Langsung ke konten utama

Belajar dari Ketiadaan

Beberapa hari terakhir, saya terinspirasi oleh cerita dari teman saya. Ada yang menceritakan tentang kebiasaannya meminum minuman keras selagi mudanya. Ada yang bergelut dengan godaan hal-hal yang tidak baik. Ada pula yang berjuang demi mendapatkan sesuap nasi ketika masih bersekolah. So, i have my story to tell and i wish you all will inspired from it.

Di Flores yang eksotis dengan pemandangannya tak melulu seindah yang dibayangkan kedua mata. Ketersediaan air bersih di beberapa perkampungan masih menjadi kendala besar tiap kali musim kemarau. Di daerah pesisir pantai, masyarakat mengandalkan mata air yang terbatas. Di daerah pegunungan ternyata ada yang kesulitan air meskipun berada di gunung yang berudara sejuk dan memiliki banyak pepohonan. NTT yang tersohor dengan propinsi kepulauan kecil dan sulit air ternyata benar adanya karena saya mengalaminya sendiri.

Mereka menyiasati ketiadaan air dengan mengurangi intensitas mandi untuk menghemat air. Selain itu mereka mengambil air dari mata air yang jaraknya berkilo-kilo dari rumah mereka. Situasi sulit yang menjadi langganan sepanjang hidup tak menyurutkan semangat hidup mereka. Setiap keluarga harus bertahan hidup dengan setiap kesulitan yang mereka hadapi. Setiap orang mau tidak mau harus memilih untuk survive.

Membandingkan antara kampung halaman dan Flores memang begitu tidak fair. Saya masih melakukannya (*membandingkan) bahkan sampai sekarang. Di Flores, mati listrik sudah menjadi langganan setiap hari. Bahkan ada kampung yang hanya memiliki genset yang menghidupkan lampu selama 2 jam dalam 24 jam. Tetua adat yang mereka menyebut mosalaki, menyalakan televisi saat genset menyala dijam penayangan sinetron favorit.

Di kampung saya mudah sekali menemukan gerai modern di sudut-sudut jalan. Sedangkan di Flores, untuk menikmati es dung dung saja harus menunggu penjualnya naik gunung seminggu sekali. Satu hal yang saya garis bawahi dari orang Flores adalah mereka tahan banting terhadap banyak situasi sulit. Sejak kecil, meskipun bukan dari keluarga kaya saya tidak kekurangan hal-hal seperti air, listrik, dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Pun saya tidak berlebihan dalam hal konsumsi kebutuhan hidup. Namun daya juang saya masih kalah jauh dari mereka yang terbatas listriknya, terbatas airnya, terbatas sinyalnya, dan keterbatasan barang pemuas kebutuhan. Mereka yang serba dalam keterbatasan saja bisa bertahan hidup, mengapa saya tidak bisa melakukan lebih banyak hal? Saya menerima akses listrik full 24 jam, bisa menemukan warnet dan warung atau kios dengan sangat mudah, bisa seenaknya memilih provider yang ramah dikantong dan kemudahan akses-akses lainnya.

Mengapa saya masih mengeluh ketika mati listrik, membuang-buang air sedangkan mereka justru masih bisa tertawa-tawa meskipun tidak mandi? Kita memiliki segala yang kita butuhkan apalagi di kota yang sebesar ini. Kita memiliki kendaraan yang 24 jam nonstop, memiliki akses atau kemudahan dalam memperoleh kebutuhan sehari-hari. Kita punya semuanya. Namun kita masih mengeluh dan mengeluh.

Itulah hal yang menggelitik benak saya sampai sekarang dan saya masih belajar untuk bersyukur dengan semua nikmat. Saya masih belajar untuk tidak cengeng dan lebih mandiri. Yang lebih penting lagi saya membutuhkan banyak orang untuk belajar semua itu. Tentang kerja keras, rasa bersyukur, daya juang dan sebagainya agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...