Langsung ke konten utama

Undangan dan Mengundang

Pagi ini pembicaraan seputar kabar pernikahan sedikit menggelitik di akal pikiran. Saya menanyakan perihal undangan dari teman SMA kepada teman sebangku. Awalnya dia bertanya-tanya kemungkinan alasan tidak diterimanya undangan tersebut. Bisa jadi calon mempelai tidak mengundang semua teman satu kelasnya karena sedang merantau. Atau sebab lainnya seperti lupa karena persiapan pernikahan menyita banyak energi dan pikiran. Setelah berkelakar ini itu dan memikirkan hal lain dia merasa bersyukur. Jatah 1 undangan tersalurkan untuk susu anak. Dia lebih realistis mengira bahwa calon mempelai tidak tahu dirinya sudah kembali ke kampung halaman.

Yang mengganjal adalah pesta pernikahan seorang teman sekelas yang simpang siur kabarnya. Yang ditanya tidak pernah menjawab dengan pasti kapan waktunya. Selalu menghindar dan menyediakan jawaban yang menyebalkan. Akhirnya teman saya gondok sambil mengomel di chatt yang dia tulis. Entah karena dia menganggap pertemananya cukup dekat atau hanya ingin tetap berinteraksi (*eksis) dengan teman sekolah.

Dua pernikahan yang merupakan kabar bahagia bagi teman sekelas seyogyanya menjadikan komunikasi lebih berkualitas. Dimana kabar satu teman menjaga keberlanjutan percakapan di grup sosial media. Masa sekarang ditandai dengan kabar pernikahan. Sesekali diselingi wajah-wajah lucu menggemaskan dari mereka yang menikah lebih dulu. Akan ada masanya dimana setiap orang unjuk kesuksesannya. Si A sudah membeli kendaraan roda empat. Si B sudah mengantarkan anaknya masuk SD. Si C, Si D dan seterusnya.

Kembali lagi kepada jengkelnya teman sebangku saya. Rasa jengkelnya ibarat dalam kisah percintaan disebut 'bertepuk sebelah tangan'. Dimana seseorang yang ingin menunjukkan perasaannya ternyata ditolak. Sakit? Tentu. Tetapi apakah itu akan menghambat hidupmu? Saya pikir kita akan melupakan hal-hal yang tidak terlalu penting bagi kita. Ditolak tidak selalu hadir dalam percintaan. Dalam keluarga, ada anak yang ditolak orangtuanya saat meminta dibantu mengerjakan PR. Di sekolah, ada murid yang dibiarkan begitu saja ketika kelakuannya diluar kendali. Di tempat kerja, ada teman yang berusaha join dengan kelompok tertentu tetapi selalu diacuhkan dan tidak pernah dimintai pendapat. Penolakan selalu ada disekitar kita. Kapanpun dan dimanapun. Pada kasus teman saya, dia ditolak calon mempelai (*sebenarnya sudah akad nikah) dengan tidak memberinya kabar berita pesta pernikahan.

Berhubungan dengan teman memang ada tingkat kedekatannya. Ada yang hanya kenal nama. Ada pula yang setiap hari chat di handphone. Ada yang rela datang jauh-jauh untuk mengunjungi temannya. Ada pula yang tidak saling bertemu meski satu kota.

Kekecewaan teman saya karena tidak diundang dan tidak dianggap sebenarnya wajar. Dia memandang 'kita teman, sudah selayaknya saling memberi kabar. Apalagi ini berita besar. Apa salahnya mengirim undangan walau via inbox?'. Dia sangat menghargai undangan dari temannya. Sesederhana apapun pesta pernikahan yang digelar. Dia merasa senang bertemu dengan teman lama sambil bercengkrama tentang kehidupan sekarang.

Teman semacam ini layak dipertahankan sampai kakek nenek. Mereka tidak menetapkan standar yang tinggi dalam pertemanan. Bahkan cenderung royal. Kelemahannya mungkin rasa kepemilikan yang terlampau besar. Sehingga hal mengecewakan baginya akan dianggap sesuatu yang besar dan penting. Padahal ini hanya pesta pernikahan. Hidup akan terus berlanjut. Akan ada anak-anak yang lahir. Kemudian masa kanak-kanak hingga mereka menikah.

Orang yang menikah punya harapannya masing-masing mengenai konsep pernikahan mereka. Teman sekelas yang lain tidak mengadakan resepsi. Yang lain rela mengadakan pesta yang wah demi momen sekali seumur hidup. Perihal undang mengundang pun demikian. Ada kendala teknis seperti lupa, terlalu sibuk dengan waktu yang mepet atau mereka tahu teman-temannya tidak ada dirumah. Perkara yang sederhana bukan?

Ini bukan perkara yang hebat lagi prinsipil. Setiap hari kita mungkin menjumpainya disekitar rumah. Namun kita bisa memilih untuk menganggapnya sebagai bumbu kehidupan. Ada bumbu yang pedas menggoda. Ada yang manis menggigit. Semuanya enak. Kita diminta untuk menikmatinya. Jangan sampai terlalu banyak cabai yang akhirnya membuat perut mulas atau terlalu banyak gula yang akhirnya terkena diabetes. Na'udzubillah.

The last, semoga mereka yang menggenapkan separuh keimanan bisa menggenapkan separuh keimanan lainnya dengan taqwa yang sebenar-benarnya serta sakinah mawaddah dan warahmah kehidupan rumah tangganya. Aamiin allahuma aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...