Langsung ke konten utama

Perempuan #2


Kini ia ada disini dengan rupa yang semakin menunjukkan usia separuh baya. Ia lebih banyak memendamnya atau marah-marah menjengkelkan jika sedang ingin diperhatikan. Ia bisa mengeluh dengan cinta yang terbagi tidak adil. Kadang kekanak-kanakan bila dipikir. Tapi begitulah adanya, ia tidak belajar mengungkapkan cinta dan keinginan disekolahnya dulu.

Sepasang bola mata ini terkantuk-kantuk mengartikan cintanya yang tak kunjung termaknai dalam baris kalimat. Kemana harus dimuarakan saat karya ini tak bisa nyata-nyata ditunjukkan karena merasa malu. Yang kuingat, waktu itu tubuhku tak bisa menopang kelelahan ini. Ia terjaga untuk sekadar memastikan bahwa aku baik-baik saja. Sekadar memberi selimut untuk menghilangkan rasa dingin. Ia memilih untuk mengkhawatirkan daripada mempercayakanku pada orang lain.

Ia ada disini tanpa pernah mengecup keningku lagi. Tanpa pernah memelukku lagi. Bukan karena rasa itu lenyap. Bukan. Mungkin karena usiaku sudah terlampau dewasa untuk dimanjakan dengan belaian.atau mungkin cinta yang ia yakini tak mampu dibaca oleh kode atau simbol apapun didunia. Rasanya percuma untuk menerjemahkannya dalam bahasa ilmiah. Karena sekali lagi, ia tidak belajar cinta dan percintaan dalam hiruk pikuk kelas.

Ia sesekali memintaku untuk memasukkan benang-benang ke lubang jarum. Kadangkala memintaku untuk membacakannya tulisan mungil dilembar kertas. Kendati pun paham apa yang dilakukannya satu hari itu, tetap saja ketika fajar mengantarkan hati ini untuk tunduk diatas sajadah ia telah terjaga. Ia membangunkan. Ia memasak. Ia membersihkan rumah. Ia membuka jendela.

Adakah rasa cinta itu masih tertunda hingga mengendap diawan dan jatuh sebagai titik-titik hujan? Mungkin saja Tuhan menguji dengan keraguan. Bagaimana bukan cinta jika masih saja menangis karena kerinduan yang tertahan? Bagaimana bukan cinta jika sakit itu juga terasa manakala ia tersakiti, sedih dan kebingungan? Aku tak hendak menerka karena jawabannya sudah mendekat kepadaku bahkan sebelum aku bertanya.

Inilah cinta yang terkadang malu-malu untuk diungkapkan dalam bentuk kata. Cinta untuknya diam-diam meratap dan berarak disanjungkan dalam bentuk doa. Biar kepayahannya meluluhkan kekuatan lahir, Tuhan menguatkannya lewat senyumanku. Beribu pujian pun tak setara dengan tindakannya. Namun sesekali amat perlu agar ia tersadar bahwa kepayahannya membangun sosok manusia benar-benar luar biasa.

Terimakasih ibu. . .
Sosokmu tidak layak untuk diragukan dan disetarakan dengan apapun karena ketika aku mencari pembanding, segala yang ku lihat yang kudengar dan yang kurasakan tiada lebih dashyat dari apa yang kau beri. .
Bukan melemahkan sosok pendampingmu, tetapi kalian tidak bisa dibandingkan begitu saja dalam kalimat. Kalian memiliki tempat yang berbeda dan luar biasa sekali Tuhan yang memberikan ruang dihati ini agar bisa memeluk cinta kalian. .

Dan Tuhan, apakah ia baik-baik saja?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...