Langsung ke konten utama

Saya Menyebutnya Rentetan Karir [Bagian I]

Menentukan masa depan seperti melukiskan sesuatu di atas kanvas. Sehelai kain putih gading itu akan memberikan kita ruang untuk memadu-padankan warna. Jika hari kemarin kita telah menyelesaikan salah satu bagiannya, hari ini kita akan menyelesaikan bagian yang lain. Pengalaman-pengalaman menyelesaikan bagian per bagian, bisa kita sebut dengan karir.

Membicarakan karir merupakan sesuatu yang membangkitkan semangat untuk berusaha melakukan kerja-kerja kita. Euforia untuk merancang dan memilih sudah pasti menghinggap dalam benak kita karena sebagian besar manusia senang sekali merancang dan mereka-reka. Bagi yang telah melampaui masa ujian akhir dengan baik, sekarang saatnya untuk mempertimbangkan pilihan karir yang ada.

Setiap pilihan karir diawali dengan fase transisi dari A ke B, dari sekolah ke sekolah lagi atau kerja. Inilah masa penentuan dimana alternatif pilihan sudah ada dan tinggal memilih, pasca lulus. Momentum kelulusan merupakan suatu kebanggaan bagi seseorang yang berada pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Fase akademik telah dilampaui dan memasuki fase yang baru dalam masing-masing tingkatannya. Jika kamu baru saja mengikuti ujian nasional dan dinyatakan lulus maka pilihannya yaitu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau bekerja. Begitupun dengan mahasiswa S1 dan S2 pada jenjang pendidikan tinggi. Selalu akan ada pilihan bagi kita untuk menyelesaikan lukisan masa depan yang tengah kita buat.

Apakah kamu berada dalam persimpangan?
Mau kemana setelah lulus? Sekolah lagi, kerja atau menganggur?

Tidak ada pilihan menganggur dalam hidup sekalipun pada akhirnya kita terpaksa berhenti sejenak untuk melakukan segala sesuatunya karena memang masih mencari kerja atau sekolah. Stres pada masa ini wajar dialami siapa saja sekalipun sudah bergelar magister. Tetapi yang perlu kita syukuri bahwa selalu ada rezeki dan kesempatan yang diberikan Nya kepada kita untuk memilih rentetan karir yang akan kita lukis. Dalam masa yang belum tentu pun kita mesti bersabar dalam ikhtiyar kita agar hasil yang didapatkan bisa berkah.

Seperti khalifah besar Umar bin Khattab yang mengatakan bahwa ""Jika aku diberikan dua buah kendaraan, yaitu syukur dan sabar, maka aku tidak akan peduli kendaraan mana yang akan kunaiki. brsyukur akan nikmat Nya kemudian bersabar dalam setiap langkah yangg kita ambil akan lebih baik daripada berputus asa terhadap rahmat Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Keep Silent

Cuaca lumayan terik diangka 11.20 am dengan banyaknya calon penumpang di halte TransJakarta. Lebih dari 5 bus yang bertuliskan "TIDAK MELAYANI PNP" melaju tanpa berhenti. Sempat berpikir bus yang saya tunggu tidak beroperasi hari itu. Namun saya yakin ada bus yang beroperasi ke lokasi yang saya tuju. Seorang ibu menjinjing tas berdiri dibelakang saya. Ia sempat menanyakan bus yang ditunggu dengan sedikit kesal. Berusaha menyalurkan kekesalannya dengan komentar yang tidak perlu kepada calon penumpang lain. Ia mengeluhkan bus yang tidak secepat yang diharapkan. Padahal belum menunggu lebih dari 5 menit. Beberapa penumpang lain yang datang hampir bersamaan dengan saya bahkan sudah menunggu lebih dari 10 menit. Mereka cemas menunggu tetapi mampu menahan diri untuk tidak protes dan mengeluh. Seorang pria membunuh kebosanan dengan bermain smartphone. Mbak-mbak dengan tas cangklong celingukan melihat setiap bus yang terlihat dari kejauhan. Yang lain terus melihat jam tangan, menghe...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...