Langsung ke konten utama

Menyasar Pisang

Selama seminggu belakangan saya melirik pisang yang dijual dipinggir jalan. Selama itu pula saya menimbang-nimbang apakah akan membeli pisang atau tidak. Berjalan setiap hari melewati pisang yang dijajakan penjual buah itu membuat saya semakin berpikir. Sebenarnya saya hanya ingin makan satu pisang, tetapi kalau membelinya satu sisir tentu akan mubadzir. Ide untuk menghabiskan pisang satu sisir dalam 2 atau 3 hari pun saya urungkan.

Setiap hari, ketika saya melewatinya saya berhasrat untuk membelinya. Biasanya saya mampir ke rumah kakak kala akhir pekan. Hampir saya wujudkan niat tersebut dan menghubungi kakak saya. Tanpa disangka, sekitar pukul 6 sore kemarin atasan mengirim pesan. Beliau meminta saya membawa pulang pisang yang dibawanya untuk HRD. Terlanjur pulang dan sudah dipastikan hanya saya yang ada dikantor sesore itu, beliau meminta saya untuk membawanya. Saya tidak menghitung jumlahnya dan memandanginya sejenak. Mungkin ada 7 pisang karena HRD berjumlah 7 orang. Saya tawarkan ke teman satu kosan, OB yang kebetulan lewat dan HRD yang satu komplek dengan saya. Alhasil saya memakan satu pisang seusai shalat maghrib, satu pisang dikala malam, dan satu lagi setelah bangun tidur pagi ini. Mengingat pisang yang sudah terlalu matang, saya pikir akan sia-sia kalau dibuang. Oleh karena itu saya putuskan untuk memakannya.

Teman HRD pernah mengatakan kalau feeling atasan saya kuat dan tajam. Beliau bisa memprediksi sesuatu sebelum terjadinya. Apa yang disampaikan sekarang, bisa saja terjadi beberapa waktu kemudian. Seperti saat briefing disuatu pagi. Beliau menyinggung permainan billiard. Siang hari ketika mengunjungi perusahaan di daerah Jakarta Utara beliau hampir tertawa terbahak-bahak menemukan hiasan dinding yang bernuansakan billiard. Sampai kebingungan itu dibawa ke kesempatan briefing selanjutnya, tawa itu masih renyah dan segar.

Kejadian pisang ini terasa aneh bagi saya. Diantara semua kebetulan yang terjadi disekitar beliau, entah karena alasan apa beliau membawa pisang ke kantor dan lupa untuk memberikannya kepada HRD. Teman satu tim saya pun tidak kembali ke kantor karena sudah terlalu sore untuk perjalanan bolak balik. Biasanya teman saya selalu stand by dengan saya sampai jam 6 lebih.

Malam itu saya tersenyum-senyum sendiri bahkan sampai saat ini. Memang tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semua ada alur cerita yang sudah Tuhan tuliskan dalam lauhul mahfudz. Kita yang menjalaninya terkadang bertanya dalam hati 'aneh ya' atau 'Tuhan asik banget sih. Baru juga kepengen, udah dikasih pisang aja'. Saya tidak berucap sama sekali soal pisang, Tuhan memberikan pisang. Apalagi jika mengucap satu permintaan yang jelas dan pasti. Pasti dikabulkan baik segera maupun ditunda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Toraja Eksotis

Ini cerita dari Tana Toraja, beberapa hari sebelum Idul Fitri. Semalam di Tana Toraja menikmati lanskap dataran tinggi. Vegetasi berdaun jarum dari pinggir jalanan membawa aroma sejuk. Suasana hijau menghiasi destinasi wisata internasional tersebut. Saya belum sepenuhnya percaya bisa menapaki daerah ini dengan tanpa hambatan berarti. Alhamdulillah 'alaa kulli hal, Allah memudahkan semua urusan saya disini. Itu pertolongan luar biasa dan terjadi berulang kali. Saya merasa, apakah pantas menerimanya? Nyatanya, Allah-lah yang paling pemurah atas semua pemberian Nya. Kemarin disuguhi jalangkonte (pastel) dan es campur untuk iftar. Sayuran khas mereka lumayan enak dilidah. Entah namanya apa dan bagaimana mereka tumbuh. Mungkin kalau saya tahu tidak akan sanggup memakannya. Seperti soto kuda di Jeneponto yang membuat saya enggan mencicipinya. Aromanya terburu-buru memenuhi kepala dan perut saya bahkan semenjak dipotong-potong dan masuk panci besar. Saya pikir, ini yang dinamakan mabuk ...