Langsung ke konten utama

Have a Song on Your Lips [ sesi III habis ]

Orang yang memiliki kisah hidup tidak menyenangkan biasanya tumbuh menjadi orang yang keras. Keadaan ekonomi yang pas-pasan dapat membuat orang menjadi perhitungan dan cermat dalam urusan perencanaan. Orang yang pernah ditinggalkan keluarganya, berpeluang tumbuh menjadi orang cuek atau justru sebaliknya. Hal tersebut memang tidak bisa disama-ratakan. Ada orang-orang yang tumbuh sebagaimana mestinya. Semua orang belajar dari hidupnya dan dari hidup orang lain.

Nazuna tinggal bersama kakek dan nenek sejak ditinggalkan ayahnya. Ibunya meninggal ketika ia masih kecil. Ayahnya lebih memilih tinggal dengan istri barunya. Kehidupan yang dijalani Nazuna jauh dari kecukupan. Ia hidup dengan sederhana bersama kakek neneknya di pulau tersebut.

Nazuna menjadi ketua klub paduan suara dan bertemu dengan Kashiwagi sensei di gereja. Setiap pagi ia menyempatkan diri untuk berdoa di gereja sebelum mengayuh sepeda ke sekolah. Kashiwagi hanya diam saja ketika ia menyapanya untuk pertama kali.

Dalam usaha untuk membujuk Kashiwagi bermain piano lagi, ia menceritakan kisah hidupnya. Ada penyesalan atas kelahirannya. Andai ia tidak dilahirkan dalam keluarganya. Mungkin ia tidak akan mengalami kehidupan yang menyedihkan. Ibunya sangat baik kepadanya dengan mengajari bernyanyi atau menghiburnya ketika sedih.

Bagaimanapun kondisi Nazuna, ia tetap menjalani hidupnya dengan baik. Ia bersekolah seperti teman-teman seusianya, mengikuti klub paduan suara dan menjadi ketuanya serta mengikuti perlombaan paduan suara. Ia berharap, Kashiwagi sensei kembali bermain piano dan membantu anggota klub mempersiapkan perlombaan.

Sampai ia berlari ke atap karena merenungi nasibnya sendiri. Ia menangis sendiri. Nazuna mendengar Kashiwagi memainkan tuts kembali. Kemudian anggota klub berhamburan dan memuji permainan piano Kashiwagi sensei.

Sebagai ketua klub ia merasa bertanggungjawab terhadap kesiapan klubnya. Ia selalu berkonsultasi dengan Matsuyama sensei karena merasa tidak cocok dengan cara Kashiwagi mengajar.

Waktu perlombaan semakin dekat. Anggota klub benar-benar maksimal dalam latihan. Hingga waktunya tiba. Semua anggota bergembira. Apalagi orang tua dan keluarga datang untuk menyemangati. Sayangnya, kakek dan nenek Nazuna tidak dapat hadir. Sebagai gantinya kakek Nazuna berdoa dirumah untuk keberhasilan klubnya. Dengan kemampuan dan semangat seluruh anggota klub akhirnya mereka menampilkan performa terbaik. Riuh gemuruh tepuk tangan penonton membahagiakan semua orang.

Jika semua orang hidup dengan tanpa kendala, tidak akan ada orang hebat dan pecundang. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing yang membuatnya berjuang dengan keras. Kashiwagi, Kuwahara dan Nazuna sungguh berbeda cerita. Mereka belajar menghadapi ujian dengan cara mereka sendiri. Namun pada akhirnya setiap orang saling belajar jika melihat bagaimana orang lain hidup.

Kashiwagi tidak memberikan hal yang luar biasa bagi klub. Namun ia memberikan pengalaman luar biasa bagi anggota klub. Kuwahara memang tidak lantas menjadi orang hebat. Pun dengan Nazuna yang justru dicurangi Ayahnya ketika singgah ke rumah.

Dari film tersebut kita melihat bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. Kashiwagi kemudian kembali ke kota. Tugasnya telah selesai dan temannya kembali mengajar anggota klub.

Jilvia 👒

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...