Langsung ke konten utama

Tantangan Lembaga Kemahasiswaan Unnes di Tahun 2012


Sekadar mengingat apa yang disampaikan salah satu kawan seperjuangan di BEM Seluruh Indonesia. Ada beberapa tingkatan dalam gerakan mahasiswa di Indonesia yang sampai saat ini berkembang. Lembaga Kemahasiswaan sebagai basis gerakan mahasiswa didalam kampus memiliki empat tingkatan. Yang pertama gerakan mahasiswa sebagai komunikator, gerakan mahasiswa berfungsi menyambungkan mahasiswa dengan birokrat. Segala yang terjadi baik ditataran fakultas maupun universitas sekadar dikomunikasikan oleh Lembaga Kemahasiswaan kepada birokrat. Fungsi yang kedua yaitu advokasi, gerakan mahasiswa menyalurkan aspirasi mahasiswa dan “memperjuangkannya” diranah yang lebih tinggi. advokasi yang seringkali dilakukan yaitu tentang SPL, biaya PPL-KKN, skripsi, dan wisuda. fungsi yang ketiga yaitu instrumentasi konfrontasi dimana gerakan mahasiswa aktif dalam melakukan advokasi dengan berbagai eklektasi/mix and match berbagai strategi. Yang terakhir yaitu penegakan peraturan. Secara tegas gerakan mahasiswa berusaha menegakkan peraturan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan amanah UUD ’45. Gerakan mahasiswa di Unnes dapat dikatakan masih berada ditataran advokasi karena baru melangkan pada tahap lobbying kebijakan karena secara umum Lembaga Kemahasiswaan yang ada belum mampu menyentuh permasalahan dasar sehingga gerakan yang diusung mahasiswa belum sanggup menerapkan instrumentasi konfrontasi.

Terpilihnya wakil-wakil mahasiswa dalam Lembaga Kemahasiswaan periode 2012 memberikan PR berharga yang masih berkutat pada persoalan klasik seputar kampus. berikut dipaparkan persoalan yang dihadapi Lembaga Kemahasiswaan:
1.       Kaderisasi dalam lembaga kemahasiswaan merupakan segi fundamental dimana kokohnya fungsionaris ditakar secara kasat mata. Profesionalisme internal biasanya terukur dari standar minimal seorang kader. Jika standar minimal seorang Ketua BEM Fakultas adalah pernah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (*atau yang setara dengan itu) maka sudah selayaknya hal tersebut diterapkan kepada fungsionaris sebagai perpanjangan tangan dari pimpinan Lembaga Kemahasiswaan di tingkat fakultas. Selama ini standar kaderisasi sedikit dilupakan pimpinan lembaga sebagai akibat dari kesenjangan antara kebutuhan kader dengan realita ketersediaan kader di lapangan. Kaderisasi menjadi tantangan Lembaga kemahasiswaan yang pertama dan mendasar.
2.      Tingkat partisipasi mahasiswa dalam memasuki Lembaga Kemahasiswaan semakin terlihat memprihatinkan dari tahun ke tahun. Animo yang minim dari mahasiswa disebabkan banyak faktor diantaranya minat mahasiswa yang rendah terhadap kegiatan Lembaga Kemahasiswaan. Selama ini kegiatan yang ditawarkan oleh lembaga kemahasiswaan kurang menarik perhatian sehingga mahasiswa pun enggan ‘menengok’ kegiatan tersebut. tantangan kedua ini menuntut totalitas dan profesionalisme Lembaga Kemahasiswaan untuk terus berbenah diri dan kreatif mengembangkan inovasi kegiatan sehingga mampu mengikis apatisme mahasiswa.
3.       Sebagai kampus yang mulai gencar menunjukkan eksistensi, Unnes memiliki harapan untuk memiliki nama dikancah nasional. Dengan prestasi tingkat nasional baik di bidang akademik dan non akademik sudah menjadi modal untuk go public bagi Unnes. Lembaga Kemahasiswaan dirasa urgent untuk melakukan hal serupa dengan persiapan sedini mungkin. Mengapa perlu? Karena dengan posisinya dimata masyarakat yang cukup eksis, Unnes sudah memiliki kepercayaan atau trust. Sekalipun berbagai kendala menghadang fungsionaris LK untuk melebarkan sayap. Namun sekali lagi hal itu tidak lantas membuat mereka stagnan dengan posisi saat ini.

Manajemen internal, format gerakan pembaharuan di tahun 2012 dan etika dengan birokrasi juga bukan hal sepele untuk digarap pimpinan Lembaga Kemahasiswaan. Dengan berpijak pada kepentingan mahasiswa pada khususnya dan rakyat pada umumnya, kesemangatan fungsionaris LK perlu dipertahankan selama 2012. Dari Unnes untuk Indonesia Tersenyum yang siap membangun manusia Indonesia yang madani. amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...