Langsung ke konten utama

Pemahaman dalam Pendidikan


Pemahaman erat kaitannya dengan fungsi kognisi yang dimiliki oleh seseorang. Siswa dikatakan paham apabila telah melalui proses berpikir yang didalamnya terdapat proses mengolah konsep kemudian proposisi, dan kesan mental yang membentuk skema kognitif (Wade dan Tavris; 2007).

Dalam kamus psikologi ada beberapa istilah yang dapat dikaitkan dengan pemahaman seseorang. Ada dua kata yang membantu kita untuk menelaah pemahaman sebagai suatu proses. Kata yang pertama yaitu understanding (pengertian) yang memiliki beberapa arti; 1. proses memahami arti, 2. dalam penelitian sejarah perupakan keampuan individu untuk memahami arti, 3. simpati: perasaan suka terhadap titik pandangan orang lain. Kata yang kedua yaitu cognition (kognisi, pengenalan, pengertian)  yang berarti satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan. termasuk didalamnya ialah mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, berpikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai.

Understanding dapat diartikan sebagai (pengertian), kognisi, dan berpikir yang disampaikan ahli memberikan masukan bagi peneliti untuk menyimpulkan bahwa pemahaman merupakan serangkaian proses yang terdiri dari mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, memperkirakan, berpikir, mempertimbangkan, menduga, dan menilai suatu hal.

Menurut Feldman (2012:299) berpikir merupakan manipulasi dari representasi mental suatu informasi. Feldman menambahkan bahwa dengan berpikir, kita dapat mengubah representasi yang kita dapatkan menjadi modal bagi kita untuk menyelesaikan suatu masalah.

Berdasarkan pengertian penulis tentang pemahaman terdapat rangkain proses meliputi mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, memperkirakan, berpikir, mempertimbangkan, menduga dan menilai suatu hal. Siswa dikatakan paham apabila mampu melalui tahapan itu dengan baik misalnya siswa dapat memperkirakan hasil ulangan di kelas matematika ketika sebelumnya belajar maksimal. Contoh lain dalam kaitannya dengan studi lanjut, siswa dapat memperkirakan jenjang studi selanjutnya setelah lulus dengan memperhatikan hasil belajar, kondisi keuangan keluarga dan potensi diri.

Dalam pendidikan tujuan pembelajaran disesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar. Scriven (1967) dalam Arikunto (2012:127) menyebutkan tiga hubungan yang harus ada dalam pembelajaran yaitu 1. tujuan kurikulum dengan bahan pelajaran, 2. bahan pelajaran dengan alat-alat evaluasi, dan 3. tujuan kurikulum dengan alat-alat evaluasi. Arikunto (2012:128) menyatakan bahwa keberhasilan dari tujuan pendidikan yang berwujud tingkah laku merupakan definisi dari taksonomi dalam pendidikan. Tingkah laku yang dimaksud meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Tenaga pendidik mengenal taksonomi seperti yang disampaikan Bloom dan kawan-kawan pada 1956. Konsep ini membagi tingkatan perilaku berpikir kedalam enam tahap yaitu knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, dan evaluation. Hingga tahun 2001, Krathwohl menyempurnakan konsep taksonomi tersebut. Taksonomi yang disempurnakan oleh Krahtwohl disebut Revisi Taksonomi Bloom. Krathwohl merevisi beberapa bagian dari taksonomi bloom yang pertama menjadi remembering, understand, apply, analyze, evaluate, dan create.
Dalam revisi taksonomi Bloom, pemahaman termasuk tingkatan berpikir kedua siswa setelah tahap mengingat (remember). Taksonomi Bloom Revisi terinci dalam enam tahapan yaitu:
1)    Remembering
meliputi recognizing (mengenal) dan recalling (mengingat kembali).
2)    Understand
meliputi interpreting (menafsirkan), exemplifying (memberi contoh), classifying (mengelompokkan), infering (menarik inferi), comparing (membandingkan), explaning (menjelaskan), dan summarizing (merangkum).
3)    Apply
meliputi executing (menjalankan) dan implementing (mengimplementasikan)
4)    Analyze
meliputi differentiating (menguraikan), organizing (mengorganisasikan), dan atributing (menemukan makna tersirat).
5)    Evaluate
meliputi checking (memeriksa) dan critiquing (mengkritik)
6)    Create
meliputi generating (merumuskan), planning (merencanakan), dan producing (memproduksi)

Fase pemahaman diartikan Daryanto (2008:106) sebagai fase yang perlu mendapatkan penekanan dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut untuk memahami isi yang disampaikan oleh guru dan mengkomunikasikannya dengan baik. Daryanto (2008:106) menyebutkan ada tiga kemampuan pemahaman yang dapat dikembangkan dalam diri siswa yaitu 1. menerjemahkan (translation), 2. menginterpretasi (interpretation), dan 3. mengektrapolasi (extrapolation).

Kemampuan menerjemahkan  (translation) merupakan kemampuan untuk mengubah konsep abstrak menjadi konsep yang lebih nyata berupa simbol yang mudah dipahami orang lain. Kata kerja operasional yang digunakan dalam kemampuan menerjemahkan yaitu menerjemahkan, mengubah, mengilustrasikan, dan sebagainya. 

Kemampuan interpretasi (interpretation) lebih dari sekadar kemampuan menerjemahkan. Kemampuan interpretasi membantu siswa dalam menafsirkan suatu persoalan dengan pengetahuan yang dimiliki siswa. Kemampuan ini didapatka dari latihan yang cukup dengan guru sebagai fasilitatornya.

Kemampuan ekstrapolasi (extrapolation) menuntut kemampuan yang lebih tinggi dari siswa. Selain menafsirkan, siswa dituntut untuk menemukan solusi atas persoalan yang diajukan. Misalkan ada soal matematika 2-4-6-8-..-... maka siswa harus mengisi titik-titik tersebut dengan kemampuan ekstrapolasinya. Kata kerja operasional yang dapat digunakan yaitu memperhitungkan, menduga, membedakan, mengisi, menentukan, meramalkan, memperkirakan, dan menarik kesimpulan.

Pemahaman tidak dapat terpisah dari bagian lain dalam taksonomi Bloom sehingga mendukung bagian lain dalam proses pembelajaran. Peran guru dalam meningkatkan pemahaman siswa yaitu memfasilitasi proses belajar siswa dengan perlakuan yang tepat. Perlakuan yang diberikan guru kepada siswa tentunya berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini didasarkan pada gaya belajar siswa, potensi yang dimiliki. Pada akhirnya, peran guru begitu besar dalam hal pendampingan pembelajaran di sekolah. Sudah selayaknya setiap guru mengupgrade kompetensi diri agar mampu memenuhi tuntutan perkembangan jaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...