Langsung ke konten utama

Bintang, Kembang Api, Rambutan dan Pesawat

Saat memandang langit malam di teras rumah, rasanya ingin memetik bintang yang ada di atas saya. Saya tidak perlu membeli kembang api untuk dinyalakan karena memang sudah semarak oleh bintang. Apabila saya keluar dan masih di teras rumah, rasanya seperti berada di observatorium. Bintangnya tepat di atas kepala saya. Begitu dekat.

Langit memang sebagian tertutup dedaunan rimbun rambutan yang hampir matang seluruhnya. Namun hangatnya bintang tidak terhalang pohon tetangga yang selalu menambah sejuk halaman rumah saya. Pohon yang sudah bertahun-tahun menjadi pelindung dan pemberi rezeki itu benar-benar membawa keberkahan.

Yang membahagiakan yaitu ketika momentum Idul Fitri atau Tahun Baru. Meski sudah ada ratusan kembang api yang dinyalakan, tetap saja keluarga saya membeli beberapa buah untuk dinyalakan sendiri. Bukan berapa meriahnya cahaya yang tercipta dari kembang api. Bukan. Melainkan ukhuwah yang tak sengaja terpercik diantara lengkingan cahaya. Maka sudah menjadi undangan lisan ketika adik dan keponakan saya merengek-rengek di beranda rumah. Mereka mengajak tetangga untuk menyalakan kembang api satu per satu. Sekali lagi, yang semarak bukan hanya langit. Melainkan hati yang meletup-letup oleh kebersamaan.

Andai malam ini di Semarang dan melihat kerlip lampu berjalan di udara pasti dapat ditebak itu pesawat. Baik itu pesawat komersil atau bukan. Saya pun pernah landing dari Jakarta sekitar pukul 9 malam. Respati Oktaviani pernah mengatakan bahwa ia selalu terbangun pada pukul 1 dini hari karena deru pesawat. Dia pun bertanya, "rute penerbangan kemanakah?". Suatu hari saya berandai-andai bersama teman saya Farah Riyantika. "Setiap kali memandang langit dan mendapati ada pesawat pasti langsung berharap ada seseorang yang mengirimkan pesan dan mengabarkan bahwa ia ada di bandara". Selalu begitu.

Andai malam ini saya berada dibawah langit Cilacap bagian barat dan melihat lampu sign pesawat dari arah tenggara lantas terbesit pertanyaan "pesawat dari mana ya?". Mengingat wilayah Cilacap yang posisinya di Jawa bagian Selatan dan berada persis di sebelah Samudera Hindia. Sambil tersenyum "mungkin pesawat dari Jogja atau dari Aussie".

Sedari kecil saya begitu gembira dengan deru pesawat yang terbang di atas langit rumah. Saya melihatnya dari bawah dan meneriakan sapaan konyol hingga melambaikan tangan bahkan berlarian seolah hendak mengejar.

Jika kamu pernah mengintai rambutan milik tetangga untuk sekadar berharap menikmatinya tanpa susah payah menanamnya, menjuntaikan tangan ke langit seolah hendak memetik bintang, atau berlarian menyambut pesawat yang terbang melintas  maka kamu punya keceriaan yang sesungguhnya.

Saya mengalaminya dan masih euforia dengan deru pesawat, bintang, rambutan dan kembang api. Namun saya selalu berharap ada seseorang yang menelpon saya seusai pesawat terbang merendah di langit Semarang. Entah sahabat, entah manusia yang hidup di sisa hidup saya. Semoga waktunya akan tiba :)

29 Juli 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...