Langsung ke konten utama

Memiliki Anak

Di sebuah komentar akun twitter yang muncul di timeline saya, seorang perempuan dengan tenang menyatakan bahwa dirinya tidak ingin memiliki anak meski usia pernikahannya sudah 5 tahun. Detik pertama saya terdiam, meresapi setiap kata demi kata perempuan tersebut. Tidak ada yang salah. Muncullah berbagai asumsi dalam kepala saya. Rasa penasaran membuat saya scroll komentar lain yang jumlahnya puluhan. Membaca komen demi komen begitu nano nano. Antara yang support dan menyayangkan cukup imbang. Namun selalu ada doa yang menyejukkan diantara itu semua.

Menyalin kalimat dari seorang penulis, "Orang tua sudah selayaknya tidak mewariskan luka batin kepada anak-anak mereka". Anak-anak yang lahir sudah semestinya mendapatkan kasih sayang, didikan dan asuhan yang tepat dari orang tua mereka. Bukannya bentakan, tuntutan atau pelampiasan emosi yang timbul dari pengalaman sehari-hari. Sebagai orangtua, kita tidak dapat terlepas begitu saja dari pegalaman masa lalu. Bagaimanapun pengalaman tersebut membentuk karakter kita. Ada kesedihan, kekecewaan, kehilangan, ketidakberdayaan, dan sebagainya yang turut serta dalam batin setiap orangtua. Ada yang berhasil menerima pengalaman tersebut menjadi bekal yang berguna bagi kehidupan mereka sekarang. Sayangnya ada yang belum berdamai dengan luka batin mereka hingga masanya memiliki keturunan.

Perempuan tersebut sudah menikah selama 5 tahun dan berkomitmen dengan pasangannya untuk tidak memiliki anak. Keduanya baik-baik saja hingga hari ini. Bahagia dan tenang dengan pandangan hidup yang mereka miliki. Mereka tidak mengatakan "tidak ingin memiliki anak sendiri". Mungkin nanti ada saatnya mereka ingin punya anak.

Pro kontra komentar yang menanggapi sikap mereka di dunia nyata begitu nyaring terdengar. Ia menyadari bahwa komentar tersebut tidak bisa tidak mereka dengar. Selalu ada celah untuk memandang mereka sebagai pihak yang aneh, salah atau gak lumrah. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, keduanya hidup harmonis. Tidak ada tuntutan untuk segera memiliki anak. Ketika saya mencoba untuk bergabung dengan netizen lain, ia menanggapi dengan santai dan terbuka. Mungkin sudah terbiasa dengan doa dan cibiran meski tidak sedikit yang menyemangati atau mendukung.

Anak adalah wewenang mutlak dari Allah. Cerita tentang penantian anak selama belasan tahun banyak tersebar didunia maya. Sungguh kesabaran yang luar biasa bagi mereka yang tetap bersyukur dan bahagia dalam menanti seorang buah hati. Teman-teman saya beruntung karena lekas memiliki anak dalam setahun dua tahun pernikahan mereka. Apakah mereka sudah siap? Saya tidak tahu. Semoga siap dengan tanggungjawab sebagai orangtua untuk mendidik dan mengasuh dengan sebaik-baiknya.

Bila perempuan tersebut merasa belum siap, banyak orang yang belum siap tetapi berani untuk mengikhtiyarkan punya anak. Apakah mereka berpotensi mewariskan luka batin kepada anak mereka kelak? Kita tidak pernah bisa menebak apa-apa yang diluar kuasa kita. Orang yang berkata siap, belum tentu benar-benar siap tetapi mereka berani. Orang yang berkata belum siap pun mungkin justru jauh lebih siap menghadapi segala macam konsekuensi. Mbak-mbak yang dipanggil Kak Cib memandang bahwa pernikahan bukan tujuan, melainkan cara. Untuk hidup lebih bahagia dan bermakna. Menyadari setiap keputusan yang diambil menjadi begitu penting bagi pasangan, mbak Cib berhasil mengkomunikasikan pandangannya kepada suami. Well, mereka menikmati hidup tanpa harus memenuhi tuntutan masyarakat yang memang belum menjadi kebutuhan mereka berdua.

Be a wise 🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...