Langsung ke konten utama

SAYANG ANAK

Kemarin siang saya melihat tayangan yang mewawancarai Anggun C Sasmi di stasiun TV swasta. Eksistensi Anggun di dunia musik sudah tidak diragukan masyarakat. Lagu-lagunya pun dinikmati masyarakat dunia. Sebagai perempuan yang berdarah Indonesia, Anggun menjadi kebanggaan tersendiri bagi penikmat musik tanah air. Karir yang mulus ternyata tidak sejalan dengan kehidupan pribadinya. Ia jatuh bangun membangun bahtera rumah tangga hingga kini pernikahannya yang keempat.

Dibalik suka dukanya menjalani kehidupan sebagai penyanyi, ada statement Anggun yang memikat saya. Presenter yang luwes mengulik kehidupannya bertanya tentang putrinya yang sudah remaja. "Aku gak mau membebani dia dengan status aku yang seorang artis. Dia gak pernah aku foto kelihatan mukanya. Kadang aku foto dari belakang atau aku tutup pake sesuatu. Aku gak mau mengganggu kehidupan pribadinya dengan ketenaran ibunya". Saya merenungi kalimat itu cukup dalam. Banyak artis yang memposting tingkah menggemaskan anak mereka bahkan sampai live siaran infotainment saat melahirkan. Setiap fase perkembangan tidak pernah luput dari sorotan media. Meskipun tidak sedikit yang agak tertutup perihal kehidupan anak mereka.

Apakah setiap anak yang terlahir dari public figure, artis, pengusaha terkenal atau pejabat publik mendapatkan beban psikologis yang lebih berat ketimbang teman-temannya yang lahir dari kalangan biasa? Apakah anak tersebut memiliki beban atau tanggungjawab yang lebih besar untuk menjaga nama baik orangtunya ketimbang mereka yang orangtuanya berstatus sosial bukan sorotan media? Apakah mereka terbatasi gerak geriknya karena selalu tersorot kamera dan rentan gunjingan masyarakat?

Sudah menjadi tugas anak untuk menjaga nama baik orang tua dan keluarganya. Anak-anak menjadi representasi dari cara hidup orangtuanya. Jika orangtuanya pejabat publik, masyarakat meletakkan peran tambahan yang harud dilakukan anak yaitu berprestasi dimanapun ia berada. Hal ini menjadi berat jika penanaman karakter kepada anak terganggu dengan sibuknya orangtua pada karir mereka. Anggun menyadari statusnya sebagai publik figur yang dituntut masyarakat agar tanpa cela dalam bersikap dan mendidik anak. Ia mampu melakukan pencitraan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi ia tidak ingin anaknya merasakan beban tersebut. "Kamu gak harus gitu, kamu bebas berekspresi seperti remaja lain diluar sana. Jangan terbebani dengan status ibu".

Selera dalam mendidik anak tidak sama antar satu orang dengan orang lain. Kita melihat Anggun begitu menjaga privasi anaknya agar tumbuh berkembang tanpa batasan sosial yang tidak perlu menurutnya. Bagaimana dengan orangtua lain? Tidak sedikit mereka yang suka membagikan foto-foto anaknya dan bagaimana tumbuh kembang mereka. Itu sah saja. Toh anak sendiri yang mereka (*dapatkan dan) besarkan susah payah. Kita bisa melihatnya sebagai bentuk syukur dan perwujudan rasa bahagia. Sejatinya saya pun bahagia melihat wajah polos merah menghias timeline.

😄

*Ditulis 7 April 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...