Langsung ke konten utama

Pesan Kematian

Ketika sedang melihat timeline twitter ada sebuah postingan yang menyebut kamboja. Bunga yang lebih akrab dilihat orang didaerah pemakaman ini memang yang saya maksudkan. Siapapun akrab dengan bunga cantik berwarna putih dengan aksen yang berbeda-beda. Ada yang putih dengan aksen kekuning-kuningan. Ada pula yang putih dengan aksen merah muda. Keduanya sama menawannya. Apalagi jika di potret oleh fotografer profesional. Kamboja yang teronggok di atas tanah basah pun mampu membuat mata terpana. Tidak hanya di area pemakaman, kamboja dapat ditemukan di taman-taman kota atau taman bunga.

Di Ende, Flores saya melihat bunga kamboja di sebuah rumah di depan gang basecamp. Satu pohon kamboja yang berguguran bunganya membuat diri merasa terbawa suasana. Penampakan pohonnya berbatang keabu-abuan seperti kering tapi masih bisa tumbuh dengan baik. Daunnya yang hijau lebih sering rontok dan menyisakan bunga yang berjatuhan setiap hari. Saya tidak tahu filosofi bunga kamboja di pemakaman. Sebagian besar pengurus pemakaman muslim di Indonesia menumbuhkan kamboja di banyak sudutnya. Kami menyapa yang punya rumah dengan panggilan No'o. Dalam bahasa Indonesia kita biasa memanggil Bibi, Bulek, Budhe atau Tante pada nyonya rumah. No'o selalu menyapa tiap saya berangkat ke sekolah. Pun ketika saya pergi atau pulang dari bepergian. Beliau ramah dan sering menawari kami untuk mampir sambil mengobrol.

Dibawah kamboja No'o ada makam yang setiap hari kami lewati. Letaknya cukup strategis, di halaman rumah yang tidak memiliki taman atau tanaman lain kecuali kamboja tersebut. Setiap hari kami melewatinya dan melihat kamboja yang bunganya berjatuhan di atas makam. Sesekali pikiran berkelana memikirkan mati ketika melihat bunga-bunga itu berserakan di tanah. Kamboja adalah pengingat kematian. Bahwa segala yang hidup akan mati pada akhirnya seperti gugurnya bunga dan daunnya yang sudah layu. Manusia akan mati. Tanpa tahu kapan, dimana dan bagaimana.

Pertama kali melihat makam dipekarangan rumah, kami sempat parno. Antara berpikir bahwa hal tersebut aneh dan perasaan takut akan kejadian-kejadian mistis. Setelah melihatnya ada di sebagian besar rumah warga, kami mulai terbiasa. Meskipun ada rasa was was ketika mendengar upacara kematian di sebelah rumah saat bertandang ke salah satu kampung. Lonceng Romo begitu nyaring di telinga saat prosesi pemakaman. Perbedaan keyakinan tidak meluluhkan rasa aneh dalam diri. Kami tidak mengimani apa yang mereka yakini. Mereka pun demikian. Hanya saja, yang namanya kematian tetaplah kematian. Menjadi pengingat setiap yang orang bahwa hidup akan diakhiri dengan mati.

Saya berkesempatan mengunjungi Kampung Wolotopo yang 100% Katholik. Jaraknya cukup dekat dari kota kabupaten yaitu sekitar 15 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Kami melihat makam di teras rumah, di samping rumah atau di pekarangan. Bentuknya pun sudah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk duduk-duduk di kala siang hari. Nisannya ada yang dihias dengan keramik warna warni dengan gambar Bunda Maria ditengahnya. Ada pula yang polos dan cukup menggunakan adukan semen. Awalnya merasa kikuk untuk duduk bercengkrama diatas makam sesepuh. Karena mereka terbiasa dan menganggapnya tidak apa-apa, kami pun berusaha tidak kikuk lagi.

Lain di Ende, lain pula di Tana Toraja. Saya menginap di rumah seorang kenalan selama 2 minggu di Enrekang yang kebetulan keturunan Toraja, Sulawesi Selatan. Sambil menanti datangnya Idul Fitri, keluarga teman saya berbaik hati membawa saya ke Toraja. Kunjungannya hanya satu malam dan berpesiar hanya ke bukit Yesus dan pasar tradisional di Makale. Tana Toraja memiliki pemandangan yang menakjubkan. Sejuk dengan hutan tropis di kanan kiri. Selain itu persawahan yang menguning begitu semarak menyambut siapapun yang datang. Rumah khas orang Toraja bernama tongkonan yang secara khusus digunakan untuk menyimpan jenazah keluarga. Teman saya berkata 'kami susah payah kerja hanya untuk mempersiapkan upacara kematian'. Ternyata upacara kematian tidaklah semurah yang dibayangkan. Butuh ratusan juta untuk mengurus jenazah keluarga sampai benar-benar dimakamkan. Adik teman saya menceritakan bahwa jenazah kerabat yang baru meninggal disemayamkan selama berhari-hari didalam rumah. Sebelum disimpan di dalam tongkonan atau sembari menunggu upacara kematian kolektif yang diselenggarakan masyarakat adat setempat.

Setelah melihat makam di teras rumah di Ende, kemudian melihat tongkonan yang diperuntukkan bagi jenazah keluarga di Tana Toraja, saya merasa begitu relijiusnya masyarakat kita. Kita betul-betul memaknai kematian sebagai tahap kehidupan yang sakral. Diiringi dengan doa-doa memohon ampunan dan upacara yang khidmat, kita diminta untuk sadar akan panjangnya proses kehidupan. Bahwa setelah kematian, ada masa untuk benar-benar menghadap Tuhan yang Maha Pencipta. Mereka yang telah pergi meninggalkan kita selalu membawa pesan 'innalillahi wa ina ilaihi roji'un' — sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada Nya lah kami kembali — Bagaimanakah kita yang masih hidup menerima pesan itu? Semoga ibadah dan doa-doa yang kita panjatkan diterima Allah yang Maha Rahiim.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...