Langsung ke konten utama

Bahasa Asing

Beberapa orang teman atau kenalan saya sudah mengelilingi Eropa. Mereka memperoleh beasiswa studi lanjut atau mencari nafkah dengan bekerja. Yang pergi ke negara seperti Australia, Amerika, Jepang, kebanyakan karena berkah kuliah. Sisanya berlibur ke Malaysia, Singapura atau Thailand untuk pengalaman dan refreshing. Orang Indonesia senang sekali bepergian ke luar negeri. Selain ingin mencoba obyek wisatanya, ada juga yang bepergian karena gengsi. Alasan kedua kurang mengenakkan sepertinya. Tetapi justru inilah yang melanda sebagian besar orang. Baik dengan tujuan domestik maupun mancanegara. Gengsi karena teman-teman pamer foto liburan di suatu tempat indah. Mupeng (muka pengen) melihat postingan kuliner aneh dari rekan kerja yang sedang piknik. Kualitas wisata/piknik/traveling/bepergian/liburan orang Indonesia masih seputar ingin dihargai. Katakanlah pergi ke Singapura agar bisa dibilang kekinian atau up to date. Meskipun ada beberapa yang benar-benar piknik berkualitas dengan mempelajari budaya setempat, kondisi sosial dan potensi yang ada dari obyek tersebut. Ini traveling atau penelitian? Hehe.

Pada saat kita mengunjungi suatu tempat asing kendala pertama adalah bahasa. Apakah orang lokal mampu berbahasa Inggris? Agen travell akan menenangkan kita dengan, "Tidak perlu repot, ada tour guide yang siap menjelaskan panjang lebar tentang destinasi yang kita tuju". Tour guide bertugas sebagai pemandu yang tugasnya meliputi hal-hal yang umum. Mengenai kehidupan orang lokal yang setiap hari berada disitu tentu akan berbeda perspektifnya dibandingkan tour guide yang bisa jadi sama-sama orang Indonesia. Penggunaan travel guide atau buku panduan untuk traveller sangat membantu jika digunakan dengan baik. Kita bisa mengajak orang lokal berbicara dengan panduan tersebut. Informasi yang didapat tentu tidak seluas yang kita bayangkan jika kita mengetahui bahasa mereka. Ketika menggunakan panduan, obrolan akan terarah sesuai dengan yang tertera dibuku. Lain halnya jika kita bisa berbahasa lokal. Tidak perlu banyak-banyak, asal tahu sedikit dan paham sopan santun. Obrolan tidak sekaku dalam buku panduan, kita pun bisa menanyakan hal-hal sederhana yang tidak ada di panduan.

Saya belajar bahasa Inggris sejak usia sekolah dasar. Proses itu dimulai pada kelas 4 dimana vocabulary yang digunakan sangat dasar dan sederhana. Pembelajaran itu terus berlanjut hingga pendidikan tinggi dan sampai sekarang. Dengan proses yang panjang itu belum juga membekali diri saya dengan kemampuan conversation yang bagus. Pronouncation masih salah disana sini, grammar tak tentu arahnya, dan sejauh ini saya belum berani mengambil tes TOEFL/IELTS. Beberapa jurusan  di kampus mensyaratkan lulus TOEFL dengan skor yang ditentukan. Beruntungnya jurusan saya tidak memberlakukannya.

Bagi saya bahasa bukan sekadar mata kuliah yang melengkapi transkrip nilai. Saat menyadari bahwa bahasa merupakan jembatan pertama dalam bersosialisasi, saya lebih bersemangat belajar bahasa asing. Sampai detik ini, bahasa Jepang beserta kanjinya sedang saya pelajari sedikit demi sedikit. Pengalaman belajar memang melelahkan tetapi hasil dari itu semua membuat saya bahagia. Saya mulai menghafal hiragana dan katakana dengan sungguh-sungguh pada akhir 2016. Saya masih sering lupa dengan huruf-huruf tersebut karena banyak variasi pengembangannya. Belum genap kemampuan hiragana dan katakana, saya memberanikan diri masuk ke kanji. Sembari menghafal keduanya, satu per satu kata dari kanji saya coba hafalkan. Jujur, awalnya agak merepotkan saat kita menghafal kata demi kata karena tidak semua kata dituliskan dengan hiragana dan katakana. Selain menyusahkan, ternyata belajar kanji lebih memudahkan dalam hal penulisan dan penerjemahan/pemaknaan kata.

