Langsung ke konten utama

Have a Song on Your Lips [ sesi II ]

Kehidupan anak-anak selayaknya seperti anak-anak pada umumnya. Mereka memiliki waktu untuk bermain dan mengembangkan kemampuan mereka dengan mengikuti les atau menekuni hobi. Kondisi ini tidak bisa dialami oleh Kuwahara. Ia adalah anggota baru dalam klub paduan suara. Kualitas suaranya bisa dibilang luar biasa untuk remaja yang tidak pernah masuk klub paduan suara. Teman-teman sesama anggota baru malah meminta diajari untuk memiliki vokal yang bagus seperti dirinya.

Kuwahara merupakan bungsu yang memiliki kakak laki-laki berkecenderungan down syndrome. Setiap hari ia harus mengantar kakaknya membantu di gerai milik tetangganya dan menjemputnya sepulang sekolah. Begitu setiap berangkat dan pulang sekolah. Ia mendapat tugas mulia dari kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Bagaimana ia hendak menolak jika hanya dirinya yang bisa diandalkan? Bertahun-tahun hidupnya demikian sampai ia memilih masuk klub paduan suara. Pada latihan pertamanya, Kuwahara terlambat menjemput kakaknya. Ayahnya marah besar, tetapi ibunya dengan lembut menanyakannya. Kondisi yang serba sulit membuatnya meninggalkan klub. Ia tidak tega dengan kakaknya dan orang tuanya. Pada latihan berikutnya ia tidak hadir. Ketidakhadirannya membuat Kashiwagi sensei menitipkan tugas membuat surat kepada teman sekelasnya. Ia memberanikan diri untuk meminta ijin masuk klub. Tak disangka, ibunya bersedia menjemput kakaknya setiap sore. Alhasil Kuwahara bisa kembali mengikuti klub paduan suara.

Pada suatu hari, Kashiwagi sensei menghampiri Kuwahara. Ia mengapresiasi surat yang dibuat muridnya tersebut. Dalam surat tersebut Kuwahara menulis hal yang membuat Kashiwagi terhenyak. Seolah surat tersebut memiliki kekuatan untuk menyentuhnya. Kuwahara sadar bahwa kakaknya sangat bergantung pada orang lain, termasuk dirinya. Ia harus menjaganya setiap saat agar tidak menimbulkan kekacauan. Ia menganggap bahwa kehadirannya dalam keluarga semata-mata untuk menjaga kakakknya setelah mereka berdua meninggal. Kuwahara tidak mengeluh. Justru merasa bertanggungjawab atas kakaknya. Jika kakaknya tidak mengalami down syndrome, dirinya tak akan dilahirkan. Orangtuanya hanya akan memiliki kakaknya. Karena merasa kakaknya butuh seorang adik, orang tuanya memutuskan untuk memberikannya saudara. Kuwahara menjaga kakaknya dan ingin menjaganya sampai kapanpun. Itulah hidupnya. Ia tidak lagi cemas akan masa depan karena ia tahu bahwa hidupnya semata-mata demi kakaknya.

Adegan ini menyentuh sekali ditambah dengan kata-katanya saat menolak tumpangan gurunya. Ia berkata "Tidak usah, tidak apa-apa. Aku senang berjalan bersamanya. Aku senang menghabiskan waktu bersamanya". Menjadi adik dari seseorang yang memiliki down syndrome memang tidak mudah dijalani. Kita harus belajar bersabar sesabar-sabarnya. Mimpi dan cita-cita yang utopis tetapi dimiliki oleh semua remaja harus dikikis agar tetap realistis. Saya melihat betapa dewasanya Kuwahara menjalani perannya. Ia tidak mengeluh akan tanggungjawabnya. Meskipun hal tersebut bukan hal yang dilakukan kebanyakan orang. Sadar akan keinginannya, ia pun mau mengutarakannya kepada orang tua. Walaupun Ayahnya menolak karena sudah kerepotan dengan urusan kakaknya. Ia tetap berusaha dan legowo ketika keadaan tidak memungkinkan untuk mengikuti klub.

Anak-anak yang dibesarkan dengan keterbatasan dan kesulitan, lebih banyak belajar tentang kesederhanaan dan sikap menerima. Mereka bukan tidak memiliki keinginan. Mereka justru memiliki lebih banyak keinginan daripada teman-teman mereka. Pada satu sisi mereka paham bahwa hidupnya dan hidup orang lain sungguh berbeda. Ini hidupnya dan itu hidup mereka. Kuwahara sadar, ia memiliki kehidupan yang berbeda dengan teman-temannya. Namun ia memiliki ketegaran hati yang besar untuk anak seusianya.

Jilvia 👒

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...