Langsung ke konten utama

Mindset

7.56 pm

Keponakan saya memasuki tahun ketiga di sekolah dasar. Orang tuanya terbiasa memintanya belajar pada malam hari. Minimnya buku referensi yang dimiliki membuatnya berinisiatif untuk mengerjakan soal-soal latihan di lembar kerja siswa. Hal tersebut ternyata tidak disukai guru kelasnya. Murid tidak diperkenankan mengerjakan soal latihan dirumah atau sebelum ada perintah mengerjakan. Alasannya karena guru biasa menggunakan soal tersebut untuk mengisi jam mengajar. Alih-alih memberikan tugas di kelas, guru mengobrol didepan kelas. Bukan hanya saya yang gemas, orang tuanya pun menyesalkan kondisi tersebut.

Wali murid sekolah keponakan saya mayoritas bekerja sebagai buruh pabrik. Beberapa diantaranya berdagang di pasar, berjualan keliling atau membuat tenda di pinggir jalan. Saya tahu bagaimana lingkungan orang tua dan murid yang bekerja sebagai buruh. Mereka bukan orang berpendidikan tinggi yang bisa meminta anak-anaknya menjadi polisi, dokter, perawat, desainer, insinyur, tentara, atau pengacara. Bahkan ketika ada label "anak buruh ya paling jadi buruh", orang tersebut tidak akan tersinggung. Karena mungkin sedikit saja yang berusaha sungguh-sungguh mengubah nasib keturunannya. Sedangkan yang bernasib baik bisa membuat perekonomian keluarga meningkat lebih sedikit lagi jumlahnya.

Kondisi sosial ekonomi murid seharusnya menginspirasi guru untuk mendukung perkembangan prestasi siswa. Anak presiden tidak selalu menjadi presiden. Anak buruh pun tidak selalu menjadi buruh. Hanya karena mereka anak buruh yang penghasilannya pas-pasan, guru tidak berhak memutuskan harapan dan cita-cita murid. Pendidikan adalah jawaban dari segala permasalahan sosial ekonomi. Guru adalah instrumen yang memegang peran sentral bagi pengembangan diri murid. Dengan guru yang mengerti tugas pokok dan fungsinya dalam permasalahan ekonomi, orang tua memiliki harapan atas kehidupan yang lebih baik melalui anak-anak mereka.

Usia 8 tahun merupakan masa dimana anak-anak mengakses sebanyak-banyaknya informasi. Mereka melihat bagaimana guru mengajar di kelas dan mengingatnya sepanjang hidup mereka. Di saat besar dan dewasa mereka akan mengingat "Guru A mengajarnya begini, begitu. Sering meninggalkan kelas dan menyuruh murid mengerjakan tugas", "Guru B sangat galak. Murid berbicara di kelas langsung dikeluarkan atau dihukum", dan seterusnya. Anak-anak pun merekam seluruh karakter orang tua di rumah. Mereka akan membongkar ingatan mereka saat menemukan persoalan terkait. Dewasa nanti mereka akan berseloroh dengan teman-teman sekantor tentang guru mereka. Apa yang sudah kita berikan untuk murid di masa depan mereka? Ajaran yang benar pun belum tentu diterapkan dengan benar oleh mereka. Apalagi teladan dan contoh yang kurang baik.

Jika kehidupan mereka kedepan jauh lebih baik dari generasi sebelumnya, kita telah melakukan sesuatu yang berguna bagi mereka. Namun jika pada akhirnya kehidupan tak semanis harapan dan cita-cita, setidaknya kita berusaha menumbuhkan bibit-bibit tersebut dengan menyiraminya agar tetap hidup.

14 September 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...