetulan akan menghadapi suatu perlombaan. Begitupun ketika dalam suatu upacara dan diminta oleh dewan guru untuk memainkannya. Nazuna, sang ketua klub memohon kepadanya agar mau memainkan piano untuk mereka. Susah payah Nazuma membujuk guru cantiknya. Pada suatu hari, akhirnya Kashiwagi luluh akan permintaan Nazuna. Lagu pertama yang dimainkan oleh Yuri adalah instrumen Time milik Depapepe. Begitu tuts piano ditekan, anggota klub langsung menghambur ke ruang latihan dan berdecak kagum. Gurunya telah memutuskan untuk bermain piano lagi. Ternyata bukan hanya Nazuna yang membujuknya. Mastuyama sensei yang kebetulan temannya yang sedang cuti melahirkan terus membujuk Kashiwagi untuk mengingat suratnya pada usia 15 tahun. Kashiwagi tahu bahwa ia bermain piano semata-mata agar orang lain bahagia ketika mendengarnya. Setelah kematian kekasihnya, ia merasa tidak memiliki semangat itu lagi. Keberadaannya di pulau tersebut membuatnya sadar akan mimpinya sejak usia 15 tahun. Ia memutuskan untuk tidak lagi berlari setelah sekian lama melarikan diri dari kenyataan yang ada. Kashiwagi memutuskan untuk maksimal dalam mempersiapkan lomba paduan suara.

Satu tahun untuk merelakan kekasih yang telah pergi dan belum berhasil juga. Hanya hitungan minggu, murid dan temannya telah menyadarkan untuk kembali pada dirinya yang sebelumnya. Kashiwagi seorang pianis yang sejak remaja belajar keras demi kemahirannya. Ia kemudian terkenal dan mengalami kisah cinta yang menyedihkan. Dirinya bangkit dari kesedihan masa lalu dan memutuskan untuk melanjutkan hidup.

Tidak hanya Kashiwagi yang memiliki sisi gelap kehidupannya. Setiap orang memilikinya baik ditampilkan maupun tidak. Ketika hidup tiba-tiba gelap dan kita kehilangan cahaya, semua hal mendadak berhenti. Namun ibarat perahu yang kita tumpangi oleng, kita harus tetap berenang karena bagaimanapun kita akan sampai di pantai. Masalah yang datang seolah hendak membunuh kita secara perlahan. Kita hanya diharuskan untuk terus berjalan, terus berenang, terus berlari. Toh kita akan sampai pada tujuan jika kita tetap berusaha sebaik-baiknya.

Jilvia 👒

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...