Hari-hari saya dipenuhi dengan kanji dan hiragana. Sesekali diselingi dengan tenses dan membuka materi pada waktu SMA. Menyenangkan sekali. Dengan kapasitas otak yang semakin terbatas seiring bertambahnya usia, saya butuh waktu lebih lama untuk belajar lagi. Jika masih diberikan kesempatan untuk terus belajar, bahasa Arab dan Ibrani akan menambah kesibukan diantara kanji dan grammar. Mudah-mudahan Allah ridha dengan semua ikhtiyar ini. Aamiin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sombong dan Gosong

Pagi itu cuaca terasa sejuk berada di pedalaman Flores yang terbilang "udik" (*bahasa orang lokal). Agenda kami di dapur belum selesai dan menyisakan beberapa pekerjaan. Bayangan dapur di tlatah Flores mungkin tidak seperti kebanyakan dapur di kota besar. Di komplek asrama guru, teman saya tinggal dengan seorang ibu guru senior. Karena saya berkunjung, guru tersebut mengerjakan aktivitas lain kala itu. Waktu sudah menunjukan pukul 6 lebih. Murid-murid sudah meramaikan sudut sekolah dengan teriakan khas remaja. Di dapur yang terbilang kecil kami memasak dengan tungku. Oh ya, di pusat Kabupaten Ende kami jarang menemukan rumah yang menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar. Apalagi di pedalaman dengan oto yang tidak setiap hari lewat untuk mengantarkan warga ke pasar di pusat kota. Hari itu tugas saya cukup sederhana yaitu menjaga api agar tetap menyala. Di sebelah dapur ada ruang terbuka berbentuk panggung yang digunakan untuk mencuci sayuran dan perabot. Dapur utama pun ko...

Finally, I got the Professional Help

"Kalau tidak selesai sekarang, selamanya traumamu akan menemanimu dengan tanpa mengurangi rasa sakitnya". Trauma, sejauh apapun kamu meninggalkannya masih saja meninggalkan bekas yang samar-samar tapi tetap jelas terasa. Bahkan setelah lebih dari 20tahun kamu beranjak dari kehidupan masa kecil yang pelik. Tahun-tahun berganti dengan membawa pengalaman baru disetiap tahap perkembangan. Orang yang silih datang dan pergi serta wawasan yang semakin luas tentang hidup. Kamu beranjak sangat jauh setelah 20tahun tapi perasaan masih dengan yang lalu. Beberapa hal membuatmu menangis tanpa sebab, hal lain menguncimu untuk tidak menunjukkan eksistensi. Di usia yang sudah tidak muda lagi, 33tahun cukup berwarna dan memberikan banyak peristiwa berarti. Saya belum menikah saat itu dan saat ini. Memastikan semua situasi sudah saya lepaskan dan saya pikir sudah saatnya bertanggungjawab untuk peran yang lebih serius. Saya mau menikah dan menjadi istri atau ibu yang sudah selesai dengan masa l...

Mengantuk di Kelas?

Kejadian yang menimpa Guru Kesenian di Jatim melukai hati seluruh guru di tanah air. Duel yang berakhir maut tersebut memberikan kita renungan, tantangan sebagai seorang guru semakin sulit dan beresiko. Guru mencubit siswa di kelas bisa dilaporkan orangtuanya ke polisi. Siswa ditegur karena tidur saat jam pelajaran berlangsung, langsung mengajak duel. Pencabulan terhadap anak dibawah umur oleh guru langsung menuai reaksi keras bagi orang tua dan aktivis pendidikan. Apakah sekolah yang merupakan zona aman bagi anak dan generasi muda sedang mengalami masa-masa kritis? Saya sering menjumpai anak-anak yang merasa bosan dengan metode mengajar guru di kelas. Kalau mau fair memandang dari sisi siwa dan guru, tentu menjadi tantangan yang cukup sulit di jaman now ini. Semasa sekolah dulu, saya menjumpai guru yang tidak mengasyikkan ketika menjelaskan materi pelajaran. Beberapa diantara mereka seolah dikejar deadline materi demi materi. Yang lainnya kesulitan menjelaskan dengan keterbatasan kem...