Langsung ke konten utama

Perempuan #1


Cinta ini menggelisahkan aku, membuat aku gila
Andai kita terpisah mati rasa-rasaku
cinta ini membodohkan aku, menutup akal sehatku
andai engkau tak disisi risau isi jiwaku  

Ia tidak menemaniku bermain seperti anak-anak lain memainkan tali, mengantarkan ke sekolah seperti anak seusiaku, atau membelikan boneka-boneka mungil layaknya anak perempuan. Perempuan-perempuan yang bercengkrama setiap pagi pun berkelakar tidak mengenakkan. Mereka yang sangat peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya dan menaruh perhatian lebih padaku. Masa lalu yang sudah usang pun seringkali dibicarakan meski aku tak sekalipun menanggapinya dengan seksama. Sambil berlalu biasanya kubalas senyuman datar karena masa lalu yang mereka bicarakan berada diluar kendaliku. Masa lalu siapa dan apa? Aku tidak diberikan kuasa untuk mengetahuinya sampai belasan tahun lamanya, lebih tepatnya tidak pernah mendapatkan jawaban memuaskan dari siapapun.

Saat itu tidak sempat bertanya untuk apa dan mengapa. Saat itu disuapi oleh perempuan lain yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Saat itu perannya digantikan orang lain. Saat itu aku pun tak sempat berpikir tentang rasa. Tak cukup akal untuk berdiskusi ikhwal kepergian, tuntutan dan keadaan. Perempuan itu memberikan hatinya, aku begitu menikmati tanpa sadar keberadaannya. Menerima atau menolak menjadi hal yang sangat bias. Perempuan itu tidak meminta apa-apa, tapi aku melihatnya mengharapkan sesuatu.

Sempat menyalahkan keadaan, yang menjauhkanku dengannya tanpa perasaan. Mengapa harus pergi tatkala diri ini butuh. Mengapa harus digantikan dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Terheran dan tak bisa apa-apa. Lagi-lagi keadaan yang berkuasa sedang waktu terus meminta keputusan. Menjatuhkan pilihan dan memisahkan untuk sementara. Jauh, jiwa dan raga.

Aku hanya ingat beberapa hal. Aku bermain dengan teman-teman sebayaku. Bersekolah sewajarnya anak-anak yang lain. Aku pun tidak memikirkan apa yang tengah terjadi. Hanya tahu tanpa pernah diberitahu lebih pasti. Suatu saat aku bertanya mengapa dan ada apa. Sayangnya jawaban itu tersimpan rapat. Alasan klasik yang mereka berikan cukup membuatku tertidur pulas. Akhirnya belajar mencintainya dalam kisah yang dituturkan guru dikelas tentang ia dan kemuliaannya.

Hingga kini ia belum memenangkan hati ini sepenuhnya dan mungkin ia tak pernah berpikir untuk memenangkannya karena baginya ini bukanlah persaingan, pertandingan, atau perjudian. Ini tentang cinta setulus jiwa yang tak hanya cukup diungkap lewat kata. Tidak bisa terdeskripsikan cintanya dengan detail karena bahkan amarahnya menyisakan doa kebaikan. Bagaimana mengungkapkan cinta jika setiap pikir, rasa dan tingkah itu dilungkupi cinta?

Mungkin ia merasakan sakitnya, kelelahan dibawah tekanan dan merindukan kehidupan yang pada umumnya. Aku bahkan tahu ia kelelahan dalam jauh. Menahan keterasingan yang menyesakkan sementara kepulangan bukan hal sepele dan mudah terjadi. Ia bertahan lebih lama dari yang dikira. Sayangnya aku tidak bisa membedakan mana rindu, mana butuh. Peran itu sekali lagi digantikan oleh orang yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Bukan siapa-siapa. Hanya saja aku tidak bisa menolak kehadirannya. Entah menerima atau tidak peduli. Siapa yang hendak menaruh perhatian dengan anak ingusan yang berseragam putih merah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...